
"Hemmm, Apa yang membuatmu yakin aku mau" Ucap Ketua Red Devil dengan siku dilutut dan jari di dagu.
"Aku yakin kau mau, Jika tidak aku bisa saja menghancurkan semua hal yang kau miliki, Tentukanlah pilihanmu!" Ucap Zai lagi.
"Haha Kau terlalu muda untuk menghancurkan semua hal yang sudah ku bangun dari bawah." Tatapnya dengan amarah yang menyala "Lagi pula apa yang kau dapat dari menghancurkan milikku? Kekuasaan yang bagaimana yang kau inginkan?" Tanyanya.
Diam, Zai terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.
"Aku hanya menjalankan tugasku saja, Tugas untuk menyatukan semua kekuatan yang ada, Naifkah, Aku tak peduli dengan kata itu, Aku hanya peduli jika orang lain akan tunduk kepadaku" Ucap Zai lalu berdiri dan berbalik melangkah, Sadam dan Jani mengikuti dari belakang menjaga Zai kalau ada yang menyerang.
Zai menghentikan langkahnya "Ku tunggu jawabanmu dalam dua hari, Dua hari lagi aku akan berkunjung kembali, dan satu lagi lepaskan dua anggota Macan Hitam yang kalian tangkap, Jika ada kecacatan pada mereka kalian akan menanggung akibatnya!" Dia pun melanjutkan lagi langkahnya yang tertunda.
Satu langkah, Dua langkah, Lima Langkah berjalan mereka dihentikan oleh suara nyaring, "Jika sudah bertamu kenapa harus pergi dengan tangan kosong" Ucap Parno alias ketua Red Devil lalu dia berkata lagi "Beri mereka hadiah untuk menyenangkan mereka" Dengan seringai yang menakutkan bagi anak buah nya.
Anak buahnya jelas mengerti dengan kalimat hadiah, Karna itu sering keluar dari mulut ketua mereka jika ketua Red Devil itu sedang marah.
Pintu segera tertutup dan Zai berbalik di ikuti oleh dua orang yang setia menemaninya.
"Oh-Ho aku ingin melihat hadiah apa yang akan diberikan oleh Red Devil dalam menyambut tamunya, Aku dengar jika kalimat itu di ucapkan akan ada darah sebagai persembahan, Benarkah yang aku dengar ini Ketua Red Alias Parno?" Tanya Zai dengan senyuman dinginnya.
Dia maju dua langkah agar Sadam dan Jani berada dibelakangnya lagi.
Sadam dan Jani segera bersiap menerima penyambutan, Mereka suka dengan adegan berdarah. Karna mereka pernah hidup di era mereka dimana yang kuat memakan yang lemah. Tapi ingatan itu sudah hilang, tapi meski hilang pengalaman dan rasa masih melekat dalam diri mereka.
Zai duduk kembali di Kursi yang pernah dia duduki kemudian mengambil sebuah Pistol dan menaruhnya di meja.
Beberapa orang kaget melihat hal itu, Tapi sebagian lagi tidak takut, Karna peluru dari pistol itu hanya ada beberapa butir, Sedangkan mereka ada banyak, Belum lagi yang ada diluar markas tinggal menunggu perintah saja.
__ADS_1
Parno atau Ketua Red memandang Pistol itu dengan penuh tanya, "Apakah dengan menaruhnya di meja, Kau akan bisa menggetarkan kakiku?" Tanyanya yang masih santai dengan tangan berada dikursi sembari bersandar.
Tangan kirinya pun bergerak memberi Kode.
Dua puluh orang langsung bergerak mengeliling Kursi. Tapi tidak terdengar jantung yang berdegup kencang, karna memang tidak ada kegugupan sama sekali di jantung tiga orang itu.
Sadam menggunakan gaya bertarungnya. dengan mengeluarkan pisau kecil yang ada dicincin spasialnya.
Braaaak....! Satu orang melesat menghantam tiang bangunan, Dia dikirim terbang oleh Jani yang terlihat kakinya masih terangkat, Dengan tendangan itu, Seseorang tadi tidak lagi berdiri. entah pingsan atau mati belum ada yang memeriksanya.
Tak bisa dipercaya kenyataan itu, Tapi langkah kaki mereka mundur satu jengkal.
"Apa yang kalian takutkan? Mereka hanya bertiga!" Perintah sang Komandan.
Mereka kembali sadar dan mulai menyerang dengan parang yang sudah ada ditangan mereka masing masing, Zai masih santai duduk mengambil satu batang rokok,
Dengan Pisau kecil nya yang Haus darah, Sadam terus saja menyerang tujuh orang dari sepuluh orang yang menyerangnya. dia sudah menghukum tiga orang pertama dengan menusuk kan pisau kecilnya ketubuh masing masing orang yang mendekat padanya.
Tidak berhenti disitu saja, Sadam seperti seorang dewa kematian yang ganas, Dia menikmati setiap tikaman dan juga tusukan yang dia berikan kepada musuhnya tanpa berkedip sedikitpun. Hingga tersisa dua orang yang kini mundur melihat teman teman nya ada yang mati ada yang tidak mungkin bisa berjalan lagi.
Kekacauan terus terjadi di sisi mereka berdua, Tapi tidak ada yang memulai antara Zai dan Parno mereka masing masing memiliki roko ditangan mereka.
Zai tidak peduli karna dia yakin dengan Sadam dan juga Jani mampu melawan hanya dua puluh orang itu saja.
__ADS_1
kalau Parno tidak peduli karna memang dia tidak menganggap anak buahnya sebagai keluarga. mereka semata hanyalah alat untuknya naik kepanggung dunia.
Sedangkan di sisi Jani dengan pedangnya yang entah muncul dari mana, Dia juga sudah meratakan lawannya. Sepuluh orang, Hanya semut kecil baginya, Apalagi lawannya bukan petarung terlatih hanya petarung jalanan saja, Tapi dia tidak membunuh karna masih bersikap tenang, Tidak seperti Sadam yang lebih mengedepankan emosinya.
Teriakan memilukan terdengar diruangan itu, Raungan kesakitan terus bersahutan kala dua puluh orang itu tumbang tanpa perlawanan yang berarti.
Hanya ada beberapa tetes keringat saja yang membasahi kening mereka. "Maaf karna lama menyelesaikannya Tuan" Ucap Sadam menunduk
Zai melambaikan tangan lalu berkata "Tidak apa, Keluarlah kalian berdua dan tutup pintunya rapat-rapat, Jika ada yang ingin masuk tanpa alasan jelas, Bunuh saja!" Perintahnya kepada dua orang itu.
Tanpa membantah, Mereka berdua langsung bergerak keluar meski masih ada rasa yang mengganjal, Tapi mereka tetap melakukannya karna itu adalah perintah. dan mereka tidak dapat melanggar perintah.
"Tinggal kita berdua yang sekarang terlihat baik baik saja, Sekarang tidak adalagi penawaran untuk bergabung" Ucap Zai.
Ketua Red tertawa lagi sambil menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan satunya meraih sesuatu.
Doooor.. Dooor..! dua kali tembakan dilepaskan oleh Parno, Tapi Zai sudah sigap dia mengambil pistol dimeja dan membalik Kursi kebelakang hingga Tembakan hanya mengenai bawah Sofa yang terbalik.
Door...! Zia melepaskan tembakan ke arah lampu.
Lalu dia berguling ke sudut.
Zai mengintai dalam diam dan kegelapan dan terus memperhatikan pergerakan kecil, Sebenar nya dia hanya ingin bersenang senang makanya menyuruh dua orang itu untuk keluar, Mudah saja jika dia ingin mengalahkan lawan dengan bantuan Sadam dan Jani, Tapi itu bukan gaya nya.
Parno pun tersenyum melihat ketua Macan Hitam memadamkan lampu. 'Mungkin dia tak tau bahwa aku adalah penembak jitu meski dalam kegelapan' Batin nya terkekeh menertawakan kebodohan lawan yang berpikir mudah untuk mengalahkan dirinya.
__ADS_1
"Anak muda bau kencur sok sokan jadi penguasa" Gumamnya pelan lalu meraih pegangan tangga dan melompat dengan cepat naik ke atas.
Dooor..! Zai menembakan pelurunya hampir mengenai kaki Parno, Tapi itu hampir saja...