Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Mereka akan pergi bersama


__ADS_3

"Baik, Kak." Jawab Yura.


"Kalau begitu aku pamit pergi dulu." Ucap Galang lalu menatap Rachel dan Rey.


"Hati-hati di jalan, Galang." Jawab Rachel. Sedangkan Rey hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Galang mengangguk mengiyakan ucapan rachel. Setelahnya Galang segera beranjak dari kursinya dengan perasaan kesal karena Rey telah mengganggu makan siangnya bersama Yura dan Rachel. Andai saja Rey tidak ada di antara mereka, pastilah saat ini Galang tengah berbincang cukup banyak dengan Rachel dan pujaan hatinya Yura.


Rey tak memperdulikan sama sekali kekesalan yang terpendam dalam diri Galang untuknya. Yang jelas saat ini ia sudah merasa senang karena Galang sudah tidak berada lagi di dekatnya. Rey pun melanjutkan menghabiskan makanannya hingga habis tak tersisa.


Rachel menatap Yura dan Rey yang sedang mengelap bibirnya dengan tisu secara bergantian. Entah mengapa ia merasa canggung berada di dekat kakak dan iparnya saat ini. Rachel pun memilih diam dan memainkan ponselnya untuk menghilangkan kecanggungan dalam dirinya saat ini.


"Apa maksud Galang mengatakan jika besok pagi kau akan pergi bersamanya?" Tanya Rey.


Yura menoleh pada Rey. "Tadi pagi aku dan Galang sempat melakukan rapat untuk membahas proyek kerja sama perusahaanku dengan perusahaan milik Galang yang sedang berjalan di kota S. Dan sesuai kesepakatan kami bersama, besok pagi kami akan berangkat ke kota S untuk memastikan pembangunan di sana berjalan dengan lancar dan menemui pihak yang bertanggung jawab atas proyek di sana." Jelas Yura.


Rey langsung menangkap proyek apa yang Yura maksud. Perusahaan Dharma memang sedang merencanakan pembangunan sebuah mall yang berada di kota S dan beberapa bahan material dan alat yang digunakan berasal dari perusahaan milik Galang.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Rey.


"Ini tidak terburu-buru, Kak. Kami sudah merencanakannya sejak jauh hari namun karena kemarin aku tidak masuk jadi baru hari inilah Galang membahasnya kembali denganku, Kak." Jelas Yura.


Rey diam dengan tatapan lurus ke depan.


"Dengan siapa saja kau akan pergi?" Tanyanya.


"Dengan Jeni, Kak Galang dan asistennya, Kak." Jawab Yura.


"Tiga sampai empat hari, Kak." Jawab Yura.


"Kenapa lama sekali?" Rey terlihat tidak suka mendengarnya. Terlebih membayangkan istrinya akan memiliki waktu banyak bersama Galang di sana.


"Karena masih banyak hal yang harus kami kerjakan dan periksa di sana, Kak." Jawab Yura seadanya.


Rey hanya diam saja. Namun saat ini otaknya sedang berpikir keras entah untuk apa.

__ADS_1


Yura melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi sudah memasuki waktunya untuk kembali bekerja di perusahaan. Walau dia adalah anak pemilik perusahaan, namun tetap saja Yura tidak ingin terlambat dan memberikan contoh yang tidak baik pada bawahannya.


"Kak Rey, aku harus pamit dulu untuk kembali ke perusahaan. Apa Kak Rey masih tetap ingin berada di sini?" Tanya Yura.


"Tidak. Aku juga akan kembali ke perusahaan." Jawab Rey.


Yura mengangguk lalu mengalihkan pandangan pada Rachel. "Bagaimana denganmu, Chel? Apa kau jadi ikut ke perusahaanku?" Tanya Yura.


Rachel mengangguk cepat. "Ya. Aku akan ikut denganmu dan berjanji tidak akan mengganggu aktivitasmu selama bekerja." Ucap Rachel agar Rey mendengarnya dan tak melarangnya ikut dengan Yura.


"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain mengganggu temanmu yang ingin bekerja?" Tanya Rey pada adiknya.


"Ya inilah pekerjaanku, Kak. Mengunjungi sahabatku kapan pun aku inginkan." Jawab Rachel sekenanya sambil tersenyum kaku karenakini Rey menatapnya dengan dingin.


***


Lanjut? Komen dan votenya dulu ya.

__ADS_1


__ADS_2