Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Jangan berteriak!


__ADS_3

"Kau lihat ini, Yura, Galang semakin tampan dan mapan." Puji Rachel sambil menunjukkan beberapa foto Galang pada Yura.


Yura memilih diam saja namun tetap menatap pada ponsel Rachel yang menunjukkan foto Galang di sana. Rachel pun terus memuji kehebatan Galang saat ini dengan sedikit membesarkan suaranya agar Rey dapat melihatny.


"Chel, ayo simpan ponselmu. Om Gerry sudah datang." Bisik Yura di telinga Rachel.


Rachel menoleh menatap Gerry yang baru mendaratkan bokongnya di atas kursi. Ia pun segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celanya.


Gerry pun menyapa Yura lebih dulu dan berbincang singkat sebelum akhirnya mengajak mereka untuk memulai makan malam bersama.


Selama makan malam berlangsung Yura nampak duduk dengan tenang sambil menikmati makanan yang terasa lezat di lidahnya tanpa menyadari jika kini Rey tengah menatapnya sambil menikmati menikmati makanan di depannya.


Rachel yang menyadari pandangan Rey yang terus tertuju pada Yura pun menyikut lengan Yura.


"Lihatlah, Kak Rey sedang memperhatikanmu." Ucap Rachel sangat pelan namun dapat didengar oleh Yura.


Yura seketika menatap ke arah depan dimana kini Rey terlihat jelas tengah menatapnya dengan tatapannya yang datar dan dingin seperti biasanya ia menatapnya.


Deg


Denyut jantung Yura berdetak begitu cepat saat tatapannya dan Rey saling beradu.


"Ehem." Deheman Gerry memutus tatapan di antara Yura dan Rey.

__ADS_1


Yura segera menundukkan pandangannya dan kembali melanjutkan memakan makanannya hingga tandas tanpa menatap ke depan. Rachel yang sejak tadi mencuri pandang sikap Rey dan Yura pun tersenyum tipis sambil menghabiskan sisa makan malamnya.


Setelah makan malam selesai, Rachel mengajak Yura kembali ke dalam kamarnya karena ada hal yang ingin ia ceritakan pada Yura.


"Ayo cepat ke sini, Yura." Ajak Rachel sambil menepuk ranjang kosong di sebelahnya.


Yura mengangguk mengiyakan dan segera naik ke atas ranjang. "Jadi hal apa yang ingin kau ceritakan padaku?" Tanya Yura sambil menaikkan sebelah alis matanya ke atas.


Wajah Rachel pun berubah malu-malu mendengar ucapan Yura. "Aku jadi malu untuk menceritakannya." Ucap Rachel.


Kening Yura mengkerut. Ia pun mencoba membaca raut wajah Rachel saat ini. "Jangan bilang jika saat ini kau sedang jatuh cinta pada seseorang?" Tebak Yura.


Rachel menutup wajahnya lalu mengangguk sebagai jawaban.


Rachel menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin mengatakan siapa namanya. Aku hanya ingin menceritakan bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadanya." Ucap Rachel dengan wajah yang sudah memerah.


"Sejak kapan kau menjadi tertutup kepadaku, hem?" Yura memasang wajah kesalnya. "Ayo katakan siapa orangnya dan bagaimana ceritanya kau bisa jatuh cinta?" Desak Yura merasa penasaran karena kali ini untuk pertama kalinya Rachel mengatakan jika ia jatuh cinta pada seorang pria setelah beberapa tahun lalu ia menutup hatinya rapat-rapat untuk tidak jatuh cinta lagi.


Di depan pintu kamar Rachel yang sedikit terbuka Rey mendengar sayup-sayup percakapan Yura dan Rachel yang tidak terlalu jelas di telinganya. "Apa mereka tidak bisa tenang jika sedang berdua." Gumamnya dan memilih melanjutkan langkahnya menuju balkon.


*


Setelah puas bercerita tentang bagaimana ia bisa jatuh cinta dan terpaksa membocorkan siapakah pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta, Rachel pun terlelap tanpa menunggu Yura yang masih terjaga sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Dia mudah sekali tidur." Yura menggelengkan kepalanya menatap pada Rachel yang tengah tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Yura pun kembali melanjutkan memainkan ponselnya melihat berita perkembangan terbaru tentang perusahaannya dan dilanjutkan memainkan media sosial miliknya.


"Sudah lama sekali aku tidak pernah memantau akunnya lagi." Gumam Yura. Ia cukup merasa senang dengan kondisi hatinya yang saat ini jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. "Tetaplah seperti ini, Yura, dan fokuslah pada masa depanmu."


Jarum jam terus berputar ke arah kanan dan semakin naik hingga tanpa Yura sadari sudah menunjukkan pukul jam setengah satu malam. "Pantas saja mataku sudah mengantuk karena sudah lewat dari tengah malam." Yura mematikan layar ponselnya lalu meletakkan di atas nakas. "Kenapa aku merasa haus sekali." Yura mengusap tenggorokannya yang terasa kering.


Ia pun menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang dengan hati-hati lalu memutuskan keluar dari dalam kamar Rachel untuk mengambil minuman di dapur.


"Kenapa dapurnya gelap sekali?" Gumam Yura saat sudah berada di dekat dapur. Yura pun terus berjalan dan berusaha mencari letak saklar namun tak kunjung menemukannya. "Tahu begini lebih baik aku membawa ponselku tadi." Gumamnya sambil terus berjalan masuk ke dalam dapur.


Saat sudah berada dekat dengan meja makan di dalam dapur, Yura hampir saja berteriak saat tubuhnya tanpa sadar menabrak sosok yang tengah berdiri sambil menuangkan air dari dalam teko ke dalam gelas minumannya.


"Aahp..." Teriakan Yura lenyap begitu saja saat tangan seseorang mendekap erat mulutnya.


"Diamlah atau kau akan membangunkan seisi rumah!" Cetus pria yang sangat Yura ketahui siapakah pemilik suara itu.


Kak Rey... Ucap Yura dalam hati dengan mata membola sempurna.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2