
Kekesalan Flower karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan akhirnya berlanjut sampai ia berada di perusahaan Bagaskara. Keluar dari dalam lift, Flower menghentakkan kedua kakinya dengan kedua tangan terkepal erat.
"Mommy tidak lagi menyayangiku begitu juga dengan Daddy!" Geramnya. Jika biasanya Daddynya akan tetap menuruti keinginannya di saat Mom Rania tidak menurutinya, namun kini berbeda. Daddynya itu terlihat setuju dengan pendapat Mom Rania tanpa memikirkan perasaannya yang tengah terluka.
"Sungguh menyebalkan!" Amuk Flower kembali menghentakkan kedua kakinya. Ia terus melangkah sambil menghentakkan kakinya hingga sampai di depan ruangan kerja Malik.
"Apa anda sedang sakit, Nona?" Tanya Malik datar pada Flower.
Flower menatap malas pada pria yang akhir-akhir ini sering memancing emosinya. "Sehat atau pun tidak itu bukan urusan anda Tuan Malik." Ucap Flower dengan tersenyum.
"Tapi saat ini menjadi urusan saya karena anda bersikap seperti orang tidak sehat, Nona. Dan itu sangat mengganggu penglihatan saya." Ucap Malik.
"Ck." Lidah Flower berdecak pelan mendengar ucapan Malik. "Saya sangat sehat dan anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan saya." Jawab Flower malas.
Malik memilih diam tak menanggapi ucapan Flower kembali. Malik pun memilih melangkah meninggalkan Flower menuju ruangan Rey berada.
__ADS_1
"Ish, sopan sekali dia!" Kekesalan Flower yang tadi belum hilang pun semakin bertambah karena sikap Malik padanya. Flower pun melangkah ke arah meja kerjanya dengan menahan kekesalan di dalam dirinya saat ini.
Sementara Malik yang sudah masuk ke dalam ruangan kerja Rey nampak menatap beberapa berkas yang diberikan Rey padanya.
"Selama saya berada di luar kota saya harap kau bisa menghandle perusahaan dengan baik." Ucap Rey pada Malik.
Malik mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Jawabnya.
"Kalau begitu kau boleh keluar sekarang. Sebentar lagi saya ingin bersiap-siap untuk pergi ke liar kota." Ucap Rey.
Setelah kepergian Malik, Rey pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir selesai. Senyuman tipis nampak terbit di wajah tampannya saat pemikirannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang akan ia susul nanti sore.
*
Di sebuah hotel yang berada di kota S, Yura baru saja masuk ke dalam kamar hotel setelah selesai melakukan pertemuan dengan para pekerja dan penanggung jawab proyek bersama Galang, Roy dan Jeni.
__ADS_1
"Huft rasanya lelas sekali." Keluhnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dilihat pesan yang dikirimkan untuk Rey beberapa jam yang lalu belum dibalas bahkan belum dibaca oleh Rey. "Kenapa Kak Rey tidak membalas pesan yang aku kirimkan?" Tanya Yura merasa bingung.
"Sudahlah, mungkin Kak Rey sedang sibuk." Ucap Yura. Merasa tubuhnya sudah sangat lelah membuat Yura memutuskan untuk memejamkan kedua kelopak matanya untuk tidur lebih dulu sebelum membersihkan tubuhnya.
Tak terasa hampir dua jam sudah Yura tertidur di kamar hotel, Yura yang baru saja bangun dari tidurnya pun segera melihat ponselnya untuk melihat pesan dari Rey saat mengingat Rey belum membalas pesan yang tadi ia kirimkan.
"Belum dibalas juga?" Lirih Yura. Yura pun segera bangkit dari duduknya dan melakukan panggilan telefon dengan Rey.
"Tidak diangkat juga?" Gumam Yura setelah panggilan ketiga namun Rey tak kunjung mengangkat telefon darinya. Perasaan Yura pun berubah resah saat memikirkan kemana perginya suaminya itu saat ini.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.