
"Aku akan mengingatnya, Kak. Percayalah tanpa Kakak beri tahu aku sudah sadar dengan statusku saat ini." Jawab Yura.
Rey pun perlahan melepas cekalan tangan Yura.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu." Pamit Yura.
Rey mengangguk dan membiarkan Yura keluar dari dalam mobilnya. Cukup lama Rey memilih tetap diam di dalam mobilnya sambil menunggu Yura masuk ke dalam perusahaannya.
Saat hendak menjalankan mobilnya kembali, Rey mengurungkan niatnya saat mendengar notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan membuka aplikasi pesannya.
"Flower?" Gumam Rey membaca nama pengirim pesan di ponselnya.
Rey memilih mengabaikan pesan dari Flower tanpa berniat membacanya lebih dulu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan melajukan mobilnya keluar dari perusahaan Dharma.
"Kenapa Kak Rey tidak membaca pesan dariku padahal dia baru saja online?" Ucap Flower yang merasa kesal karena sejak tadi menunggu pesan balasan dari Rey. "Entah mengapa aku merasa Kak Rey mulai berubah satu bulan belakangan ini. Apa terjadi sesuatu di sana hingga membuat Kak Rey berubah?" Genggaman tangan Flower pada ponselnya pun mulai mengerat membayangkan jika apa yang ada dalam pemikirannya adalah benar.
"Jika terus begini aku akan meminta Daddy untuk memajukan jadwal kepulangan kami." Lanjut Flower kemudian yang mulai resah.
__ADS_1
*
Pukul tiga sore, mobil Rey nampak sudah terparkir di depan perusahaan Dharma kembali. Di dalam mobilnya, Rey nampak sibuk memainkan ponselnya sambil menunggu Yura keluar dari dalam perusahaannya.
"Kemana dia? Apa dia lupa dengan janji kami sore ini?" Gumam Rey setelah sepuluh menit menunggu tapi Yura tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Karena merasa malas menunggu di dalam mobil, Rey memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya dan berniat menyusul Yura dengan masuk ke dalam perusahaan. Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, Yura nampak sudah keluar dari dalam perusahaan dengan berjalan tergesa-gesa.
"Kak Rey?" Ucap Yura melihat Rey yang tengah berjalan ke arahnya. Yura mempercepat langkahnya menghampiri Rey.
"Emh, maaf, saat mau keluar tadi aku tiba-tiba mendapatkan panggilan telefon dari rekan kerjaku." Jawab Yura.
Rey menatap Yura dengan tatapan menyelidik. Ingin sekali saat ini ia mencecar Yura karena telah lama membuatnya menunggu. Namun setelah mendengar penjelasan dari Yura membuatnya mengerti.
"Sudahlah, ayo masuk." Ajak Rey lalu berjalan ke arah mobilnya.
Yura pun berjalan mengikuti Rey dan masuk ke dalam mobil. Setelah Yura masuk ke dalam mobil, Rey segera melajukan mobilnya menuju rumah barunya yang akan menjadi tempat tinggalnya dan Yura untuk kedepannya.
__ADS_1
Seperti biasanya, selama dalam perjalan menuju rumah baru mereka, Yura dan Rey hanya diam tanpa ada percakapan sedikit pun di dalam mobil. Yura yang sudah merasa terbiasa dengan kebiasaan mereka pun memilih memainkan ponselnya dan membalas pesan masuk yang dikirimkan oleh Galang.
Sesekali ia nampak menahan tawa setelah membaca pesan dari Galang yang terus saja bercanda kepadanya. "Dia itu ada-ada saja." Ucap Yura pelan setelah membalas pesan dari Galang.
Mendengar ucapan Yura yang terdengar jelas di telinganya membuat Rey menatap Yura dengan tajam. Ia menatap tidak suka dengan wajah Yura yang saat ini tengah tersenyum setelah membaca pesan dari seseorang yang tidak ia ketahui identitasnya.
"Apa Rachel baru menghubungimu?" Tanya Rey berpikir jika Yura mungkin baru saja mendapatkan pesan dari adiknya.
Yura menggelengkan kepalanya. "Rachel belum ada menghubungiku hari ini." Jawab Yura seadanya.
Rey diam dengan tatapan lurus ke depan. Otaknya mulai berpikir siapakah yang baru saja menghubungi Yura hingga membuat istrinya tersenyum seperti itu.
Yura pun memilih ikut diam tanpa niat bertanya kenapa Rey mempertanyakan tentang Rachel. Ia memilih menatap keluar jendela yang saat ini memperlihatkan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Setelah melewati dua puluh lima menit perjalanan, mobil Rey pun akhirnya memasuki kawasan perumahan elit di kotanya.
***
__ADS_1