Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Tatapan tak suka


__ADS_3

Walau pun berucap cukup pelan namun suara Jeni dapat didengar dengan jelas oleh Galang, Rey dan Roy.


Yura seketika gelagapan mendapatkan pertanyaan dari Jeni. Apa lagi saat ini perhatian Galang, Rey dan Roy tengah tertuju padanya.


"Emh, ini..." Yura nampak begitu gugup menjawab pertanyaan dari Jeni.


Jeni yang sudah sadar dengan apa yang dilihatnya pun segera berdehem untuk menetralisir suasana di antara mereka saat ini. "Agh, ya. Saya lupa untuk menunjukkan sesuatu pada, Nona." Ucap Jeni mengalihkan pembicaraan mereka dengan mengeluarkan ponsel di dalam tas sandangnya.


Yura melihat pesan yang diperlihatkan Jeni padanya. Kecanggungan yang tadi ia rasakan pun akhirnya sirna saat membaca pesan yang sangat menyenangkan hatinya saat ini.


"Apa ini benar? Tuan Geo menerima tawaran kerja sama perusahaan kita?" Tanya Yura tak percaya.


Jeni mengangguk mengiyakannya. "Benar, Nona. Satu minggu lagi Tuan Geo akan datang ke perusahaan untuk membawa surat kerja samanya.


"Baiklah kalau begitu. Katakan padanya jika kita akan menunggu kedatangannya seminggu lagi." Jawab Yura yang diangguki Jeni sebagai jawaban.

__ADS_1


"Karena Yura sudah berada di sini maka lebih baik kita segera memulai sarapannya karena sebentar lagi kita harus berangkat menuju proyek." Ucap Galang setelah pembicaraan Yura dan Jeni terhenti.


Yura dan Jeni mengiyakannya. Sedangkan Rey hanya diam namun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Seperti yang biasa ia lakukan saat makan bersama Rey, Yura mengambilkan makanan untuk Rey lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Pergerakan Yura pun tak lepas dari pandangan Galang yang sejak tadi memperhatikannya. Sebagai seorang pria yang sudah dewasa, Galang bukanlah pria bodoh yang tidak mengetahui bekas yang ada di leher Yura saat ini. Ia tahu jelas bekas apa itu dan siapa pelakunya.


Merasa hatinya semakin memanas karena melihat bekas merah di leher Yura dan melihat sikap Yura memperlakukan Rey sebagai suaminya, Galang memilih memutus tatapannya dari Yura dan segera menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Rey yang sejak tadi turut memperhatikan tatapan Galang pada istrinya nampak menarik salah satu sudut bibirnya ke samping. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini. Yang jelas ia merasa sangat senang karena rivalnya itu sudah melihat jejak cinta yang ia tinggalkan di leher Yura.


*


"Yura, Jeni, apa kita sudah bisa berangkat sekarang?" Tanya Galang setelah mengelapkan tisu pada mulutnya.


Yura mengangguk begitu pun dengan Jeni. Mendapatkan anggukan kepala dari Yura membuat Galang mengalihkan tatapan matanya pada Rey.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Rey. Sudah saatnya saya dan tim berangkat untuk meninjau proyek. Apa anda tidak masalah kami tinggalkan di sini?" Tanya Galang.


"Tentu saja tidak masalah." Jawab Rey sekenanya.


"Kak Rey, bukankah setelah ini Kakak juga ingin berangkat menemui rekan kerja Kakak yang ada di kota ini?" Tanya Yura.


Rey mengiyakannya. "Masih ada waktu satu jam lagi untuk aku bertemu dengannya. Kau pergilah lebih dulu biar aku menunggu di sini saja." Jawab Rey.


Yura menganggukkan kepalanya. Melihat Galang dan yang lainnya sudah beranjak dari tempat duduk masing-masing membuat Yura ikut bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku pamit dulu, Kak." Ucap Yura lalu tanpa diduga mengulurkan tangannya pada Rey.


Rey yang mendapatkan perlakuan tak terduga dari Yura pun tak menyia-nyiakannya begitu saja. Ia segera menyalami Yura dan tak lupa memberikan ciuman singkat di kening Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2