Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Kau merindukanku?


__ADS_3

Selama berada dalam perjalanan dari bandara menuju ke rumahnya Rey selalu terfikir dengan istrinya yang saat ini sepertinya sudah terlelap. Bayang-bayang istrinya yang sedang terlelap dengan wajah menggemaskan membuatnya merasa tidak sabar untuk cepat sampai di kediamannya.


Gerry yang sejak tadi mencuri pandang pada putranya dibuat bingung melihat Rey yang sesekali tersenyum menatap layar ponselnya. "Apa kau baik-baik saja, Rey?" Tanya Gerry.


Wajah Rey seketika berubah datar. "Ya. Aku baik-baik saja. Ada apa, Pa? Tanyanya.


"Tidak ada. Sepertinya baru saja Papa melihatku sedang tersenyum sendiri. Papa kira kau sedang tidak baik-baik saja." Goda Gerry.


"Ehem." Rey berdehem. "Aku baik-baik saja dan tidak tersenyum seperti yang Papa katakan." Jawabnya mengelak.


Papa Gerry mengiyakan saja. Lagi pula percuma saja ia memaksa putranya untuk mengaku karena Rey tidak akan melakukannya. Gerry dan Rey pun kembali diam satu sama lain. Setelah ketahuan sedang tersenyum sendiri oleh papanya membuat Rey menahan wajahnya agar tidak tersenyum saat membayangkan wajah menggemaskan istrinya.


"Kau yang membuat aku malu seperti ini." Gumam Rey tertuju pada sosok wanita yang sedang ia lihat fotonya saat ini.


*


Lima belas menit kemudian, mobil milik Papa Gerry sudah tiba di kediaman Rey. Rey turun lebih dulu lalu mengeluarkan kopernya dari dalam mobil dibantu oleh sopir.

__ADS_1


"Papa tidak singgah dulu?" Tanya Rey.


Papa Gerry menggeleng. "Lain kali saja. Yura dan Rachel pasti sudah tidur saat ini. Lagi pula Papa ingin cepat pulang karena Mama pasti sedang tidur sendiri saat ini." Jawab Gerry.


"Baiklah." Jawab Rey lalu melepas kepergian papanya pulang ke rumahnya. Setelah melihat mobil milik Papa Gerry pergi meninggalkan perkarangan rumahnya, Rey pun segera masuk ke dalam rumah.


"Biar saya bantu, Tuan." Seorang pelayan yang tengah menyambut kedatangan Rey menawarkan untuk membantu membawakan koper milik Rey.


"Tidak perlu biar saya saja. Lebih baik sekarang Bibi kembali ke kamar dan istirahat." Ucap Rey.


Ceklek


Suara pintu yang terdengar terbuka tak membuat Yura dan Rachel yang sedang tertidur pulas merasa terganggu. Rey berjalan dengan hati-hati ke arah ranjang sambil menarik kopernya. Dilihatnya wajah wanita yang sudah sangat dirindukannya sedang terlelap dengan mulut sedikit terbuka lalu mengalihkan pandangan pada adiknya yang tertidur sama seperti Yura.


"Mereka tidak jauh berbeda." Gumam Rey. Rey meninggalkan ranjang lalu melangkah ke arah lemari untuk meletakkan kopernya di sana. Setelah selesai, ia kembali melangkah ke arah ranjang.


"Kak Rey?" Ucap Rachel dengan suara parau saat melihat wajah Rey yang begitu dekat dengannya.

__ADS_1


"Pindah ke kamar tamu." Titah Rey setelah berhasil membangunkan adiknya itu.


Walau masih dalam kondisi setengah sadar Rachel tetap menuruti keinginan kakaknya itu. Melihat adiknya yang masih linglung membuat Rey mengantarkan Rachel lebih dulu ke kamar tamu lalu kembali ke dalam kamarnya.


"Huh." Rey menghembuskan nafas legas setelah ia berbaring di sebelah istrinya.


"Kak Rey..." gumam Yura dalam tidurnya.


Rey tersenyum tipis mendengar istrinya yang bergumam dalam tidurnya memanggil namanya. "Apa kau merindukanku, hem?" Lirih Rey lalu menarik tubuh Yura ke dalam pelukannya. Rasa lelah yang tadi ia rasakan setelah cukup lama berada di luar negeri hilang sudah saat memeluk kekasih hatinya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2