Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Perintah ambigu


__ADS_3

Tak ada yang bisa Flower lakukan pagi itu selain menggerutu dalam hati karena sikap Rey yang berubah padanya setelah menikah dengan Yura. Pekerjaan yang telah diberikan padanya pun terasa enggan Flower kerjakan jika tidak mengingat posisinya akan terancam jika tak mengerjakannya.


Kekesalan Flower pun semakin bertambah karena Rey tak membalas pesan yang ia kirim. Bukan hanya tak membalasnya, Rey juga bahkan tak membaca pesannya. "Ini benar-benar menyebalkan!" Flower menepuk mejanya cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring. OB yang sedang bekerja membersihkan lantai pun dibuat terkejur mendengar suara dari meja yang ditepuk Flower.


"Apa?" Flower menatap tak suka saat OB menatap padanya sambil mengelus dada. OB yang sedang menatap pada Flower pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanya agar tak mendapatkan amukan dari Flower.


"Agh, sial sekali. Untuk apa aku bekerja di perusahaan ini jika aku jarang berjumpa dengan Kak Rey!" Flower dibuat kembali menggerutu karena tak berjumpa dengan Rey pagi ini. "Jika saja Kak Rey belum menikah dengan Yura, aku tidak akan segan mencarinya ke rumah Om Gerry dan Tante Kya." Lanjut Flower kemudian.


Ting


Suara notifikasi pesan masuk dalam ponselnya menghentikan aksi gerutuan Flower. "Bekerjalah dengan benar! Segera selesaikan berkas yang saya minta karena nanti siang saya akan mengambilnya." Ucap Flower dalam hati membaca pesan dari Malik. "Pria ini... apa dia seorang peramal sehingga dapat mengetahui aktivitasku saat ini yang tidak sedang bekerja?" Gumam Flower merasa aneh. Tak ingin larut dalam kekesalannya saat ini, Flower memilih segera membalas pesan Malik dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Malik yang baru saja sampai di depan rumah Rey nampak berjalan masuk ke dalam rumah setelah seorang pelayan datang membukakan pintu untuknya.


"Dimana Tuan Rey, Bibi?" Tanya Malik pada pelayan.


"Tuan Rey ada di ruang tengah, Tuan." Jawab pelayan ramah.

__ADS_1


Malik menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah ruang tengah berada. Sesampainya di ruang tengah, dilihatnya Rey tengah sibuk melihat layar laptopnya dengan kesepuluh jemarinya bergantian menari di atas keyboard laptop.


"Tuan Rey..." ucap Malik sambil berjalan mendekat pada Rey.


Rey mengangkat kepalanya setelah mendengarkan suara Malik. "Malik, kau sudah datang?" Tanya Rey.


Malik mengangguk. "Ini salepnya, Tuan." Ucap Malik sambil menyerahkan kotak berisi salap pada Rey.


"Apa kau tidak salah salep?" Tanya Rey.


"Bagus. Kau memang bisa diandalkan." Ucap Rey. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Rey pun berpamitan sejenak pada Malik untuk naik ke kamarnya. Sedangkan Malik, memilih duduk diam di atas sofa sambil mengecek email masuk ke dalam ponselnya.


Ceklek


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka dari luar mengejutkan Yura yang sedang melihat isi pesan masuk ke ponsel Rey dari layar kunci Rey yang tiba-tiba menyala.


Rey menatap ke arah ponselnya yang berada di atas nakas. Tadi ia melupakan membawa ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan hanya fokus pada layar laptopnya sebelum turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Rey terus berjalan hingga tiba di depan Yura.


"Ada apa Kak?" Tanya Yura pada Rey.


"Mengangkang-lah." Ucap Rey datar sambil menatap ke arah bagian inti Yura.


"A-apa?" Yura dibuat gugup mendengar ucapan Rey yang tiba-tiba menyuruhnya untuk mengang-kang.


"Maksudku buka celanamu." Titah Rey lagi melihat kebingungan di wajah Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2