Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Dia terlihat bahagia


__ADS_3

"Rania..." Kyara meraih tangan Rania lalu menggenggamnya.


Rania mengelus tangan Kyara yang kini tengah menggenggam tangannya dengan tangannya yang bebas.


"Maaf jika aku tidak bisa memenuhi keinginanmu, Rania." Lirih Kyara.


"Tak masalah, Kya. Semua telah terjadi dan aku tidak memaksakan jika takdir Rey bukanlah untuk anakku." Ucap Rania.


Kyara menatap Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah... walau merasa kecewa karena harapanku tak sesuai dengan kenyataan, namun aku tetap bahagia karena Rey mendapatkan wanita yang tepat. Wanita cantik dan baik hati seperti Yura." Ucap Rania.


Kyara tersenyum mendengarnya. "Kau tahu bukan jika aku tidak bisa memaksa terlalu dalam kehendak Rey. Sejak dulu Rey selalu menurut dengan apa yang aku katakan. Dan untuk masalah jodoh, aku tidak bisa memaksakannya lagi. Terlebih, saat ini Rey sudah menikah dengan Yura walau dengan keadaan yang tidak baik." Tutur Yura.


"Aku mengerti itu, Kya. Aku tidak menyalahkan dirimu atau pun Kak Gerry. Sejak dulu aku sudah melihat jika Rey tidak menaruh perasaan apa pun pada putriku selain rasa tanggung jawab untuk menjaga Flower sesuai permintaan yang kau dan aku berikan padanya. Aku terlalu memaksakan hatiku jika Rey menyukai putriku padahal tidak demikian." Ucap Rania.

__ADS_1


William menghela nafas panjang mendengar ucapan istrinya. Walau membenarkan ucapan istrinya jika Rey tidak pernah menaruh rasa pada putri mereka, namun tetap saja William merasa awas dengan sikap Flower nantinya jika mengetahui Rey sudah menikah dengan wanita yang sangat dikenali Flower. Terlebih saat ini Flower sudah mengetahui jika selama ini ia dan Rey sudah dijodohkan sejak kecil.


"Aku yakin kau bisa memberikan pengertian pada putrimu." Ucap Gerry seolah paham apa yang ada dalam pemikiran William saat ini.


William menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa menyalahkan takdir yang sudah terjadi pada Rey dan Yura. Mereka sudah menikah, dan William tidak ingin menjadi orang tua yang egois memisahkan Rey dan Yura hanya demi kebahagiaan putri sematawayang mereka.


Percakapan mereka terhenti sejenak saat beberapa orang pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka di atas meja.


"Selamat menikmati, Tuan, Nyonya." Ucap para pelayan berbarengan lalu beranjak pergi dari meja mereka.


William dan Rania mengangguk mengiyakan. Sedangkan Kyara masih menatap Rania dengan tatapan tidak enak.


"Sayang... ayo makan." Ajak Gerry lembut pada istrinya.


"Agh, ya." Ucap Kyara lalu segera mengambilkan makanan untuk Gerry lalu untuk dirinya.

__ADS_1


*


Dua puluh menit telah berlalu, acara makan malam dua pasang suami istri itu pun berakhir. Sesuai perkataan Gerry sebelum makan, mereka kembali melanjutkan pembicaraan setelah menikmati makanan masing-masing.


"Kya, apa menurutmu saat ini Rey bahagia dengan pernikahannya bersama Yura? Bukan maksudku merasa tidak suka dengan pernikahan mereka, hanya saja aku tidak ingin Rey merasa terpaksa menjalani pernikahannya dengan Yura." Ucap Rania.


"Sejauh ini aku tidak melihat keterpaksaan dari dalam diri Rey. Rey selalu berusaha menyembunyikan isi hatinya namun tidak dengan saat ini. Aku dapat melihat dengan jelas jika putraku tidak terpaksa menjalaninya." Ucap Kyara yakin. Walau masih ada hal lain yang ia ketahui tentang putranya, namun Kyara memilih menyimpannya lebih dulu tanpa memberitahu pada Rania atau yang lainnya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku hanya tidak ingin Yura nantinya bernasib sama dengan—" ucapan Rania terhenti saat William menggenggam erat tangannya seolah memberi kode agar Rania menghentikan ucapannya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2