Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Memintanya malam ini


__ADS_3

"Apa?" Kedua mata Yura terbelalak mendengarkan ucapan Rey.


"Kenapa kau terlihat terkejut begitu. Bukankah itu sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang istri?" Tanya Rey.


Yura menundukkan pandangannya. "Apa itu termasuk kewajiban di saat pernikahan kita terjadi hanya karena sebuah keterpaksaan?" Lirih Yura. Bukannya tidak ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Hanya saja Yura meragu akan arti pernikahan mereka di mata Rey. Bahkan sampai saat ini Yura tidak pernah bisa mengartikan perasaan Rey setelah menikah dengannya.


"Kau pikir pernikahan adalah hal main-main? Mau dengan apa pun cara kita menikah, pernikahan kita adalah hal yang sakral." Tekan Rey.


Yura mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Walau tanpa cinta di dalamnya?" Tanya Yura memberanikan diri.


"Ya." Jawab Rey tanpa mengutarakan maksud hatinya.


Yura tersenyum kecut mendengarnya. Ia memilih menatap ke arah luar jendela dari pada menjawab ucapan Rey. Keheningan pun kembali menyelimuti mereka hingga akhirnya mobil Rey sudah terparkir di depan rumah.


Yura terlihat turun lebih dulu tanpa menunggu Rey turun. Ia membuka pintu belakang mobil dan menurunkan kopernya.


"Biar aku yang membawanya." Ucap Rey saat Yura hendak menarik kopernya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Yura menghela nafasnya lalu menyerahkan koper ke tangan Rey. Setelahnya mereka pun masuk ke dalam rumah dengan berjalan beriringan.


"Selamat datang, Tuan, Nona." Sapa seorang pelayan menyambut kedatangan mereka.


Rey mengangguk sebagai jawaban sedangkan Yura mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.


"Biar saya saja yang membawa kopernya, Tuan." Pelayan hendak mengambil alih koper di tangan Rey namun Rey dengan cepat menahannya. "Biar saya saja." Ucap Rey.


Pelayan mengangguk dan membiarkan Yura dan Rey berjalan melewatinya.


Ceklek


"Tolong siapkan air hangat untukku." Ucap Rey tanpa menatap Yura karena kini ia sedang berjalan ke arah lemari untuk meletakkan koper mereka.


"Baik, Kak." Jawab Yura lalu meletakkan tas selempangnya di atas sofa. Setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat untuk Rey.


"Huft..." Yura menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah masuk ke dalam kamar mandi. "Apa maksud Kak Rey bertanya tentang kewajibanku sebagai seorang istri? Apa Kak Rey berniat meminta haknya padaku? Tapi apa itu mungkin?" Lirih Yura. Ia masih saja selalu gagal mengartikan maksud ucapan suaminya itu.

__ADS_1


Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk suaminya, Yura pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Dilihatnya ke arah ranjang dimana Rey tengah duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Air hangatnya sudah siap, Kak." Ucap Yura.


Rey mengangkat kepalanya dan menatap pada Yura. "Terima kasih." Ucap Rey lalu bangkit dari duduknya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan melewati Yura masuk ke dalam kamar mandi.


Yura pun segera melakukan tugas selanjutnya dengan mempersiapkan pakaian ganti untuk Rey. Setelah siap, ia memilih duduk di atas sofa sambil menunggu Rey keluar dari dalam kamar mandi.


Lima belas menit berlalu, Rey telah keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan selembar handuk yang melilit pinggangnya. Melihat Rey sudah keluar dari dalam kamar mandi membuat Yura segera bangkit dari duduknya karena ia juga ingin membersihkan tubuhnya.


"Aku akan memintanya malam ini." Ucap Rey saat Yura tengah berjalan melewatinya menuju kamar mandi.


*


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2