Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Apa kau menyukainya?


__ADS_3

Wajah Rey pun berubah datar mendengar pertanyaan dari Yura. "Maksudku apa pekerjaan Kakak sudah siap hingga repot-repot menjemputku seperti ini?" Tambah Yura kemudian merasa salah bertanya.


"Ya. Tentu saja pekerjaanku sudah siap. Jika tidak maka aku tidak akan menjemputmu." Jawab Rey datar.


"Emh, Galang, Roy, Jeni. Karena suamiku sudah datang untuk menjemputku, kalau begitu aku pamit pulang bersama suamiku dulu." Ucap Yura.


Jeni dan Roy mengangguk mengiyakannya. Sedangkan Galang menatap datar pada Rey yang lagi-lagi datang merusak kebersamaannya dengan Yura. Padahal tanpa Yura ketahui setelah pulang dari peninjauan proyek ini Galang berniat membawanya untuk menikmati semangkok es krim di salah satu cafe yang terletak tidak terlalu jauh dari pembangunan Mall.


"Saya pamit dulu." Ucap Rey pada Galang, Roy dan Jeni. Tanpa menunggu Galang merespon perkataannya, Rey segera menarik tangan Yura untuk masuk ke dalam mobilnya.


Galang hanya bisa menatap nanar mobil bewarna putih milik Rey yang kini sudah melaju di hadapannya. "Sial!" Umpatnya pelan dengan kedua tangan terkepal. "Dia selalu saja datang merusak rencanaku!" Geram Galang.


Jeni yang sedikit mendengar umpatan Galang memilih diam seolah tak mendengarkan apa yang Galang katakan.


"Apa kita jadi pulang, Tuan?" Tanya Jeni pelan pada Roy.

__ADS_1


Roy mengangguk mengiyakannya dan menyuruh Jeni untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil. Sedangkan dirinya, Roy memilih tetap diam di posisinya sampai Galang masuk ke dalam mobil miliknya.


Galang menghembuskan nafas bebas beberapa kali di udara untuk menghilangkan rasa kesalnya saat ini. Setelah merasa cukup tenang, Galang pun segera masuk ke dalam mobil menyusul Jeni yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dari para dirinya.


*


"Sebenarnya Kak Rey ingin membawaku kemana?" Tanya Yura saat menyadari Rey tidak membawanya ke jalan menuju hotel tempat mereka menginap.


Rey hanya diam dan fokus pada kemudinya. Melihat suaminya yang tidak menggubris pertanyaannya membuat Yura hanya bisa menghela nafas panjang. Entah mengapa jika tidak ada orang lain selain dirinya seperti saat ini bersama Rey maka Rey akan kembali pada mode heningnya.


"Sabarlah Yura, kau sudah tahu jelas bukan bagaimana dengan sikap Kak Rey selama ini." Ucap Yura dalam hati menguatkan hatinya.


"Ayo turunlah." Ajak Rey pada Yura.


"Kak Rey?" Kedua mata Yura berbinar menatap pemandangan di depan matanya saat ini.

__ADS_1


"Turun atau aku akan mengurungmu di dalam mobil." Ucap Rey datar namun terdengar mengancam.


Yura tak menggubris ucapan Rey dan memilih segera turun dari dalam mobil. Tanpa menunggu Rey turun dari dalam mobil lebih dulu, Yura segera berjalan ke arah pantai yang terlihat mulai pasang sore itu.


Rey menatap pergerakan istrinya itu dengan senyuman tipis di wajah tampannya. Ia tidak menyangka dengan hanya membawa Yura ke pinggir pantai seperti saat ini sudah membuat hati istrinya itu merasa senang.


"Agh, ini sungguh menyenangkan." Ucap Yura setelah ia membuka sepatunya dan membiarkan kakinya menyentuh hangatnya pasir pantai.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Rey yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang tubuh Yura.


Yura menoleh menatap pada Rey. "Aku sungguh menyukainya. Sudah sangat lama aku tidak melihat pantai seperti saat ini." Ucapnya dengan wajah tersenyum senang.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2