
Dalam Gedung tua Markas Dark Moon. Tidak seorang pun menyadari ketua dari Dark Moon menghilang,
Hampir ada seratus orang dengan senjata tongkat dari berbagai ukuran dan juga parang serta celurit yang siap mencabik cabik menatap tajam tiga orang yang kini berada ditengah tengah mereka.
"Menyerahlah, Jangan melawan, Tak mungkin kalian menang melawan kami yang sebegini banyak dengan senjata pula, Kalian hanya mengantar nyawa. aku bisa memintakan ampun kepada Ketua, Agar merekrut kalian saja daripada membunuh kalian, Tapi jika kalian tidak mau, Kami pun tak apa, tidak masalah membunuh, Karna itu sudah biasa dilakukan disini" Seseorang maju dan berkata panjang lebar, sepertinya dia lah pemimpinnya disini"
Tidak ada dari tiga orang itu yang bergeming dari tempatnya, Mereka bertiga hanya menatap tajam semua orang yang mengelilinginnya.
Dengan tersenyum simpul Sadam segera berkata "Mengapa harus tawar menawar, Langsung saja jika ingin bermain" Sadam menggerakkan tangannya dengan gerakan tangan sederhana yang memprovokasi.
"Bunuh dia, Cepat!" Puluhan orang segera bergerak Tapi kekacauan mulai terjadi pada barisan itu.
Sreet sreet sraaat..!
Beberapa tebasan menumbangkan lawan. "Hei kenapa kau melakukan ini Bardi? kita teman" Seorang dari anggota Dark Moon bertanya.
"Jalan kita sudah berbeda Parto, bukan hanya aku saja, Tapi ada juga yang lainnya, Jika kau ingin hidup jangan melawan dan larilah!" teriak Bardi Sambil menangkis parang yang hendak menebas kepalanya.
Bugh.. Tendangan Bardi menyarang diperut orang itu dan terpelanting ke kawanan yang lainnya.
Di posisi yang lain juga terjadi kericuhan pula yang mengakibatkan teriakan kematian ada dimana mana.
Tak pernah terbayang semua hal akan berbalik, Kini bukan lagi tiga orang yang mereka hadapi, Bardi dan delapan orang lainnya setelah menumbangkan beberapa orang disekitarnya segera menuju tengah dimana posisi Sadam CS berada.
Meskipun mereka hanya berdua belas. tapi kekuatan mereka setara seratus orang mungkin juga lebih masih tak dapat diprediksikan
Kini Aula utama gedung tua itu keruh oleh ricuhnya suara pertarungan. Dentingan parang mulai memekakkan telinga. tongkat yang patah, tangan yang putus, bahkan tubuh yang melayang ada dalam gambaran itu.
Sungguh menjadi tragedi yang berdarah, Hampir semua orang dari Dark Moon dapat dilumpuhkan menyisakan lima orang yang kini mungkin sudah tidak bisa di anggap waras juga.
Ada banyak lebam diwajah mereka serta dua orang yang patah pada kakinya. Sadam berkata, "Jika kau mau mengikuti kami, Kau akan hidup bahagia, memiliki kekuatan sendiri dan berjaya"
"Cuih" Salah satu segera meludah dan berteriak "Aku tak sudi"
Sadam tersenyum lalu berkata kesamping "Bardi, selesaikan dia untukku"
__ADS_1
Anggukan jelas di lakukan oleh Bardi, dan dia segera melangkah setelahnya dengan aura yang cukup mendominasi mental yang ketakutan. Dia mengulurkan tangannya ketenggorokan Badar dan mengangkat tubuhnya. Mungkin jika dulu dia tak yakin bisa melakukan itu, Tapi berkat Pil Ajaib dia bisa memiliki kemampuan itu.
Kraaak... dia menekuk tangan kekiri mematahkan tulang leher Badar seperti mematahkan kayu rapuh.
Empat orang yang tersisa jelan menelan ludah mereka melihat Badri kini sangat kuat.
Mereka bingung apa yang terjadi kepada Badri hingga bisa memiliki kemampuan seperti itu, Layaknya Super Hero yang ada di televisi.
"Bagaimana dengan kalian?" Sadam melihat ke empat orang sisanya.
"Aku akan ikut"
"Aku juga"
"Aku..!"
"Aku..!'
"Ambillah Pil ini, Maka kalian akan mendapat kekuatan yang sama dengan Badri"
Jaya dan jani juga delapan orang lainnya mendobrak satu persatu pintu yang ada di gudang itu tapi masih belum menemukan dimana para tawanan disekap.
"Cari lagi, Aku yakin pasti ada jalan rahasia" Perintah Jaya
Terdengar teriakan dari seseorang yang ada disudut ruangan "Kak Jaya, Aku menemukan sesuatu yang ganjil disana"
"Tunjukan jalannya" Jaya segera bergegas mengikuti Kobar dan di iringi oleh yang lainnya
"Aku menemukanya disini Kak, Ada udara yang keluar setiap beberapa detik sekali, Jadi kemungkinan ada ruang rahasia disini"
"Biar aku memeriksanya" Jaya segera maju dan memejamkan matanya untuk merasakan dari mana udara itu keluar. setelah memastikannya dia pun segera memukul lantai beton itu dengan kekuatan penuhnya. Pasti ada mekanismenya tapi untuk mencari perlu menambah waktu lagi, Jika bisa praktik kenapa tidak
Braaaak..! Lantai beton itu langsung berlubang, dan terlihat ada ruangan yang besar di bawah.
Kemudian Jaya dibantu oleh Kobar dia melompat tinggi dan menghentakkan kaki ke lubang itu hingga retakan pada lantai semakin menjalar dan akhirnya semua orang yang ada ditempat itu terjatuh bersama ambruknya lantai.
__ADS_1
Tapi tubuh mereka sudah diperkaya dengan energi jadi tidak ada kecacatan yang terjadi pada mereka.
Terlihat ada banyak wanita muda yang berkumpul disudut ruangan itu, Mungkin karna mereka takut tertimpa reruntuhan lantai atau juga takut akan hal lain.
"Silvia..." Jaya berteriak untuk memastikan ada orang yang mereka cari.
Ada beberapa wanita yang saling pandang, mungkin merasa nama mereka dipanggil tapi mereka tidak berani maju, Karna apa, Karna mereka tidak kenal dengan siapa yang memanggil.
Kemudian dari barisan belakang muncul satu sosok cantik "Kak Jay, aku disini" Teriaknya senang karna melihat ada penolong untuknya dan berlari memeluk Jaya.
Jaya merasa tangannya Kaku jadi dia tidak mendekap Silvia.
Wajah Silvia memerah malu, Meski bukan yang pertama memeluk seorang laki laki, Tapi dia tetap merasakan panas pada wajahnya. dia segera melepaskan tangannya yang melingkar dan segera membalik tubuhnya dan berkata "Kita semua selamat, Mereka akan menolong kita dari tempat ini"
Suaranya tidak terlalu nyaring, Tapi mengena dihati semua orang, Karna harapan mereka akan terwujudkan.
Riuh suara terdengar senang.
"Diam dulu! Kita harus mencari jalan untuk naik ke atas, Tak mungkin kalian bisa memanjat keluar dari reruntuhan lantai ini Kan?" ucapan Jaya langsung mendiamkan suasana yang riuh.
"Aku tau jalannya, Ikuti aku Kak" Silvia berjalan menarik tangan Jaya, di ikuti oleh yang lainnya dan semua wanita yang ada disana.
"Aku pernah melihat mereka menekan sesuatu di dinding disekitar sini" sambil berbicara Silvia menekan dinding beton, hingga ada satu yang tenggelam "Akhirnya, ini jalan keluarnya" pintu segera terbuka.
Semua orang yang ada disana tersenyum bahagia, Ada yang menangis saking bahagianya. lalu mereka keluar dari tempat itu dan berkumpuk di halaman gedung tua.
"Apakah Tuan tidak datang" Jani bertanya setelah melihat Sadam membawa tambahan Empat orang bawahan.
"Aku yakin dia datang, Coba aku telpon dulu" Sahutnya lalu mengambil ponsel yang ada disakunya.
"Aku ada di Mobil dekat dengan Mobil mu, Datanglah kesini" Sahut Zai di seberang telpon.
"Bakk tuan, aku akan segera kesana"
Zai segera memutuskan sambungan telpon lalu menaruh ponselnya di samping Tuas persenling.
__ADS_1
(Ding...)