Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Akhirnya kembali


__ADS_3

"Jeni, sedang apa kalian di sini?" Tanya Yura.


"Kami sedang menunggu kedatanganmu ke sini." Jawab Galang mengambil alih jawaban Jeni.


"Menungguku? Untuk apa?" Tanya Yura bingung.


"Kau melupakan dompetmu yang tertinggal di dalam tas Jeni." Ucap Galang.


"Apa?" Yura segera merogoh tas sandang yang kebetulan ia bawa. Dan benar saja di dalam tas sandangnya tidak terdapat dompetnya di sana.


"Saya sudah berusaha menghubungi Nona jika dompet Nona tertinggal di tas saya namun nomer telefon Nona tidak bisa dihubungi sampai pagi ini." Jelas Jeni.


"Oh ya." Yura mengalihkan tatapannya sejenak pada suaminya yang tengah menatap datar padanya. Tadi malam Rey memang sengaja mematikan ponsel miliknya yang terus berbunyi agar tidak mengganggu mereka yang sedang asik bercinta.


"Ini dompetnya, Nona." Jeni menyerahkan dompet Yura yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


"Terima kasih, Jeni." Ucap Yura.


Jeni mengangguk. "Sama-sama, Nona." Jawab Jeni.


"Ayo kita duduk di sana." Ajak Rey pada Yura. Ia terlihat tidak ingin berdiri berlama-lama di depan pria yang menjadi rivalnya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku ke sana dulu." Pamit Yura pada mereka.


Rey berjalan lebih dulu ke meja yang tadi ia tunjuk lalu diikuti Yura dari belakang.


"Pria itu terlihat sangat ingin terus bertemu denganmu." Ucap Rey sedikit ketus saat sudah menjatuhkan bokongnya di atas kursi.


"Maksud Kakak?" Tanya Yura dengan kening mengkerut.


"Entahlah." Jawab Rey singkat merasa malas menjawab pertanyaan Yura yang tidak paham maksud ucapannya.


Yura pun memilih diam tak lagi bertanya apa pun pada suaminya. Menurutnya diam jauh lebih baik dari pada bertanya akan membuatnya harus menghela nafas berkali-kali setelah mendengar jawaban dari suaminya.


Tak berselang lama Aidan dan keluarganya pun sudah ikut berkumpul duduk di meja yang sama dengan Yura dan Rey. Tak berbeda jauh dengan Yura dan Rey, Aidan dan Alea pun turut dibuat bingung melihat keberadaan Galang di tempat yang sama dengan mereka.


*


Setelah melewati lebih kurang delapan jam perjalanan, akhirnya Rey dan Yura sudah sampai di kota J. Karena di dalam perjalanan mereka mendapatkan panggilan telefon dari Papa Gerry yang meminta mereka untuk mampir ke rumahnya lebih dulu, akhirnya Rey memutuskan untuk membawa Yura ke rumah kedua orang tuanya lebih dulu sebelum pulang ke rumah mereka.


"Ayo turun." Ajak Rey pada Yura setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah kedua orang tuanya.


Yura mengangguk lalu membuka sabuk pengamannya. Setelahnya ia turun dari dalam mobil bersamaan dengan Rey yang turut turun dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Kak Rey, Yura!" Suara cempreng Rachel terdengar menyambut kedatangan mereka. Yura tersenyum menatap Rachel yang kini tengah merentangkan tangan padanya. Ia pun berjalan ke arah Rachel lalu masuk ke dalam pelukan Rachel.


"Aku sangat merindukanmu." Bisik Rachel di telinga Yura.


Yura tersenyum mendengarnya. "Begitu pun dengan aku." Jawabnya.


"Ayo kita masuk. Mama dan Papa sudah menunggu kedatangan kalian di ruang tamu." Ajak Rachel yang diangguki Yura sebagai jawaban.


"Mama... Papa..." sapa Yura setelah berada di ruang tamu.


Papa Gerry dan Mama Kyara yang sedang fokus membaca undangan di tangan mereka pun mengangkat kepala secara bersamaan saat mendengar suara Yura.


"Yura, Rey, kalian sudah datang?" Ucap Mama Kyara lalu segera bangkit dari duduknya.


Rey tak segera membalas ucapan Mamanya itu karena kini pandangannya terpusat pada undangan yang sedang dipegang oleh papanya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2