Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Tidak ada yang boleh menyentuhnya!


__ADS_3

"Yura, kau tak apa?" Tanya Galang merasa cemas melihat Yura yang hampir tersedak.


"Emh, ya, aku tak apa. Kau bilang apa tadi? Memegang perutku?" Ulang Yura.


Galang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah boleh?" Tanyanya lagi.


Yura terdiam sambil berpikir keras. Di satu sisi ia tidak mungkin membiarkan Galang memegang perutnya karena Galang adalah seorang pria yang tidak berhubungan dekat dengannya. Tapi di satu sisi lain Yura merasa sungkan untuk menolaknya. Di tengah kebingungan Yura dengan keputusannya untuk Galang, seseorang tiba-tiba datang dan berkata.


"Tidak boleh!" Sahutnya dengan tegas dan tatapan tajam.


"Ka-kak Rey..." lirih Yura menatap Rey yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka. Entah kapan suaminya itu berada di dekat mereka dan ada urusan apa berada di tempat yang sama dengan mereka.


"Jangan berani kau memegang perut istriku atau ku patahkan tanganmu!" Ucap Rey dengan pelan namun terdengar penuh ancaman.


Tak berbeda hal dengan Yura, Galang juga begitu terkesiap melihat keberadaan Rey di dekat mereka.


"Sayang, kau dengar apa yang aku ucapkan? Jangan sampai ada pria lain yang memegang perutmu atau tangan mereka akan hilang." Ucap Rey pada Yura dengan lembut dan ekspresi datar nan dingin.

__ADS_1


"Sa-sayang?" Yura dibuat salah fokus dengan ucapan Sayang dari Rey untuknya bukan ancaman dari Rey.


"Ya. Sayang." Balas Rey lalu mengusap-usap rambut Yura.


"Sayang..." ulang Yura sekali lagi dengan jantung berdebar-debar.


Rey terus memberikan usapan pada rambut istrinya sambil menatap Galang dengan tatapan tajam. Galang yang ditatap tajam oleh Rey hanya bisa diam dan menghela nafas panjang. Ingin sekali ia menjelaskan jika ia hanya ingin sekedar memegang perut Yura dan tidak lebih dari itu. Namun Galang memilih diam dan membiarkan Rey tetap menatapnya dengan tajam.


"Bisakah Kakak untuk duduk. Tidak enak dilihat orang seperti ini." Pinta Yura dengan pelan.


Rey pun mengiyakan permintaan Yura dengan duduk di sebelah Yura karena Jeni sudah beranjak dan kini duduk di sebelah Galang.


"Emh, tidak." Jawab Yura sedikit kaku karena kini Galang dan Jeni tengah menatap pada mereka.


"Syukurlah kalau begitu." Rey terus memberikan usapan lembut pada Yura dan sesekali menatap tajam pada Galang seolah memberi peringatan jika Yura adalah miliknya dan tidak boleh ada satu orang pun yang boleh menyentuh tubuh Yura selain dirinya.


"Kak Rey sedang apa di sini?" Tanya Yura yang sejak tadi sudah merasa penasaran dengan tujuan suaminya berada di tempat yang sama dengannya.

__ADS_1


"Aku ada pertemuan di cafe ini sebentar lagi." Jawab Rey singkat tanpa ingin menjelaskan alasan ia memilih tempat pertemuan yang sama dengan Yura karena ingin memata-matai pergerakan istrinya dan Galang.


"Pertemuan dengan siapa?" Tanya Yura dengan wajah bingung.


"Dengan Alfin." Jawab Rey.


"Kak Alfin?" Yura semakin dibuat bingung. Bagaimana tidak, jika Rey hanya ingin bertemu dengan Alfin ia tidak perlu memilih tempat yang sangat jauh dari perusahaan mereka karena perusahaan mereka berjarak lumayan dekat.


"Ya. Alfin. Sebentar lagi dia akan sampai." Jawab Rey.


Yura mengangguk-angguk saja seolah percaya dan menerima begitu saja perkataan suaminya. Namun berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2