Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Prasangka yang salah


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Yura terdengar terus memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya sekitar satu jam yang lalu. Suara muntahan Yura terdengar cukup keras hingga membuat Jeni yang baru masuk ke dalam kamar mandi dibuat cemas.


"Nona Yura, apa anda baik-baik saja?" Walau merasa sangat tidak sopan mengetuk pintu kamar mandi yang ia yakini ada Yura di dalamnya, namun Jeni tetap melakukannya karena merasa sangat cemas pada Yura.


Yura mendengar suara Jeni dan ketukan pintu. Namun ia tidak bisa menjawabnya karena kini ia tengah fokus memuntahkan seluruh makanan yang belum tercerna sempurna di dalam perutnya.


"Hoek..." suara muntahan Yura terdengar semakin keras. Yura memegang dinding kamar untuk untuk menahan tubuhnya karena kini ia merasa sangat lemah untuk berdiri seakan tulang yang menyangga tubuhnya terasa lunak.


"Nona!" Jeni mememik cukup keras setelah masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Yura hampir terduduk di lantai kamar mandi. Dengan gerakan cepat Jeni membantu Yura untuk berdiri dan mendudukkan Yura di atas closet.


"Anda kenapa Nona?" Tanya Jeni. Wajahnya masih terlihat sangat cemas dan bertambah takut.


"Aku tak apa. Akhir-akhir ini asam lambungku sering naik." Lirih Yura. Matanya terpejam seolah menggambarkan betapa lemah tubuhnya sehabis muntah.


"Ayo saya bantu keluar, Nona." Ajak Jeni. Ia harus segera memberikan minum pada Yura dan tidak mungkin memberikannya di dalam kamar mandi seperti ini.

__ADS_1


Yura mengangguk lemah lalu bangkit dari closet dibantu oleh Jeni. Jeni keluar dari dalam kamar mandi sambil memapah Yura. Para karyawan yang sedang berada di loby sekita datang menghampiri Yura saat melihat Jeni yang sedang memapah Yura.


"Tolong bantu saya membawa Nona Yura duduk di sana!" Pinta Jeni sambil menunjuk sofa yang berada di sudut loby.


"Baik Nona." Salah satu wanita yang datang menghampiri mereka pun membantu Jeni memapah Yura ke arah sofa.


Dengan gerakan hati-hati mereka mendudukkan Yura di atas sofa.


"Tunggu sebentar Nona. Saya akan mengambilkan minum untuk Nona." Ucap Jeni.


"Saya tidak apa-apa Jeni. Jangan terlalu cemas begitu." Ucap Yura saat melihat wajah Jeni terlihat begitu cemas dan hampir pucat.


"Tapi anda terlihat tidak baik-baik saja, Nona." Balas Jeni. Wajahnya masih terlihat cemas dan takut.


Tak berselang lama karyawan wanita itu pun datang dan memberikan minum pada Yura. Yura menerimanya dan segera meneguk minuman yang diberikan untuknya hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


Yura menghela nafas panjang lalu membuangnya secara perlahan. Setelah merasa tubuhnya sedikit bertenaga kembali, Yura meminta pada Jeni untuk membawanya ke dalam ruangannya.


"Terima kasih telah membantuku, Jeni." Ucap Yura.


Jeni menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Anda yakin sudah baik-baik saja, Nona?" Tanya Jeni memastikan kembali setelah Yura mengatakan jika kondisinya sudah baik-baik saja saat ini


"Ya. Saya sudah baik-baik saja, Jeni." Jawab Yura seraya tersenyum.


Jeni tak percaya begitu saja. Ia kembali memperhatikan wajah Yura yang terlihat sudah mulai segar kembali. "Apa saya perlu mengabari Tuan Aidan untuk mengatakan kondisi anda saat ini, Nona?" Tawar Jeni karena mungkin Yura membutuhkan saudara kembarnya di saat sakit seperti ini.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2