Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Alasan pergi waktu itu


__ADS_3

"Hua..." Rey terkejut mendengar tangisan Yura yang terdengar sangat keras di akhir ia bercerita.


"Hei, ada apa denganmu?" Rey berusahan menenangkan Yura dengan mengusap-usap punggungnya.


Bukannya berhenti menangis Yura justru semakin menangis dengan kencang. "Hua..." Yura bahkan kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hei... kau ini kenapa?" Rey mulai cemas melihat istrinya.


"A-aku..." Yura terbata sambil membuka kedua tangannya dari wajahnya.


"Kau kenapa, hem?" Tanya Rey lalu menarik tubuh Yura ke dalam dekapannya.


"Aku bahagia... sangat bahagia." Jawab Yura sedikit terbata di dalam pelukan suaminya.


"Kau bahagia?" Tanya Rey yang diangguki Yura dengan cepat. Tangan Rey pun terulur mengusap-usap punggung istrinya. "Kenapa kau bisa bahagia, hem?" Tanga Rey lembut.


"Itu karena aku tahu jika Kakak sudah sejak lama juga menyukaiku tapi aku tidak menyadarinya." Jawab Yura lalu semakin mendekap erat tubuh Rey.


Rey tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Ia pun membalas dekapan Yura tak kalah erat. Sedetik kemudian Rey pun tersadar jika ada anak-anaknya di dalam perut Yura yang terjepit karena pelukan mereka. Rey pun melerai dekapannya lalu mengusap air mata yang berjatuhan di pipi Yura dengan jari jempolnya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi..." ucap Rey.


"Aku menangis bahagia." Balas Yura sambil meneteskan air matanya kembali.


Rey hanya bisa menghela nafas melihat istrinya yang masih saja menangis.


"Sekarang bisakah kau menceritakan hal apa yang membuatmu memutuskan untuk pindah ke desa dan menetap di sana hingga dua tahun lamanya?" Tanya Rey yang merasa cukup penasaran alasan yang membuat Yura pergi waktu itu.


"Kakak benar ingin tahu?" Tanya Yura.


Rey mengangguk dengan cepat.


"Itu semua karena Kakak." Jawabnya lirih.


"Kerena aku?" Kening Rey mengkerut.


"Ya." Yura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Apa Kakak ingat acara perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Kakak waktu?" Tanya Yura.


"Ya. Hari itu adalah hari terakhir kau datang ke pesta perayaan ulang tahun pernikahan Mama dan Papa." Jawab Rey.

__ADS_1


"Kakak benar. Di hari itu aku mendengar kabar jika Kakak sudah dijodohkan dengan Flower dari Tante Rania yang sedang berbicara dengan rekan bisnis Om William. Walau mereka berucap sedikit pelan namun aku dapat mendengarnya dengan jelas dan dapat menilai jika apa yang dikatakan Tante Rania sungguh-sungguh."


"Apa?" Rey dibuat terkejut mendengarnya. Yura pun melanjutkan ceritanya kembali.


"Saat itu, aku begitu terkejut mendengarnya. Hatiku sakit. Sangat sakit karena mengetahui pria yang aku cintai sejak kecil ternyata telah dijodohkan dengan wanita lain dan wanita itu adalah orang yang sangat aku kenali." Yura tanpa sadar kembali meneteskan air matanya sambil bercerita.


"Setelah mendengarkan kabar itu, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan perasaan hancur dan remuk. Aku sadar saat itu tidak akan bisa memiliki Kakak karena tembok tinggi sudah membentang jarak di antara kita. Dan aku mulai menebak alasan Kakak selalu bersikap buruk padaku karena Kakak ingin menghargai perasaan Flower yang sudah berstatus sebagai calon istri Kakak."


"Apa itulah alasan kau memilih pergi saat itu?" Pungkas Rey cepat karena sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Yura.


"Ya." Yura memgangguk mengiyakannya.


"Oh astaga..." Rey mengusap wajahnya kasar.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2