Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Target


__ADS_3

Dibawah lampu hias yang tersusun rapi, di samping bunga anggrek yang memberikan wangi yang menyenangkan. Malam itu, dua sejoli saling bertatap muka dengan senyum yang mengembang satu sama lainnya. Tidak ada kedipan ketika mata mereka bertemu. Bahkan tidak ada suara selain musik yang menjadi baground terdengar di tempat itu.


Mereka berdua seakan hanyut dalam lamunan masing-masing. Entah sama, apa yang mereka pikirkan atau tidak? Tidak ada yang lebih tahu selain diri mereka sendiri dan (author)


Datang pemeran figuran dengan membawakan apa yang sudah dipesan dengan sebuah kata "Permisi!" Pelayan itu menaruh pesanan di hadapan dua orang yang tak henti saling memandang, hanya gelengan kepala yang dilakukan oleh pelayan itu ketika melihat keduanya seolah tak menganggap dirinya ada disana.


Dia meninggalkannya dengan rasa tak percaya bahwa ada orang yang seperti pepatah lama "Jika dua orang sedang jatuh cinta. Maka tidak ada orang yang ketiga berada didekatnya"


"Apa yang terjadi kepadamu Lira?" Pelayan lain menanyai.


"Aku hanya heran kepada dua orang yang duduk disana. Lihatlah! Bahkan makanan yang aku kasih tidak tersentuh barang sedikitpun." Katanya lagi. "Seperti itukah bila kita jatuh cinta?" Tanyanya kepada teman sesama pelayan.


"Apa kau belum pernah jatuh cinta?"


"Sekalipun tidak," ucap Lira.


"Kasihan sekali kamu Lira, ckck carilah, biar kamu tau dan merasakan apa yang mereka rasa… Ayo bekerja lagi!"


Yang dibicarakan mulai tersadar karena wangi masakan menggelitik hidung mereka.


"Eh?" Maira terkesiap melihat masakan yang sudah tertata di hadapannya. 'Sejak kapan berada disini?' Batinnya


"Kita makan saja, jangan dipikirkan. Mungkin pelayan takut mengganggu jadi tidak berkata apapun ketika menaruhnya disini" kata Zai.


Keheningan terjadi setelahnya diantara mereka. Hanya terdengar bunyi seruput air dan kunyahan makanan di mulut.


Selesai menikmati makanan. Mereka berbincang santai "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah mendapatkan gelar sarjana?" Zai bertanya seraya menyapu mulutnya dengan tisu.


"Mungkin lanjut pasca sarjana atau juga menikah jika ada yang melamar" kata Maira memberi kode.

__ADS_1


"Kedua rencanamu bagus semua. Apa yang kau pilih tentu sudah kau pikirkan dengan matang" ucap Zai menganggukan kepalanya. "Aku akan mendukung pilihanmu" katanya lagi.


'Apakah kau tak mengerti kode yang ku berikan, dasar lelaki yang tak peka' Maira bersungut dalam hatinya. "Sudah tengah malam, antarkan aku pulang" dia terlihat merajuk.


Zai tidak repot untuk merayunya. Dia mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Maira. Bukan dia tak paham. Tapi dia sudah banyak memiliki wanita. Jika bertambah terus. Mungkin akan sulit mengurusnya.


Setelah membayar, Zai dan Maira turun dari lantai tiga dan kembali ke Mobil. Tidak ada pembicaraan yang terjadi. Wajah Maira masih memendam kesal yang dalam. Terlihat ketika dia masuk ke Mobil. Hanya memandang kaca bagian luar saja dan tak mau mengalihkan pandangannya ke arah Zai.


"Maafkan aku!" Kata Zai. Dia melajukan mobil itu dengan pelan menikmati waktu kebersamaan meskipun tanpa ada kata yang diucapkan.


Berlalu waktu.


Mobil sedan Civic melaju dengan kecepatan tinggi, Vrooom! Vrooom! Raungan knalpot ditengah malam yang sunyi menyalip Mobil yang dikendarai Zai.


Tapi Zai tidak tergoda untuk menyusulnya karena saat ini dia tak ingin saja. Maira memandang ke arah Zai yang begitu santainya. "Mengapa kau tidak menyalibnya. Mungkin mobil itu ingin mengajak balapan" akhirnya sekian lama terdiam, Maira bersuara.


"Aku tidak ingin menambah musuh, dan hanya ingin lebih banyak waktu bersamamu sebelum kamu lanjut menikah atau pasca sarjana" kata Zai cukup pelan.


"Siapa yang tidak ingin menikahi atau memiliki gadis secantik kamu, aku akan mengatakan dia naif atau bodoh" kata Zai menatap Maira dengan kelembutan.


Miara jelas tersenyum, itu sebuah pujian yang diinginkan oleh semua kaum hawa. Ketika mereka menyukai pria. Maka, kata itu yang ditunggu untuk menerjemahkan perasaan yang ada pada mereka.


Zai terkejut dengan Mobil sedan yang berhenti tiba-tiba di depannya dan terpaksa dia membanting kekanan untuk menghindari kecelakan yang parah. Namun naasnya dia malah menabrak pembatas jalan.


Bengg!


"Apa kau tidak apa-apa?" Zai bertanya. Meskipun tabrakannya tidak terlalu kencang.


"Tidak apa, untung peralatan mobilmu cukup canggih, jadi aku tidak tersakiti" sahut Maira.

__ADS_1


"Kau tetap disini, sepertinya orang itu sengaja." Kata Zai.


"Hati-hati" ucap Maira.


Zai mengangguk lalu menutup pintu dan berkata, "Kunci pintunya dan jangan pernah membuka meski apapun yang terjadi" kata Zai. Segera dia melangkah menuju Mobil sedan berwarna biru itu.


Tak tak tak. Lampu mobil segera menyala di tempat yang berbeda dan langsung membuat mata Zai silau, dia tepat berdiri ditengah jalan lalu mengayunkan tangan ke kepalanya untuk menutupi silau itu. Sebuah Mobil sedan lagi melaju kearahnya dan ingin menabraknya.


Wush!!


Zai melompat ke belakang. Terlepas dari itu. Satu lagi datang dari arah yang sama tapi dengan mobil yang berbeda.


"Sial! mereka memang mengincarku" gumamnya.


Zai mengeluarkan pistol dari inventori sistem dan mengalirkan Qi kematanya. Sehingga dia dapat melihat dengan jelas siapa target yang akan dibidik.


Ketika sebuah mobil yang pertama ingin menabraknya itu berbalik. Dia berdiri tegak dan mengacungkan pistol itu. Tatapannya sangat tajam dan dia sangat yakin dapat menembak dalam jarak sedekat itu. Tak ada keraguan di wajahnya.


Door! Mobil langsung oleng dan menabrak pembatas jalan juga.


Satu lagi datang dengan kecepatan dari belakangnya. Zai melompat dan berbalik dia mendarat di kap Mobil dengan seimbang. Langsung dia menembakan pistol itu, meski pengemudi berusaha untuk menghindari dengan membelok-belokan kanan dan kiri mobil itu. Tapi ketajaman matanya tidak diragukan ditambah skill penembak jitu. Membuatnya tetap bisa melepaskan satu tembakan yang mengantarkan pengemudi itu ke hadapan yama.


Maira mendengar suara tembakan itu. Dia hanya menunduk semakin bersembunyi. Karena dia tak pernah mengalami insiden seperti ini. Dan rasa takutnya benar-benar membuatnya tersiksa. Jika dia tidak ingat pesan Zai. Sudah pasti dia akan keluar.


Dua buah mobil yang tersisa. Sedan biru dan sigra. Dari kedua Mobil itu, terbuka delapan pintu dan ada moncong senjata yang dapat dilihat oleh Zai diselanya.


"Mereka juga bersenjata, ini cukup menarik, aku harus menarik diri lebih jauh. Agar peluru tidak nyasar ke arah Maira.


'Sistem! Apakah ada senjata laras panjang yang bisa digunakan tanpa jeda?" Tanya Zai dalam pikirannya.

__ADS_1


(Semua persenjataan ada di shop sistem, tuan bisa memilih apapun di sana) sahut sistem


'Pilihkan aku yang terbaik. Aku mengandalkanmu' kata Zai, lalu bergulir ke samping dan berlindung di antara mobil yang pengemudinya sebelumnya sudah ditembak mati..


__ADS_2