
Rey terdiam tak dapat menjawab pertanyaan dari Yura saat ini. Rasanya ia tidak mungkin menjawab pertanyaan Yura saat ini karena akan membuat kecanggungan di antara mereka selama acara masih berlangsung. Rey pun memilih berdehem menormalkan situasi di antara mereka saat ini.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, acara malam ini masih berlanjut." Ucap Rey lembut namun terdengar seperti sebuah penolakan di telinga Yura.
"Baiklah." Balas Yura tak ingin memaksa Rey untuk menjawab. Lagi pula ia masih bisa meminta Rey untuk menjawab setelah acara syukuran selesai.
"Tunggulah sebentar di sini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Ucap Rey setelah menyadari jika Yura belum menyentuh makanan apa pun sejak tadi.
"Aku ikut, Kak." Jawab Yura cepat.
"Tidak. Kau cukup di sini saja biarkan aku mengambilnya sendiri." Titah Rey.
Yura menggelengkan kepalanya. "Tapi aku mau ikut, Kak. Lagi pula aku ingin memilih makanan apa saja yang akan masuk ke dalam perutku." Pinta Yura dengan mata berkedip.
Melihat ekspresi menggemaskan istrinya membuat Rey tak kuasa menolaknya. Dengan terpaksa Rey mengiyakan permintaan istrinya dan menuntun Yura menuju arah meja berisi macam makanan berada.
"Yura, kau sudah selesai istirahat?" Tanya Rachel yang tiba-tiba datang menghampiri Yura.
"Sudah." Balas Yura sambil memperhatikan wajah Rachel. "Kau habis dari mana, Chel?" Tanya Yura karena tadi ia melihat Rachel berjalan dari arah taman samping rumahnya berada.
"Aku dari taman." Jawab Rachel jujur.
"Dari taman? Sedang apa kau di sana?" Tanya Yura bingung.
__ADS_1
Rachel hanya diam sambil tersenyum. Senyuman yang dapat Yura artikan penuh makna di dalamnya. Karena tidak ingin memaksa Rachel untuk menjawab terlebih ada Rey di sebelahnya membuat Yura segera melanjutkan niatnya mengambil makanan.
Sedangkan Rachel terlihat mengelus dadanya setelah kepergian Yura. "Syukurlah Yura tidak memaksaku untuk menjawab di saat ada Kak Rey seperti saat ini." Ucap Rachel merasa lega. Pandangan Rachel pun beralih pada pintu samping taman sambil menunggu seseorang keluar dari sana.
"Sepertinya dia masih betah berada di sana." Gumam Rachel sambil tersenyum miring. Tak ingin lagi menunggu orang itu masuk kembali ke dalam rumah, Rachel memilih menghampiri Alula yang kini terlihat sibuk menyantap makanan yang ada di hadapannya saat ini. "Saatnya mengganggu Alula." Ucapnya dengan senyum menyeringai.
*
Sementara seseorang yang tadi Rachel tunggu terlihat tengah menangis sambil mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"Apa itu benar? Apa benar jika Kak Rey sudah lama menyimpan rasa pada Yura?" Wanita itu terlihat menangis dengan isakan kecil yang keluar dari dalam mulutnya. "Apa selama ini aku sudah salah paham dengan sikap Kak Rey pada Yura? Jadi selama ini Kak Rey bukan membenci Yura justru mencintainya?" Wanita itu pun menggeleng mengusir prasangka baik yang datang menghampirinya saat ini.
"Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Sejak kecil Kak Rey selalu baik padaku bahkan sangat jarang mengabaikanku. Aku yakin Kak Alfin pasti salah bicara!" Wanita yang tak lain adalah Flower nampak menggeleng tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya tadi.
"Tuan Alfin tidak salah bicara." Sahut seseorang secara tiba-tiba.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1
"Ya. Kakak mengetahuinya walau terlambat menyadarinya. Di balik sikap dingin dan ketusnya padamu, selama ini Rey menyimpan rasa untukmu. Dengan berjalannya waktu Kakak akhirnya mengetahui alasan Rey bersikap buruk kepadamu. Dan apa kau tahu, ternyata bukan hanya Kakak saja yang mengetahui perasaan tersembunyinya itu. Tapi juga Papa Gerry."
"Apa?" Yura terkesiap. "Papa Gerry juga mengetahuinya? Bagaimana bisa?"
"Terlalu banyak waktu yang harus digunakan jika Kakak menjelaskannya padamu. Lebih baik kau menanyakannya sendiri pada suamimu di waktu dan tempat yang tepat. Kakak yakin dia mau menceritakannya padamu."
"Tunggu dulu!" Ingatan Yura tiba-tiba tertuju pada awal mula pernikahannya dan Rey yang terbilang tidak masuk akal. Bagaimana saat itu Aidan tiba-tiba berada di sana dan ban Rey yang bocor tiba-tiba sudah kembali bagus.
"Apa Kakak bisa menjelaskan sesuatu bagaimana saat itu Kakak bisa tiba-tiba datang ke desa dan ban mobil Kak Rey yang bocor tiba-tiba bagus saat itu?" Tanya Yura tertuju pada hari pernikahannya dan Rey.
"Itu karena..." Aidan terlihat menahan senyum saat mengingat hari memalukan di hidup Rey dan Yura waktu itu.
"Kakak ayo jawab!" Tekan Yura merasa sangat penasaran. Sangking paniknya karena amukan warga waktu itu membuatnya lupa menanyakan maksud kedatangan Aidan datang ke desa waktu itu.
"Maafkan Kakak Yura. Itu semua terjadi karena kesepakatan antara Kakak, Ayah dan Om Gerry." Jawab Aidan jujur. Lagi pula tidak ada lagi hal yang harus ia sembunyikan dari Yura mengingat saat ini Rey sudah menyatakan cintanya dan kehidupan keluarga adiknya sudah terlihat sangat bahagia.
"A-apa? Kesepakatan apa yang Kakak maksud?"
Aidan pun mulai menceritakan awal mula kesepakatan di antara mereka terjadi. Di saat Papa Gerry datang mengunjungi perusahaan Dharma dan menceritakan bagaimana pendapatnya tentang perasaan Rey selama ini pada Yura dan bagaimana tertekannya Rey karena perjodohannya dan Flower. Walau sikap Rey selalu datar dan dingin pada setiap orang dan sangat jarang menunjukkan apa yang dirasakannya, namun Papa Gerry dapat merasakan jika selama ini Rey sangat tertekan dengan permintaan sahabat istrinya yang sudah dianggap Rey sebagai ibunya sendiri dan juga Kyara yang setuju dengan keinginan Rania.
Karena terlalu banyak pertimbangan yang dipikirkan Papa Gerry untuk kesejahteraaan hidup putranya untuk ke depannya membuat Papa Gerry meminta solusi pada Ayah Rangga dan Aidan karena ia mengetahui jika Yura sudah sejak kecil menyukai putranya begitu pun sebaliknya. Akhirnya Papa Gerry dan Ayah Rangga menyusun rencana ekstrim untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai yang tak lain adalah Rey dan Yura.
Yura yang mendengarkan penjelasan panjang lebar Aidan dibuat membola dengan wajah tak percaya. Ternyata selama ini ia telah dibohongi oleh ayah dan mertuanya bahkan kakak kembarnya juga ikut andil dalam pernikahan dadakannya. Ia benar-benar tidak menyangka demi kebahagiaannya san Rey mereka sampai merencanakan hal yang di luar nalar seperti saat itu.
__ADS_1
"Jika kau merasa marah pada Kakak, Ayah dan Om Gerry saat ini Kakak tidak mempermasalahkannya. Kau berhak marah karena merasa telah dipermalukan. Namun harus kau ingat dan sadari. Saat itu pernikahan tidak akan terjadi jika Rey mau menolak keinginan warga dengan menggunakan kekuasaan yang Rey miliki. Kau sudah paham maksud ucapan Kakak bukan?"
***