
Jarum jam terus berputar ke arah kanan dan semakin naik hingga tanpa Yura sadari sudah menunjukkan pukul jam setengah satu malam. "Pantas saja mataku sudah mengantuk karena sudah lewat dari tengah malam." Yura mematikan layar ponselnya lalu meletakkan di atas nakas. "Kenapa aku merasa haus sekali." Yura mengusap tenggorokannya yang terasa kering.
Ia pun menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang dengan hati-hati lalu memutuskan keluar dari dalam kamar Rachel untuk mengambil minuman di dapur.
"Kenapa dapurnya gelap sekali?" Gumam Yura saat sudah berada di dekat dapur. Yura pun terus berjalan dan berusaha mencari letak saklar namun tak kunjung menemukannya. "Tahu begini lebih baik aku membawa ponselku tadi." Gumamnya sambil terus berjalan masuk ke dalam dapur.
Saat sudah berada dekat dengan meja makan di dalam dapur, Yura hampir saja berteriak saat tubuhnya tanpa sadar menabrak sosok yang tengah berdiri sambil menuangkan air dari dalam teko ke dalam gelas minumannya.
"Aahp..." Teriakan Yura lenyap begitu saja saat tangan seseorang mendekap erat mulutnya.
"Diamlah atau kau akan membangunkan seisi rumah!" Cetus pria yang sangat Yura ketahui siapakah pemilik suara itu.
Kak Rey... Ucap Yura dalam hati dengan mata membola sempurna.
Rey melepas dekapan tangannya saat merasa Yura sudah tenang. Yura pun seketika menjauhkan tubuh Rey sambil menatap Rey dengan mata yang masih membola.
"Ka-kak Rey, sedang apa Kakak di sini?" Tanya Yura sedikit gagap karena masih merasa terkejut melihat kehadiran Rey.
"Pertanyaan bodoh! Apa kau tidak melihat apa yang aku pegang tadi." Cetus Rey.
Yura menggelengkan kepalanya. "Di sini sangat gelap." Ucap Yura.
Rey berjalan menjauhi Yura lalu beberada saat kemudian lampu dapur pun hidup. Pandangan Yura pun beralih pada Rey yang tengah kembali berjalan ke arahnya.
Tanpa memperdulikan Yura yang masih nampak terkejut melihatnya, Rey menuangkan kembali air dari dalam teko ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tandas.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan di sini?" Tanya Rey menatap datar Yura.
"Aku ingin mengambil minum." Jawab Yura yang sudah merasa tenang.
"Cepat ambil minumanmu dan jangan membuat keributan." Titah Rey.
Yura menganggukkan kepalanya lalu segera menuangkan air ke dalam gelas. "Sudah." Jawabnya sambil menunjukkan gelas di tangannya.
"Apa kau tidak ingin meminumnya?" Tanya Rey.
"Emh, tidak. Aku akan membawanya ke kamar." Jawab Yura.
Lidah Rey berdecak. Ia pun kembali melangkah ke arah saklar berada. Setelahnya ia keluar begitu saja dari dalam dapur tanpa mengucapkan satu kata pun pada Yura.
"Syukurlah dia sudah pergi." Yura menghela nafasnya lalu berjalan sedikit pelan agar tidak terlalu dekat dengan Rey. Yura tak memperdulikan sikap Rey yang masih saha ketus kepadanya karena yang ada dipemikirannya saat ini adalah menjaga hatinya agar tidak lagi jatuh pada lubang yang sama.
*
Yura sudah nampak rapi dengan setelan pakaian kerjanya sementara Rachel masih nampak bergulung di dalam selimut seakan enggan untuk bangun.
"Chel... ayo bangun, sebentar lagi sudah waktunya sarapan." Ucap Yura sambil menggoyangkan tubuh Rachel.
"Euhg..." Rachel melenguh saat merasa tidurnya terganggu oleh Yura. Yura pun kembali membangunkan Rachel hingga Rachel bangkit dari pembaringannya. "Ayo mandi dan cepat turun ke bawah. Bukannya sebentar lagi sudah waktunya sarapan?" Titah Yura.
"Kenapa kau sudah rapi saja tanpa menungguku bangun lebih dulu." Ucap Rachel sambil mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Karena kau terlalu lama untuk bangun. Segeralah mandi dan turun ke bawah karena aku harus berangkat cepat hari ini." Ucap Yura.
"Memangnya kau ingin kemana?" Tanya Rachel.
"Hari ini aku ada pertemuan penting dengan salah satu investor dari perusahaan Gideon. Dan setelah itu aku akan melakukan pertemuan dengan Kakakmu di perusahaannya untuk menandatangani surat kerja sama perusahaan kita." Jelas Yura.
Rachel menurunkan kedua kakinya ke lantai lalu berjalan ke arah kamar mandi. "Turunlah lebih dulu. Aku akan segera menyusul." Ucap Rachel.
Yura mengangguk lalu mengambil tas selempangnya yang ia letakkan di atas sofa. Setelahnya ia pun keluar dari dalam kamar Rachel menuju lantai bawah.
"Yura." Gerry melemparkan senyuman pada Yura yang baru saja sampai di meja makan.
"Om Gerry." Balas Yura ramah.
"Ayo duduk dulu." Ajak Gerry.
"Baik, Om." Jawab Yura lalu menarik salah satu kursi.
"Oh ya, Yura, apa Rey sudah memberitahukan padamu jika besok hari kau dan Rey akan pergi ke salah satu desa untuk melihat proyek pembangunan klinik yang akan dibangun di sana?" Tanya Gerry.
Yura menggelengkan kepalanya. "Kak Rey belum memberitahukannya pada Yura, Om." Jawab Yura dengan wajah bingung.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.