Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Tidak tidur bersama?


__ADS_3

Rey menghentikan laju mobilnya saat seorang petugas yang berfrofesi sebagai security nampak berdiri di depan palang pembatas masuk ke dalam perumahan. Setelah membuka kaca mobilnya dan berbicara sejenak dengan security, Rey melajukan kembali mobil masuk ke dalam perumahan setelah palang pembatas l.


Mobil Rey terus melaju dengan kecepatan sedang melewati deretan rumah mewah hingga akhirnya berhenti di depan rumah yang berada di ujung jalan. Yura menatap ke arah sekitarnya dimana tidak memperlihatkan rumah lain selain rumah yang berada di depan mobilnya saat ini.


"Apa ini rumah Kak Rey?" Tanya Yura pada Rey.


Rey hanya diam namun tangannya bergerak membuka seat belt yang terpasang di badannya. "Ayo turun." Ajaknya pada Yura.


Yura mengangguk lalu ikut membuka seat beltnya. Setelah terbuka, ia pun turun dari dalam mobil Rey.


"Ini rumah Kak Rey?" Gumamnya bertanya-tanya sambil menatap rumah dua lantai yang berdiri kokoh di depannya saat ini. Walau dibandingkan rumah orang tua Rey rumah milik Rey terkesan jauh lebih kecil, namun rumah Rey terlihat tidak kalah mewah dari rumah Papa Gerry.


"Apa kau masih tetap ingin berdiri di situ?" Tanya Rey karena Yura hanya diam berdiri di posisinya.


"Agh, ya." Ucap Yura lalu berjalan ke arah Rey.


Rey pun kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah. Saat sudah berada di pintu rumah, Rey membuka pintu rumah seorang diri seperti tidak ada orang yang menyambut kedatangan mereka di sana.

__ADS_1


"Di sini belum ada pelayan yang aku tugaskan untuk membantu membereskan rumah ini. Mereka baru akan datang esok hari." Ucap Rey sambil terus melangkah masuk ke dalam rumah.


Yura mengangguk paham walau Rey tak dapat melihat anggukan kepalanya. Setelah masuk ke dalam rumah, Yura dibuat terkejut melihat perabotan rumah baru Rey sudah hampir terisi sepenuhnya.


Apa rumah ini sudah lama dibangun? Berarti selama ini Kak Rey sudah merencanakan rumah barunya untuk masa depannya? Tanya Yura dalam hati.


Bruk


Karena terlalu larut dalam lamunannya, Yura tak sadar jika Rey sudah berhenti berjalan hingga tubuhnya tanpa sadar menabrak tubuh kekar Rey.


Rey membalikkan tubuhnya dan menghela nafas panjang melihat kening Yura yang kini memerah akibat menabrak punggungnya. "Apa kau tidak bisa lebih berhati-hati dalam berjalan?" Tanya Rey datar.


"Ma-maaf. Aku tidak melihat jalan." Lirih Yura. Tangannya masih mengusap keningnya yang terasa sakit.


"Sudahlah, lebih baik kita duduk dulu." Ucap Rey lalu berjalan ke arah sofa.


Yura mengikuti langkah Rey sambil mengelus keningnya.

__ADS_1


Apa punggungnya terbuat dari batu? Kenapa terasa sakit sekali saat aku menabraknya? Tanya Yura dalam hati sambil melirik Rey.


"Apa terasa sakit sekali?" Tanya Rey dengan datar pada Yura yang masih menyusap keningnya.


"Emh, hanya sedikit." Bohong Yura.


"Lain kali pergunakan matamu dengan benar untuk berjalan bukan menghayal." Ketus Rey.


Yura memilih diam lalu menatap ke arah lain agar tidak menatap wajah Rey.


"Di rumah ini baru ada dua kamar yang bisa digunakan. Dan salah satunya adalah kamar utama." Ucap Rey.


"Apa kita akan tidur terpisah?" Tanya Yura menangkap lain maksud ucapan Rey.


"Buang segala pemikiran burukmu. Kau adalah istriku dan sudah seharusnya kau tidur bersamaku." Tekan Rey menatap tajam Yura.


***

__ADS_1


__ADS_2