Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Oh Yura...


__ADS_3

"Kenapa Papa tersenyum seperti itu?" Tanya Rachel.


"Syukurlah..." ucap Gerry.


"Syurkurlah?" Ulang Rachel dan Mama Kyara secara bersamaan.


"Syukur untuk apa?" Tanya Kyara.


"Syukurlah karena kini aku sudah semakin yakin jika putra kita adalah pria normal." Jawab Gerry tanpa sadar.


"Sayang..." Kyara kembali memukul lengan suaminya. "Jadi selama ini kau berpikir jika putra kita adalah pria yang tidak normal?" Berang Kyara.


Gerry mengangguk dengan polosnya. "Kau lihat saja selama ini Rey seperti tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun. Apa kau tidak merasa curiga melihat sikap aneh anakmu itu?" Tanya Gerry.


"Sayang! Beraninya kau berpikir jika anak kita tidak normal!" Amuk Kyara lalu mencubit keras pinggang suaminya.


"Aw, aw." Gerry terpekik karena merasakan pedih di pinggangnya akibat cubitan Kyara.


Rey yang tadi dikatakan tidak normal oleh ayah kandungnya sendiri pun hanya diam dengan wajah datarnya walau di hatinya kini merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran papanya itu.


"Oh astaga..." Rachel tak dapat lagi menahan rasa terkejutnya mendengar jawaban dari Rey beberapa saat lalu. "Oh Yuraku... akhirnya kau tidak pera-wan lagi." Sorak Rachel lalu memeluk erat tubuh Yura.

__ADS_1


"Uhuk... uhuk..." Yura dibuat terbatuk mendapatkan pelukan erat dari Rachel.


Rachel pun tersenyum lebar lalu melerai pelukannya.


"Rachel, jaga ucapanmu, nak." Tegur Kyara untuk yang kesekian kalinya.


"Maafkan Rachel, Mah. Tapi saat ini Rachel sangat senang karena akhirnya Yura dan Kak Rey akhirnya bersatu." Ucap Rachel lalu menyatukan kesepuluh jemarinya.


Kyara dibuat menggeleng mendengar jawaban putrinya. Sementara Yura, ia terlihat semakin tertunduk merasa malu yang teramat saat ini.


"Tapi tunggu dulu!" Tiba-tiba saja Gerry berucap sangat keras.


"Ada apa, Pah?" Tanya Rachel.


"Tentu saja tidak. Aku memperlakukannya dengan lembut. Kalau Papa tidak percaya tanyakan saja padanya." Jawab Rey.


"Benarkah begitu, Yura?" Tanya Gerry langsung pada Yura.


"Uhuk, uhuk." Yura dibuat terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Papa mertuanya.


"Sudah, sudah. Hentikan pembicaraan ini." Ucap Mama Kyara mencoba menghentikan pembicaraan suami dan anaknya yang sudah semakin mengarah kemana-mana.

__ADS_1


"Jangan disudahi dulu, Mah. Rachel ingin mendengar jawaban dari Yura." Pungkas Rachel merasa tak setuju dengan ucapan mamanya. Pandangan Rachel pun beralih pada Yura. "Yura, ayo jawab pertanyaan Papa. Apa Kak Rey memperlakukanmu dengan kasar saat kalian ehem-ehem?" Tanya Rachel begitu penasaran.


"Tentu saja tidak." Bukan Yura yang menjawab. Melainkan Rey.


"Ish... aku sedang bertanya pada Yura bukan pada Kakak." Ketus Rachel. "Ayo, Yura. Jawab pertanyaanku!" Desak Rachel.


Mama Kyara hanya bisa menghela nafas melihat sikap putrinya saat ini yang sangat mendesak Yura.


"Emh... tidak. Kak Rey tidak memperlakukanku seperti itu." Jawab Yura pada akhirnya.


Senyuman lebar pun terbit di wajah Rachel. "Syukurlah... aku akan memarahi Kak Rey jika dia memperlakukanmu dengan buruk." ucap Rachel.


Yura hanya diam saja dengan senyuman kaku di wajahnya.


"Apa kedatangan Papa dan Mama ke sini hanya untuk mengintrogasi kegiatanku dengan istriku?" Tanya Rey kemudian.


"Tentu saja." Jawab Gerry spontan. "Emh, maksud Papa tentu saja tidak. Selain megintrogasimu, Papa juga ingin memastikan apa yang terjadi padamu sehingga kau tidak masuk bekerja hari ini." Jawab Gerry dengan tersenyum kaku.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2