
Suasana semakin memanas meskipun matahari kian merendah.
Kang Hong hanya tersenyum menyaksikan omong kosong yang dilakukan oleh Kang Lei.
"Apakah kamu tidak yakin untuk melawanku, jika begitu pastikan saja sekarang aku yang akan menjadi kaisar selanjutnya" kata Kang Hong cukup untuk didengar oleh semua orang.
Kang Kei sangat geram. Tak mempunyai pilihan yang lain. Dia pun langsung menyerang. Meskipun Keng Siong tidak lagi bersuara meminta untuk bersiap.
Keng Siong yang melihat hal itu, hanya bisa mundur. Memang dia merasa tidak dihargai sebagai pengadil arena. Akan tetapi dia memilih untuk tidak membahasnya. Sebab bila Kang Lei memenangkan pertandingan ini. Tentunya akan menjadi masalah.
Wush! Angin menderu dengan kencang. Ketika ayunan tangan membelah udara.
Kang Hong jelas melihat kekuatan yang ditampilkan oleh saudara tirinya itu. Lebih kuat dari Kang Jun sebelumnya.
Namun tidak ada keraguan di hatinya untuk menghalau pukulan itu. Mengeraskan kepalan tangannya. Membulatkan tekadnya dan harus yakin bisa memenangkan peraduan tinju.
Beng! Dua kekuatan itu bertemu dengan keras. Membuat keduanya langsung termundur dua langkah. Namun serangan itu tidak berhenti disitu saja. Kala lawan menyerang, yang diserang pasti akan melawan. Bagaimanapun caranya.
Tendangan beradu dengan keras. Namun tidak ada yang mundur. Kemudian sikutan bertemu dengan telapak tangan. Tinju bertemu dengan sikutan. Semua hal dilakukan hingga keduanya memutuskan untuk serangan jarak jauh saja.
Auman naga terdengar, itu dari siluet yang keluar melalui teknik naga melahap matahari. Kali ini serangannya mengandung seratus persen kekuatan Kang Hong. Dia mempertaruhkan semuanya dari serangan kali ini dan berharap akan berakhir secepatnya.
Begitu pula apa yang dilakukan oleh Kang Lei, keringat dingin membasahi keningnya. Dapat dirasakan kekuatan yang tertuang dari serangan Kang Hong. Namun tak ingin mengakui kekuatan Kang Hong begitu saja. Segera kekuatan dalam tubuhnya dia serahkan dalam serangan terakhir.
"Teknik penebas awan!" Gumamnya. Menyelesaikan gerakan tertentu. Siluet pedang besar muncul dari belakang tubuhnya dan membesar lalu diarahkan ke naga yang siap menerkam dirinya.
"Luar biasa. Pangeran Kang Lei mengeluarkan teknik pamungkasnya. Dikatakan jika serangan itu bisa memusnahkan tiga ratus tentara"
__ADS_1
"Tapi pangeran Kang Hong juga memiliki tingkatan yang sama dengan pangeran Kang Lei, bahkan serangan yang kini dia lepaskan sama dengan yang sebelumnya tapi tidak sedikitpun mengurangi isi kekuatannya. Apakah mungkin sebelumnya, ketika melawan Pangeran Kang Jun dia tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya?"
"Mungkin saja. Biar kita lihat siapa yang akan berdiri di lapangan. Dan itulah kaisar selanjutnya. Kita harus berlapang dada menerima hasilnya"
"Betul sekali"
Penonton saling berdiskusi mengenai kekuatan dari serangan yang mungkin akan jadi penentu. Siapa yang akan memenangkan perebutan tahta itu.
Ketika kedua siluet itu bertabrakan di udara. Ada ledakan besar yang tercipta. Asap langsung mengepul dari arena menjadi kabut yang menutupi pandangan semua orang yang penasaran. Tidak ada yang mengibaskan tangannya dan hanya menunggu asap memudar dengan sendirinya.
Tidak lama waktu yang diperlukan. Asap pun naik ke langit memperlihatkan sesuatu yang tak terduga.
Dua orang yang bertarung sama-sama tumbang. Penonton pun menunggu Keng Siong memeriksa dan mengumumkan hasilnya. Tak mungkin jika mengatakan seri. Karna harus ada pemenang.
Kaisar Kang Zhiyun meminta Keng Siong untuk memeriksa keadaan keduanya. Sementara itu. Di kawasan itu keheningan terjadi. Jika ada jarum yang jatuh mungkin akan dapat didengar oleh semua orang.
"Terima kasih!" Ucap Zai tersenyum.
"Apakah kita akan kembali sekarang?" Tanya Laila.
"Kita menunggu saja. Tidak baik meninggalkan sesuatu yang belum selesai" kata Zai.
Setelah memeriksa kondisi pangeran Kang Lei yang pingsan. Keng Siong berjalan dan memeriksa pangeran Kang Hong. Dia pun tersenyum ketika melihatnya. Pangeran Kang Hong masih membuka matanya dan bernafas dengan sedikit tersengal. Dia pun bertanya "apakah kau bisa bangun?" Tanya Keng Siong.
"Aku perlu mengambil nafas yang lebih banyak lagi untuk bisa duduk" kata Kang Hong menyahut.
"Baiklah, tapi penonton ingin pemenang bangun. Setidaknya duduk agar bisa mengkonfirmasi kemenanganmu" kata Keng Siong pelan.
__ADS_1
"Baiklah" Kang Hong segera duduk meskipun tenaga di tubuhnya telah habis. Fisiknya tidak terlalu baik. Sebab dia tidak pernah mengolahnya.
Setelah semua orang melihat Kang Hong duduk. Tepuk tangan segera terdengar dengan sorak ucapan selamat kepada pangeran Kang Hong.
Namun ketika ada beberapa ledakan di udara. Semua pun hening dan penonton terdiam dan berjatuhan secara serentak tak sadarkan diri.
Kaisar Kang Zhiyun mendekati putranya Kang Hong dan membawanya menjauh meskipun tubuhnya sedikit tidak kuat. Dia terhirup racun pelumpuh saraf yang menyatu dengan udara sekitar.
Masuk begitu banyak orang dengan pakaian prajurit lengkap yang dipimpin oleh seorang jendral perang.
"Mengapa kau mengacau?" Tanya Kang Zhiyun sambil menahan pengaruh racun pelumpuh saraf yang menyebar melalui saluran darahnya, membuat dia terduduk dengan satu kaki yang tertekuk.
"Hahaha. Kang Zhiyan. Kau sudah tua. Bahkan tidak bisa lagi berdiri. Seharusnya kau tidak perlu mengadakan pertandingan ini. Sebab memang sebuah kewajiban tahta akan diberikan kepada anak yang tertua. Coba kau lihat sejarah kekaisaran Kanggo ini" ucap Jendral perang itu. Ada lebih tiga ratus orang yang mengikutinya di belakang. "Coba teliti kesalahanmu Kang Zhiyun! Kau terlalu lembek dalam menentukan putra Mahkota. Hingga hal yang tak harusnya terjadi akan terjadi" jendral perang itu membawa pasukan yang diasuhnya selama ini. Dia adalah saudara dari permaisuri, paman dari Kang Lei dan Kang Jun.
"Memang ini kesalahanku, tapi ini demi kemajuan Kekaisaran" ucap Kang Zhiyun.
"Cih. Alasan macam apa itu. Apakah Kang Lei tidak mampu memajukan kekaisaran ini? Kau terlalu berpikir pesimis untuk anak sulungmu. Dan itu menyakitinya. Apa kamu tahu tentang itu?" Jendral perang itu berkata menekan Kang Zhiyun.
Memang ada benarnya apa yang dikatakannya. Dan itu membuat Kang Zhiyun terdiam tanpa kata lagi.
Seorang wanita berjalan ke arena dan membangunkan Kang Lei dari pingsan dengan sesuatu. Kang Lei bangun dan melihat sekelilingnya. Ada begitu banyak tentara yang datang. Itu artinya dia telah kalah. Sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan olehnya.
Sebelumnya dia telah merancang sebuah rencana. Jika hanya mereka berdua yang bertarung rencana ini tidak akan diperlukan. Tapi jika memang akan ada pertarungan dengan Kang Hong dan dia kalah. Maka rencana akan berjalan.
Meskipun dia optimis dalam memenangkan pertarungan. Mengingat kekuatan Kang Hong yang lemah. Namun dia mengantisipasi kekuatan perwakilannya yang tidak bisa diprediksi.
Seperti tiga orang yang telah ditangkap dan dilumpuhkan olehnya. Yang mengarang sebuah cerita aneh menurutnya. Bagaimana mungkin tiga orang bisa kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Sedangkan dua orang mati. Dan itu adalah kesalahan yang dicurigai hingga dia memberikan kepada tiga orang itu racun pelumpuh dalam minuman yang dia suguhkan…
__ADS_1