Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Rasa tidak suka yang terpendam


__ADS_3

"Kau selalu saja tidak mau mengakui kelebihanmu, Yura." Galang melebarkan senyumannya pada Yura hingga memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.


"Karena aku merasa tidak ada kelebihan dari dalam diriku, Gal." Jawab Yura kembali merendah.


"Namun tidak seperti yang aku lihat. Sejak dulu kau terlihat begitu sempurna di mataku." Ucap Galang lalu menyebutkan segala kelebihan Yura yang membuat Yura menggelengkan kepalanya karena Galang tetap saja seperti dulu yang selalu membuatnya merasa di atas awan.


"Sudahlah, kau selalu saja tidak berubah selalu berkata yang berlebihan." Ucap Yura setelah Galang selesai menyebutkan segala kelebihannya.


"Aku tidak berlebihan. Semua itu terlihat nyata ada pada dirimu, Yura. Bukankah begitu Tuan Rey?" Tanya Galang pada Rey sambil menaikkan salah satu alis matanya.


Rey menatap Galang dengan datar lalu mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Saya belum dapat melihat apa yang anda ucapkan." Jawab Rey yang membuat kedua mata Yura membola karena secara tidak langsung Rey tidak melihat satu pun kelebihan dari dalam dirinya.


Kenapa dia menjawab terlalu jujur seperti itu? Yura tak menyangka dengan jawaban yang Rey berikan.


"Benarkah begitu? Agh, ternyata kedua mata anda tidak dapat berfungsi dengan baik untuk melihat kesempurnaan yang ada dalam diri Nona Yura." Ucap Galang dengan tersenyum sinis.


Rey membalas senyuman sinis Galang dengan wajah datar dan dinginnya. "Mungkin saja. Tapi saya bersyukur karena tidak dapat melihatnya dengan baik." Jawab Rey acuh.


Yura menghela nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan di udara. Harusnya ia sadar dengan sikap Rey yang tidak akan pernah berubah jika itu menyangkut tentang dirinya.


"Ehem." Deheman Aidan yang terdengar cukup keras dari belakang tubuh mereka menghentikan percakapan di antara mereka.

__ADS_1


Aidan menatap Galang dan Rey bergantian dengan tatapan tak terbaca. Sejak menuruni anak tangga ia cukup mendengar percakapan di antara Rey dan Galang yang cukup membuat telinganya sakit terlebih Rey mematahkan ucapan Galang begitu saja tentang kelebihan yang ada di dalam diri adiknya.


Lihat saja, setelah ini kau akan menyesal karena telah berkata buruk tentang adikku. Ucap Aidan dalam hati sambil menatap dingin Rey.


"Kakak, ayo duduk dulu." Ajak Yura pada Aidan. Ia dapat merasakan aura tidak enak yang ada dalam diri Aidan saat ini.


Aidan mengangguk lalu mendaratkan bokongnya di sofa single. "Bagaimana? Apa kau sudah senang bertemu dengan adikku?" Tanya Aidan pada Galang.


Galang dengan cepat mengangguk. "Tentu saja. Setelah pertemuan singkat kami waktu itu di acara wisudanya membuat aku selalu memikirkan tentang adikmu." Ucap Galang lalu menatap Yura dengan senyum menggoda.


Yura menggelengkan kepalanya melihat ekspresi Galang padanya. Terlebih kini Galang tengah mengedipkan sebelah matanya padanya. "Kau tidak pernah berubah." Ucap Yura pada Galang.


Aidan tersenyum miring mendengarnya. Ia sekilas menatap pada Rey yang masih berwajah datar namun menyimpan arti di balik wajah datar dan dinginnya.


"Apa kau tidak merindukan sahabatku juga?" Tanya Yura tertuju pada Rachel.


"Tentu saja. Tapi aku lebih merindukanmu." Jawab Galang kembali asal.


Yura tersenyum seraya menggeleng mendengarnya. Percakapan di antara mereka terhenti saat Bunda Vara datang menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk makan siang bersama.


"Ayo Rey kita makan bersama. Tante sudah memasak makanan untuk kalian." Ajak Bunda Vara pada Rey yang masih duduk di tempatnya. Rey terlihat tengah membalas pesan yang baru masuk di ponselnya lebih dulu sementara Galang sudah beranjak pergi bersama Yura dan Aidan.

__ADS_1


"Baik, Tante." Rey pun segera beranjak dari duduknya.


Bunda Vara tersenyum lalu berjalan beriringan dengan Rey menuju meja makan. Setelah sampai di meja makan, Rey menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan Yura dan Galang.


"Ayo kita mulai makan." Ajak Aidan setelah mereka semua sudah berkumpul di meja makan.


Rey, Yura dan Galang mengangguk mengiyakan lalu mulai mengambil makanan untuk mereka masing-masing. Selama makan siang berlangsung, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut mereka masing-masing selain bunyi sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Dua puluh menit berlalu, mereka pun telah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Keheningan di antara mereka pun terhenti saat Galang mulai berbicara dengan Yura yang dudu di sebelahnya.


"Lihatlah ada sisa makanan yang tertinggal di sudut bibirmu." Ucap Galang lalu menarik selembar tisu dan mengelapkannya di sudut bibir Yura.


Yura tertegun melihat perlakuan Galang padanya. Berbeda dengan Aidan yang nampak menarik sebelah sudut bibirnya ke samping melihat wajah Rey yang semakin dingin melihat interaksi Yura dan Galang saat ini.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2