Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Sampai kapan menyembunyikannya


__ADS_3

"Kak Rey, Yura." Rachel menyambut kedatangan Rey dan Yura di bandara dengan senyuman manis di wajah cantiknya.


Rey dan Yura berjalan ke arah Rachel, Mama Kyara dan Papa Gerry berada sambil menyeret koper milik Rey. Setelah berada di depan mereka, Rey dan Yura secara bergantian bersalaman pada Mama Kyara dan Papa Gerry diikuti berpelukan dengan Rachel barang sejenak.


"Apa Mama sudah lama menunggu?" Tanya Yura merasa sungkan.


Mama Kyara tersenyum dan menggeleng. "Kami baru saja sampai." Jawabnya.


Yura mengangguk paham. Mama Kyara pun mengajak Rey dan Yura untuk duduk sejenak di kursi yang sudah disediakan. Sebelum duduk di kursi, Rey menyerahkan kopernya pada seorang pengawal untuk dimasukkan ke dalam bagasi pesawat.


"Yura, kata Kak Rey selama Kak Rey pergi bersama Papa, kau akan tinggal di rumahku." Ucap Rachel pada Yura.


Yura seketika terkejut mendengarnya. "Tinggal di rumahmu?" Ulangnya.


Rachel mengangguk mengiyakannya. Pandangan Yura seketika beralih pada suaminya yang terlihat tengah menatapnya. Yura dibuat bingung karena sebelumnya Rey tidak mengatakan hal apa pun padanya.


"Selama aku tidak ada di kota ini kau akan tinggal bersama Rachel dan Mama. Aku tidak bisa melepaskanmu tinggal di rumah sendiri tanpa kehadiranku." Ucap Rey menjawab kebingungan di wajah Yura saat ini.

__ADS_1


Yura mengangguk saja mengiyakan ucapan suaminya. Lagi pula ia tidak merasa masalah jika harus tinggal bersama mertuanya dan Rachel. Rasa bosan yang sudah ia bayangkan sebelumnya karena harus tinggal sendiri di rumah tanpa kehadiran Rey akhirnya terpatahkan karena ia akan tinggal bersama Rachel yang pasti akan menemani malam-malam sepinya.


Setelah cukup lama duduk menunggu jadwal keberangkatan pesawat, akhirnya Rey dan Papa Gerry pun berpamitan pada keluarga mereka untuk berangkat karena pesawat mereka sebentar lagi akan lepas landas.


"Jaga dirimu baik-baik." Ucap Rey saat bersalaman dengan Yura.


Yura mengangguk mengiyakannya. Rey pun mengusap sejenak rambut Yura lalu melangkah mengikuti Papanya.


"Yura, apa kau bersedih karena ditinggalkan pergi oleh kakakku?" Goda Rachel melihat mata Yura yang tengah berkaca-kaca menatap kepergian Rey.


"Tidak." Jawab Yura berbohong.


"Sudahlah, jangan bersedih. Kakakku hanya pergi selama dua minggu bukan dua tahun." Goda Rachel lagi.


"Rachel..." Yura mencubit pinggang Rachel merasa malu karena Rachel terus menggodanya.


Mama Kyara yang melihatnya pun hanya tersenyum dan akhirnya mengajak Yura dan Rachel pergi meninggalkan bandara.

__ADS_1


*


"Kenapa Papa tidak jujur pada Mama?" Tanya Rey setelah masuk ke dalam pesawat pribadi milik perusahaan mereka.


"Papa tidak berani untuk jujur karena takut menyakiti Mamamu." Jawab Gerry dengan wajah lesunya.


Rey menghela nafas sesaat. Ketidakjujuran papanya saat ini cukup membuat hatinya merasa khawatir. Bagaimana tidak, jika kebohongan papanya ini diketahui oleh Mamanya, Rey takut akan berakibat buruk bagi kesejahteraan keluarga mereka dan pastinya membuat Mamanya merasa bersedih.


"Aku harap Papa bisa jujur setelah ini." Ucap Rey kemudian.


Gerry menoleh pada putranya yang tengah menatap datar padanya. "Papa akan mengusahakannya." Jawab Gerry seadanya.


"Sudah lebih dua puluh lima tahun Papa menyembunyikan keberadaan wanita itu dari Mama. Apa Papa tidak sadar jika bangkai yang selalu Papa sembunyikan itu lambat laun akan tercium oleh Mama?" Tanya Rey dengan penuh penekanan.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2