Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Jangan menghapusnya!


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu yang terdengar dari luar kamar menghentikan kegiatan Rey yang sedang memasang kancing lengan kemejanya. Pun dengan Yura yang turut menghentikan kegiatannya yang sedang memoleskan foundation di lehernya.


"Siapa itu?" Tanya Rey pada Yura.


"Sepertinya suara Jeni, Kak." Jawab Yura. "Biar aku buka pintunya dulu." Yura hendak bangkit dari duduknya namun gerakan tangan Rey menghentikan pergerakannya.


Rey segera berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamar Yura.


Ceklek


Setelah pintu terbuka dari dalam, Jeni dibuat terkejut melihat sosok yang membukakan pintu bukanlah Yura melainkan Rey suami Yura.


"Tuan Rey?" Ucap Jeni dengan wajah terkejutnya.


"Hm." Rey hanya membalas ucapan Jeni dengan sebuah deheman.


"Anda juga berada di sini?" Tanya Jeni lagi dan Rey menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jeni hendak kembali bertanya namun melihat ekspresi wajah Rey langsung menyurutkan keinginannya.


"Maaf mengganggu, saya hanya ingin mengajak Nona Yura turun untuk sarapan." Ucap Jeni.

__ADS_1


Rey mengangguk paham. "Pergilah lebih dulu. Kami akan menyusul sebentar lagi." Ucap Rey.


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya pamit pergi dulu ke bawah." Ucap Jeni yang dibalas Rey dengan anggukan kepalanya.


Setelah kepergian Jeni, Rey pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Yura yang terlihat masih memoleskan foundation di lehernya.


"Ayo kita turun." Ajak Rey pada Yura.


Yura menggelengkan kepalanya. "Tunggu sebentar. Aku harus menutupi ini dulu." Ucap Yura sambil memegang bekas merah yang belum tertutupi di lehernya.


"Tidak perlu ditutupi." Ucap Rey datar.


Yura menatap bingung pada Rey. "Kenapa tidak perlu ditutupi, Kak? Ini sungguh memalukan jika dilihat orang lain." Jawab Yura.


"Tidak, tidak. Aku tetap ingin menutupnya." Jawab Yura yang merasa tidak setuju dengan pendapat Rey. Walau pun orang lain tahu jika ia sudah menikah, namun tetap saja Yura merasa sangat malu jika bekas itu terlihat oleh orang lain.


Rey menatap datar pada istrinya yang tidak mau mendengarkan ucapannya. "Ayo kita keluar sekarang." Ajaknya tanpa bantahan.


"Tapi—" ucapan Yura terhenti saat melihat tatapan tajam dari Rey. Dan mau tidak mau Yura pun mengurungkan niatnya untuk menutupi bekas kecu-pan Rey tadi di lehernya karena tidak ingin membuat suaminya itu marah kepadanya.


"Huft, semoga jejak ini tidak terlalu terlihat." Ucapnya dalam hati sambil beranjak dari duduknya.


*


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


Suara sepatu yang terdengar melangkah ke arah meja makan mereka membuat perhatian Jeni, Galang dan Roy teralihkan ke sumber suara.


"Rey?" Ucap Galang pelan menatap tak percaya pada Rey.


Rey membalas tatapan Galang yang kini menatapnya dengan tatapan datarnya.


"Maaf kami datang terlambat." Ucap Yura merasa sungkan karena terlihat Galang dan yang lainnya belum memulai sarapan mereka karena menunggu kedatangannya.


"Tidak masalah, Nona." Jawab Jeni. Sedangkan Galang hanya diam menatap pada Rey.


Yura pun menjatuhkan bokongnya di kursi kosong yang bersebelahan dengan Jeni. Sedangkan Rey? Menjatuhkan bokongnya di kursi kosong yang bersebelahan dengan Yura dan Galang.


"Nona Yura, maaf, ada apa dengan leher anda? Kenapa terlihat merah seperti ini?" Tanya Jeni pelan saat melihat sesuatu yang aneh di leher Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2