
Rey tiba di rumahnya saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya karena merasa khawatir dengan istrinya yang ditinggal cukup lama saat malam hari seperti saat ini.
Ceklek
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Yura yang sedang melamun menatapa luar jendela kamar terkejut. Yura membalikkan tubuhnya lalu menatap pada Rey.
"Kak Rey?" Ucapnya pelan.
Rey menatap Yura datar sambil berjalan ke arah Yura.
"Kakak baru pulang?" Tanya Yura namun Rey masih tidak menjawabnya. "Baiklah, aku akan mempersiapkan air mandi untuk Kakak dulu." Ucap Yura kemudian.
Hap
Rey menahan sebelah tangan Yura yang hendak melangkah.
"Ada apa, Kak?" Tanya Yura bingung.
Rey menghela nafasnya. "Maaf." Ucapnya singkat.
__ADS_1
Kening Yura dibuat mengkerut mendengarnya. "Maaf?" Ulangnya.
Rey mengangguk mengiyakan. "Maaf karena telah membuatmu menunggu lama." Jawab Rey.
Yura tertegun mendengarnya. "Tak masalah. Aku tahu Kakak sedang sibuk." Jawabnya.
"Kau takut?" Tanya Rey singkat.
Yura menggeleng. "Aku sudah terbiasa." Bohongnya.
Hembusan Rey terdengar kasar di udara. "Pergilah." Ucapnya lalu melepas cekalan tangannya. Ia tahu Yura sedang berbohong namun ia tidak ingin menyangkalnya.
Yura mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat untuk Rey.
*
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Namun tak membuat Rey memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Pria itu kini nampak berpikir tentang apa yang dibicarakannya dengan teman baiknya saat di perusahaan tadi.
Bayang-bayang masalah jika Flower menjadi sekretarisnya mulai terbesit di benaknya. Sebenarnya Rey tidak setuju saat Om William menghampirinya dan mengatakan niatnya meminta Rey menjadikan Flower menjadi sekretarisnya. Namun karena tidak enak dengan pria yang selalu baik padanya itu dan juga pada ayah kandungnya, akhirnya Rey menyetujuinya.
__ADS_1
Persetujuannya atas permintaan Om William akhirnya menghantarkannya pada sebuah masalah saat ini. Dimana ia sudah menikah dan mungkin saja keberadaan Flower akan menjadi bumerang untuknya nanti.
Rey menghembuskan nafas kasar di udara. Sebelumnya ia tidak menyangka jika akan menikah dengan Yura. Wanita yang sejak kecil mengejar cintanya. Namun akhirnya kini ia hanya bisa pasrah karena keputusan yang ia ambil sudah final sebelum menikah dengan Yura.
Rey menoleh. Menatap pada sosok wanita yang nampak lelap dalam tidurnya dengan mulut sedikit terbuka. Wanita di sampingnya saat ini adalah takdir yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi istrinya. Ia ingat dengan janji pernikahannya di hadapan orang tua Yura untuk menjaga Yura dengan baik. Tapi kini, ia mulai meragu dengan janjinya itu. Ada rasa takut dalam benaknya jika Yura akan terluka dengan keputusan yang sudah ia ambil.
Pukul dua dini hari, Rey memutuskan untuk tidur menyusul Yura ke alam mimpi. Di alam bawah sadarnya, Rey bermimpi bertemu dengan Aidan yang memintanya untuk jujur pada Yura atas apa yang terjadi. Namun Rey hanya diam tak mengiyakan ucapan Aidan. Tak lupa Aidan pun berpesan agar mengatakan pada Yura tentang Flower yang akan menjadi sekretarisnya sebelum Flower resmi bekerja di perusahaannya.
"Yura..." gumam Rey dalam tidurnya.
Yura yang baru saja terbangun dari tidurnya menatap Rey dengan tatapan bingung.
"Apa barusan Kak Rey mengigaukan namaku?" Gumam Yura merasa tidak yakin.
"Yura..." kembali Rey mengigau menyebut namanya hingga membuat Yura yakin dengan apa yang didengarnya beberapa menit yang lalu.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.