Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Siapa dia?


__ADS_3

Sesuai perkataannya dengan Yura tadi sore, malam ini Rey dan Yura sudah berada dalam perjalanan menuju salah satu cafe yang cukup terkenal di kotanya untuk mengajak Yura makan malam bersama.


Selama dalam perjalanan menuju cafe, baik Yura dan Rey hanya diam tanpa berniat membuka suara satu sama lain. Terlebih untuk Yura, wanita itu sejak sore tadi hanya diam tanpa berniat berbicara dengan Rey yang berstatus sebagai suaminya. Ia masih saja merasa canggung berdekatan dengan Rey setelah Rey merebut ciuman pertamanya.


Berbeda dengan Rey, ia hanya diam karena memang seperti itulah kebiasaannya. Tidak ada rasa canggung sedikit pun di dalam dirinya setelah merebut ciuman pertama Yura. Lagi pula ia tidak mengetahui jika ciuman yang ia berikan adalah ciuman pertama bagi Yura.


Mobil milik Rey terus melaju hingga akhirnya sampai di perkarangan cafe. Rey mengedarkan pandangannya mencari tempat parkir yang masih kosong. Suasana cafe malam itu sudah terlihat ramai oleh kalangan anak muda yang sedang menikmati makan malam mereka di sana.


"Ayo turun." Ajak Rey setelah selesai memarkirkan mobil.


Yura mengangguk dan membuka sabuk pengamannya. Ia segera turun dari dalam mobil menyusul Rey yang sudah turun lebih dulu.


"Aku jadi merindukan cafe milik Bunda." Gumam Yura menatap cafe di depannya. Ia teringat dengan cafe milik sang Bunda yang juga tak kalah ramai menjadi tempat favorit di kalangan anak muda.


Rey berjalan lebih dulu diikuti Yura di belakangnya. Mereka terlihat tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya yang berjalan sambil bergandengan tangan atau berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Kita duduk di sana saja." Ajak Rey tertuju pada meja yang berada di dekat jendela cafe.


Yura mengangguk mengiyakan lalu berjalan mengikuti Rey menuju meja yang Rey tunjuk.


"Apa kau masih ingin tetap berdiri?" Tanya Rey sedikit ketus. Bagaimana tidak, ia sudah duduk namun Yura masih sibuk menatap ke sekitarnya.


"Agh, ya." Jawab Yura lalu menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Rey.


Rey membuka buku menu yang sudah tersedia di atas meja. Ia menatap banyaknya menu yang terlihat menggiurkan di matanya. Pandangannya beralih para Yura yang nampak tengah menatap ke sekitarnya. Ia menghela nafasnya melihat Yura yang tidak berniat melihat buku menunya bahkan menulis menu pesananannya.


"Kau ingin memesan apa?" Tanya Rey.


Rey mengangguk lalu menuliskan pesanan yang Yura inginkan. Setelahnya ia memberikan pada yura selembar kertas bertuliskan menu pesanan mereka.


"Aku belum menyebutkan minuman pesananku." Ucap Yura setelah membaca tulisan Rey.

__ADS_1


"Tulislah sendiri." Jawab Rey.


Yura diam lalu menuliskan menu minumannya. Setelahnya ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kasir berada untuk menyerahkan kertas menu pesanan mereka.


Tak berselang lama, Yura pun telah kembali. Ia kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Rey lalu menatap ke arah sekitarnya.


"Suasana di sini cukup ramai. Tumben sekali Kak Rey mau mengajakku makan di tempat ramai sepertinya. Biasanya dia lebih menyukai kesunyian." Ucap Yura dalam hati.


Tak menunggu waktu lama, pesanan mereka pun datang. Rey dan Yura mulai menikmati makanan masing-masing dalam keheningan. Hal yang sudah biasa Yura rasakan saat bersama Rey. Berbeda saat ia makan bersama dengan Rachel dan Galang yang dipenuhi canda tawa dan cerita di sela makan mereka.


"Kak Rey?" Suara seorang wanita yang sangat dikenali Rey dan Yura yang berasal dari belakang tubuh Yura menghentikan Rey yang ingin memasukkan lagi makanan ke dalam mulutnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2