
Di sebuah Rumah Sakit yang terkemuka dikota tersebut. Satu pasangan yang tidak lain dan tidak bukan, Zai dan Amanda menghadap ke salah satu dokter yang cukup tua. Dia adalah Direktur Rumah Sakit itu. sekaligus dokter terbaik di Ciputra Hospital
"Saya sangat senang ketika dikabari bahwa pemegang saham sebanyak 51% ada dihadapan saya sekarang" Netranya memandang Zai dengan senyuman.
"Saya juga sangat senang bisa bertemu dengan anda Pak Salim" Zai juga melengkungkan senyumnya.
"Maaf tidak bisa menyambut anda dengan layak" Kata Pak Salim lagi.
Sedang Amanda hanya terdiam mendengarkan omong kosong dua lelaki berbeda umur itu.
"Jangan terlalu dipikirkan Pak Salim, sekarang ada yang harus diutamakan selain itu. Saya kesini khusus untuk tes DNA" Ujar Zai sambil melirik ke arah sampingnya yang sedari tadi diam. "Jangan salah paham Pak Salim. Bukan dia hamil. Tapi dia yang ingin di Tes DNA, ada sedikit keraguan tentang ayah kandungnya." Zai menjelaskan lagi kalau-kalau Pak Salim salah paham
"Oh oke... Hampir saja saya salah paham jika tidak Pak Zai jelaskan. Baiklah kalau begitu kita akan memulai prosesnya saja" Salim Wardana langsung berdiri dan mengajak keduanya mengikuti dia ke tempat dimana akan dilakukan tes DNA itu.
.............
Ditempat yang berbeda.
"Kemana dia pergi? Mengapa tak pulang sampai jam segini? Sial sekali, Pasti dia akan curiga kepadaku. Setelah merasa panas pada tubuhnya" Bram masih pusing dan menunggu Amanda. Sedang Amanda masih tidak mengangkat telpon darinya.
"Parno! Sebarkan anak buah. Cari putriku! dia sedang menjebak pemuda itu. Entah dihotel atau ditempat yang lain, temukan segera keberadaannya!!"
"Baik tuan Besar" Parno langsung bergerak cepat membuat pengaturan untuk yang lainnya.
"Sepertinya mereka akan melakukan pergerakan besar" Bawi langsung berkata cukup nyaring. agar semua orang yang bersantai mendatanginya. terbukti memang. setelah yang lain mendengar. Mereka bergerak ke sisi Bawi dan memperhatikan melalui dua teropong besar yang ada dijendela.
"Kau benar. Jika tempat itu kosong. kita akan masuki." Sadam segera bersuara.
__ADS_1
"Baik" yang lain gegas menyahut.
Sementara menunggu rumah itu sepi. Sadam berkata lagi. "Persiapkan perlengkapan kalian. Kita akan mulai menyusup" Selesai berkata, Dia melempar tali yang dimana unjungnya ada besi yang berbentuk kawat bermata tiga. Sadam langsung melompat dari ketinggian itu dengan sepotong kain yang dipegangnya di kedua tangannya. dan meluncur melewati tali dan langsung sampai ditempat tujuan..
Diikuti oleh lima orang lainya yang juga melakukan hal yang sama, meluncur dengan sepotong kain di kedua tangan mereka.
Sadam mengomando mereka dengan bergerak pelan. "Bagi orang satu persatu jelajahi Rumah besar ini. Jika menemukan Bram, Cepat kabari melalui HT. agar yang lain dapat mengatur rencana. jangan melawan sendiri. karna dia juga orang yang kuat. aku tak ingin diantara kita ada yang kehilangan nyawa." Ucap Sadam lagi sebelum dia bergerak duluan.
Lima orang yang mengerti langsung berbagi arah..
Bram tidak tau dengan Rumahnya yang sedang disusupi. Bahkan dia tidak tau hidupnya akan terancam. dia masih memikirkan Amanda. Dia takut ada yang akan memanfaatkan kesempatan. dia yang mengambil durian, orang yang membelah dan makan isinya.
Namun sangat disayangkan ketakutannya memang sudah terjadi. siapa suruh ikan matang dikasih ke moncong kucing, jelas kucing itu akan menggigit dan membawa lari ikannya.
Dia berdiri dan mengambil kunci Mobil. Namun dia melihat ada bayangan. "Mengapa masih ada orang dirumah, Seharusnya mereka sudah pergi" Gumam Bram, segera dia bersembunyi di samping lemari.
Dia melompat ketika penyusup iti lewat. dengan ayunan kaki yang mengarah ke punggung, Bawi yang menyadari itu langsung memiringkan tubuhnya. dan memberikan sikutan ke arah dada.
Bram juga memainkan tangannya menangkis serangan itu hingga keduanya terpisah. "Target ditemukan dilantai satu ruang santai" Suara Bawi menggema Di HT tersebut.
Geram Bram mendengar laporan yang diberikan oleh penyusup itu. 'Berarti lawan tidak hanya satu orang, Aku harus melumpuhkan orang ini dengan cepat. dan bersembunyi.' Bram memulai langkahnya lagi, dia tak melihat dilengan sebelah kanan lawan ada pisau kecil yang mengkilat. Setelah terpantul cahaya dari bilah pisau itu. segera dia menarik ikat pinggangnya yang merupakan senjata tipis berbentuk pedang, sangat lentur.
Sreeeeeng!! Dia mengibaskan pedangnya..
Namun Bawi bukan anak kemarin sore. ditunjang dengan kemampuan barunya setelah mengikuti Zai dan ditambah pelatihan yang digunakannya beberapa hari ini dalam pengintaian. yang mana Sadam sebagai mentornya. Dia merasa sangat percaya diri sekali.
Bawi menangkis dengan pisau kecil itu. Ujung mata pedang Bram meliuk seperti ekor ulaf yang ingin menghantam wajah Bawi.
__ADS_1
Tapi Bawi juga tak kehabisan ide. dia berjungkir balik kesamping dan meraih kursi.
Bawi melempar kursi ditangannya, Tentu Bram akan mengelak dan kesempatan itu akan dia ambil pula. Bawi melempat pisau kecil itu setelah kursi yang melayang.
Penggg!!!!
Kursi hancur tertebas, Bram tidak mengelak sedikitpun. Walau dia terkejut melihat adanya pisau yang melayang ke arahnya. tapi dia sudah mengantisipasi. dia mengait kursi dengan kakinya dan melambungkannya.
Pisau kecil itu pun berhenti dan menusuk Kursi. Bram membuat lonjakan pada tubuhnya dengan menghentak keras kaki kananya.
Menyerang dengan pedang yang terhunus. sebuah kursi melayang lagi kearahnya dan datangnya dari samping kiri. terpaksa Bram harus menebasnya lebih dulu. untuk menghindari cidera
Dia mendarat sempurna dengan tatapan nyalang penuh dengan amarah. "Siapa sebenarnya kalian. mengapa memasuki rumahku" tatapnya kepada sosok hitam yang baru datang
"Tak perlu banyak omong kosong." sahut orang yang baru datang, dia memberikan kode dengan netranya. Bawi paham dan langsung memberikan serangan kejutan. sedang dia juga melawan dari arah yang berbeda. tidak ada negosiasi. bantai ya bantai.
Meskipun Sadam merasa kuat. tapi lawan adalah seorang ahli yang kuat. jadi jika satu lawan satu akan sangat lama mengakhirinya.
Dua tinju langsung mengarah ke tubuhnya. dia mencoba untuk menangkis atau menahan. tapi kekuatan yang tak disangka akan dia rasakan. tubuhnya didorong paksa dan harus mundur oleh sejumlah kekuatan.
'Sial, Dia sangat kuat. aku harus lari!" batin Bram memikirkan sebuah cara untul lari.
Sadam dan Bawi tidak terpengaruh sedikitpun dengan kelihaian gerak tubuh Bram yang mencoba lepas dan terus bergerak untuk menemukan celah.
Empat orang datang juga. dan kini Bram tidak memiliki kesempatan lagi untuk lari.
"Sekarang kau tak bisa lepas orang tua. Menyerahlah dengan takdirmu, Bahwa ke muliaanmu selama ini akan dhitung hisabnya"
__ADS_1
Enam orang itu yang termasuk Sadam ditengahnya mulai mengepung Bram yang tak bisa lagi kemana-mana. Tersandar punggungnya ke beton Rumahnya.