
"Aku tak apa, Kak. Aku baik-baik saja." Jawab Yura pada Rey.
"Baik-baik saja bagaimana? Wajahmu terlihat pucat seperti ini." Ucap Rey sedikit pelan karena ada banyak orang di sekitarnya.
"Aku memang selalu seperti ini jika berada di keramaian, Kak." Jawab Yura berbohong.
Rey tak percaya begitu saja. Ia hendak menayakan kembali pada Yura apa istrinya itu baik-baik saja atau tidak. Namun niat itu ia urungkan saat Papa Gerry memanggilnya untuk bergabung duduk bersama keluarga Ibu Nany.
"Rachel. Kau bawa Yura keluar dari sini." Titah Rey pada adiknya.
Rachel mengangguk lalu membawa Yura keluar dari rumah Ibu Nany dan membawanya ke tempat yang sedikit sepi. "Yura tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan minum untukmu." Ucap Rachel setelah Yura duduk di atas kursi.
Yura mengangguk saja dan membiarkan Rachel mengambilkan minum untuknya. Tak membutuhkan waktu lama, Rachel pun telah kembali dengan membawa minuman untuk Yura.
"Ayo minumlah." Ucap Rachel.
Yura menerimanya lalu meneguk minuman yang diberikan Rachel hingga tandas.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Yura. Kenapa kau tiba-tiba pucat seperti ini?" Tanya Rachel tanpa menyurutkan raut cemas di wajahnya.
__ADS_1
"Tenanglah, aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing jika berada di keramaian seperti ini. Sebentar lagi aku akan baik-baik saja." Jawab Yura tak ingin membuat adik iparnya khawatir.
"Kalau begitu kita di sini saja."
"Rachel. Biar aku yang di sini saja. Kau masuklah ke dalam dan temui keluarga Ibu Nany. Bukankah kau sangat ingin bertemu dengan kelurga Ibu Nany dan melihat mayat Ibu Nany?" Tanya Yura.
"Tapi..." Rachel tidak mungkin meninggalkan Yura seorang diri atau Kak Rey akan memarahinya.
"Aku tak apa... percayalah." Yura menggenggam tangan Rachel. "Aku akan menunggu kalian di sini." Lanjutnya kemudian.
Rachel menghela nafas sesaat lalu menatap Yura dengan intens. Saat ini ia memang sangat ingin melihat mayat Ibu Nany untuk yang terakhir kalinya dan mengatakan bela sungkawa pada keluarga Ibu Nany.
Yura mengangguk yakin. "Pergilah." Ucapnya.
"Emh, baiklah. Kabari aku jika kau membutuhkanku." Rachel mengangkat ponselnya sebagai kode pada Yura.
Yura mengangguk paham.
"Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu." Ucap Rachel dan diangguki Yura sebagai jawaban.
__ADS_1
Setelah kepergian Rachel, Yura kembali memegang kepalanya yang terasa sakit. "Kenapa rasanya kepalaku sakit sekali melihat keramaian seperti ini. Dan.... hoek." Rasa mual tiba-tiba saja menyerang perutnya saat mencium aroma bunga tujuh rupa yang terasa menyengat di indera penciumannya.
"Ini sungguh tidak nyaman." Keluh Yura lalu menutup hidungnya agar aroma khas bunga kematian tak tercium lagi olehnya. Karena merasa tidak enak dilihat orang disekitarnya ia tengah menutup hidungnya seperti saat ini, Yura memilih beranjak mencari tempat duduk yang baru yang berada di dekat gerbang rumah Ibu Nany.
"Yura?" Suara seseorang yang sangat dikenalinya membuat pandangan Yura teralihkan ke sumber suara.
"Flower?" Gumam Yura menatap Flower yang baru saja datang bersama Mom Rania dan Daddy William.
"Yura, kau ada di sini juga?" Tanya Flower lalu menatap Yura dari atas sampai bawah.
"Emh, ya. Aku ikut bersama Mama dan Papa ke sini." Jawab Yura.
"Apa Kak Rey tidak ikut bersamamu?" Tanya Flower karena Yura tak menyebutkan nama Rey.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.