Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Cemburu yang mulai berkobar


__ADS_3

"Apa dia marah kepadaku?" Gumam Yura sambil mempersiapkan air hangat untuk Rey. "Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya. Mungkin saja sikapnya tadi karena dia merasa memiliki tanggung jawab setelah Ayah menitipkan aku padanya." Ucap Yura tak ingin ambil pusing.


Setelah mempersiapkan air mandi untuk Rey, Yura segera keluar dari dalam kamar mandi. Yura mengelus dadanya saat melihat Rey sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi sambil menatap dingin padanya. Dan jangan lupakan saat ini Rey sudah bertelanjang dada yang membuat Yura gugup melihatnya.


"Apa Kakak sudah ingin mandi?" Tanya Yura berusaha bersikap biasa saja.


Rey hanya diam lalu sambil menatap wajah Yura cukup lama. Setelahnya ia melewati tubuh Yura begitu saja dan menutup pintu kamar mandi. Yura pun mengelus dadanya saat pintu kamar mandi sudah tertutup dari dalam.


"Sudahlah Yura, tidak perlu memikirkannya. Bukankah dia sudah terbiasa bersikap seperti itu padamu?" Ucapnya lalu menghembuskan nafas bebas di udara.


Tak ingin ambil pusing dengan sikap Rey saat ini, Yura segera berjalan ke arah lemari  mengambil pakaian ganti untuk Rey. Setelahnya ia menyiapkan pakaian untuk dirinya sendiri.


Sambil menunggu Rey keluar dari dalam kamar mandi, Yura memutuskan untuk membalas pesan-pesan masuk ke dalam ponselnya yang belum sempat ia balas termasuk pesan dari Galang.


"Dia masih saja lucu seperti dulu." Gumam Yura setelah membaca pesan berisi gombalan dari Galang. Yura pun mengetikkan pesan balasan untuk Galang sambil tersenyum.


Tak berselang lama, Galang sudah mengirimkan pesan balasan kembali untuknya yang membuat Yura kembali dibuat menggelengkan kepalanya. "Anak itu..." lirih Yura. Yura kembali membalas pesan dari Galang yang membuat percakapan mereka semakin panjang.

__ADS_1


Cukup lama Yura berbalas pesan dengan Galang hingga akhirnya Yura mematikan layar ponselnya saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Rey terlihat keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil di tangannya. Yura kembali dibuat gugup saat melihat Rey yang tengah bertelanjang dada dan hanya menggunakan selembar handuk melilit pinggangnya.


Yura pun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak lupa Yura menyempatkan memberikan senyuman manisnya pada Rey saat melewati tubuh Rey.


Rey menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan wajah datarnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya ke arah ranjang untuk mengambil baju yang dipersiapkan Yura untuknya lalu memakainya. Saat tengah memakai baju, perhatian Rey seketika tertuju pada ponsel Yura yang bergetar tergeletak di atas nakas.


Entah apa yang ada dalam pemikiran Rey saat ini, Rey memilih berjalan ke arah ranjang dan melihat notifikasi pesan masuk di ponsel Yura. Rahang Rey seketika mengetat setelah melihat nama pengirim pesan dan isi pesan dari layar notifikasi ponsel Yura.


"Dia sungguh tidak tahu malu." Gumam Rey. Setelah layar ponsel Yura kembali mati, Rey pun kembali melanjutkan kegiatannya memakai baju di tubuhnya.


*


Senyuman di wajah Yura kembali terbit saat melihat balasan pesan dari Galang yang memujinya sekaligus mengungkit tingkah laku Yura saat mereka masih sekolah dulu. Dan segala pergerakan Yura tak lepas dari tatapan mata Rey.


Yura meletakkan kembali ponselnya di atas nakas setelah membalas pesan dari Galang. Betapa terkejutnya Yura saat membalikkan tubuhnya, Rey sudah berdiri tak jauh darinya.


"Kak Rey, aku turun ke bawah dulu mau membantu Mama mempersiapkan makan malam." Ucap Yura dengan tenang.

__ADS_1


Rey hanya diam menatap intens wajah Yura.


"Kalau begitu aku keluar dulu." Pamit Yura. Yura hendak melangkah untuk keluar dari dalam kamar namun tangan Rey dengan cepat mencegahnya.


"Untuk besok sampai seterusnya aku akan mengantarkanmu pergi dan menjemputmu pulang bekerja. Dan ingat jangan pulang sebelum aku menjemputmu!" Ucap Rey dengan tegas.


"Apa? Tapi apa itu tidak terlalu merepotkan, Kak? Jarak perusahaan kita cukup jauh dan Kakak bisa terlam—" Ucapan Yura terhenti saat Rey menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak meminta pendapat darimu. Aku mengatakan sebuah perintah tanpa bantahan." Ucap Rey dengan tegas.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenara🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2