
Dan Vrooomm...! Civic warna merah lewat meninggalkan Ferari tanpa adanya kekendoran dari lajunya.
Satu tikungan tertinggal memaksa Syam untuk lebih dalam menginjak pedal Gasnya. dia memang mengakui bahwa dia lemah ditikungan, Dia tak mengira bahwa Zai unggul dalam tikungan, "Pantas saja dia yakin menang walau hanya dengan Mobil kelas biasa,
Tapi aku harus tetap menang"
Dengan sengit pertarungan dua Mobil itu terus berlanjut dan penonton yang melihat mereka pun semakin bersemangat.
"Akan ku hancurkan kau" Gumamnya rendah lalu memepet ke arah Mobil Civic Tapi Zai tidak peduli Mobilnya lecet, Karna dia menggantinga, Dia pun membalas dengan membanting setir kekiri hingga Mobil mereka berbenturan.
Sruuuuuut...! Syam terpaksa menginjak Rem, Jika tidak mungkin dia akan terjatuh dari atas jembatan dan nyeblos dengan Mobilnya ke sungai.
Zai dengan tenang melajukan Mobilnya hingga satu tikungan terlewat lagi dan Zai mendapati Finish miliknya dengan kemenangan yang indah.
"Sayang kita pulang" Ucapnya kepada Maira yang masih terdiam tak bisa berkata kata melihat kemenangan Zai yang hampir tak mungkin bisa memenangkan pertandingan itu.
"Sayang....!" Sekali lagi Zai memanggil dan melambaikan tangannya didepan wajah Maira hingga dia tersadar dan langsung memeluk Zai.
"Adegan tadi sangat berbahaya, Kamu tidak apa apa kan?" Maira segera bertanya dalam pelukan nya, "Ayo kita pulang lebih dulu" Katanya lagi lalu berbalik melihat Eva, "Va kami pulang dulu"
"Oke Mai" Sahut Eva kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Zai dan bertanya "Uang taruhannya bagaimana?"
"Titip saja dulu sama kamu, Nanti buat baikin Mobil Maira yang sepertinya ada penyok disisi kiri, Dan juga buat satu rekaman untukku, Rekam Syam ketika pulang tanpa pakaian"
"Jika kamu pergi, dia tak mungkin melakukan hal itu, Lebih baik tunggu saja" Kata Eva lagi sambil menatap wajah Zai yang bagai dewa ketampanan.
"Sayang..! kau terus memandanginya, Ada apa?" Andre disamping bertanya
"Aku hanya kagum saja kepada pacarnya Maira, Sudahlah bantu aku mengambil uang taruhan" Eva segera mendatangi ayunda ditemani sang pacar memintanya untuk mentransfer uang itu.
Setelah hening beberapa saat,, Syam datang dengan Mobil yang penyok dikanan dan kirinya, Bukan itu saja dia dengan kesal menendang ban setelah keluar dari Mobil, Bagaimana tidak dia kalah segalanya, Harga dirinya hilang sebagai orang yang tak pernah kalah di sirkuit itu hanya dengan Mobil yang tak sebanding soal kecepatannya
__ADS_1
Dan jika berita ini menyebar, Semua orang pasti akan mencibirnya, terlihat Syam duduk diatas Kap Mobilnya sambil memijit kepalanya yang pusing memikirkan Hal yang akan terjadi, Kekalah pertama yang sangat telak memukuk mentalnya.
"Ini namanya masih ada langit diatas langit" Suara Eva menambah kesengitan dalam hatinya, selesai berkata, Eva dan pacarnya langsung pergi dari tempat itu.
..............
"Bukan kah aku bisa mengantarmu, Mengapa kamu tidak mau? Nanti kamu pulang sama siapa?" Zai memarkirkan Mobil Civic itu di halaman depan rumah Maira
"Tak perlu Khawatir, Temanku ada yang jemput, Sebentar lagi" Zai menyahut sambil melepaskan sabuk pengaman setelah itu dia keluar dari Mobil dan berputar ke sebalah kiri lalu membukakan Pintu Untuk maira.
"Makasih" Maira tersenyum diperlakukan sepertu
"Apakah tidak Masuk dulu sambil nunggu jemputan, Aku kenalin sama Ortuku?"
"Nanti saja, Aku takut kamu jatuh cinta dengan ku jika aku terlalu lama didekatmu" Zai sengaja bercanda
"Jangan terlalu percaya dirilah, Aku juga takut nanti kamu tidak bisa tidur dan terus memikirkan aku disepanjang malammu, Haha" Maira tertawa kecil setelahnya
Terdengar Langkah kaki yang berlari di telinga Zai, Dia segera berbalik.
"Cuup..!! Makasih sudah menyelamatkan ku tadi dari tertabrak"
Warna merah muda menghias pipi putih Zai, Untungnya itu malam hari, Jika tidak akan sangat tampak.
(Ding..... Selamat karna Tuan sudah memenangkan adu balap Mobil dan meruntuhkan kesombongan Syam,
Selamat Tuan mendapat Sejumlah Uang sebesar Empat Milyar Rupiah dan sebuah Kotak Mistery)
Ttt... Getaran Ponselnya dapat dirasakan Oleh Zai, Tapi dia tak ingin melihatnya karna sudah tau, bahwa itu cuma notifikasi dari Bank
...............
__ADS_1
"Sialan, Siapa sih yang sudah mengganggu bisnisku" Dengan kesal Monte berteriak menatap sepuluh orang yang ada diruangannya. "Kalian harus mencari tau siapa dalangnya, Aku tak mau jadwal pemberangkatan di gagalkan, Karna itu akan sangat mempengaruhi bisnis ini, Jika dalam waktu dua hari kalian masih tidak bisa membongkar siapa dalangnya, Aku akan merekukan kepalan kalian, Apa kalian mengerti?"
"Mengerti Ketua" Mereka menyahut dengan wajah menghadap kelantai.
"Kenapa kalian masih tidak pergi?" Teriak Monte sekali lagi dengan wajah muram melihat bawahannya yang lelet.
..............
Seorang wanita menggeliat dalam pelukan hangat seorang lelaki setelah pertempuran intens yang mereka lakukan.
"Terima kasih sudah memberikan kesenangan yang tak mungkin dapat ku lupakan sepanjang hidupku" Ucap Wanita itu sambil mengecup pipi sang lelaki "Aku sangat bahagia dikirimkan orang sepertimu"
Lelaki itu tersenyum lalu membelai rambut yang berada dilengan kanannya dan memejamkan mata sambil bertanya "Apakah kamu tidak menyesalinya?"
"Aku ikhlas, Karna aku merasa nyaman denganmu, dan terima kasih lagi kau menyelamatkan orang tuaku, Ini tidak sepadan memang jika ingin memilikimu, tapi aku ingin selalu disisimu, dan ijinkan aku tetap berada disisimu" Halwa menatap lekat wajah Sadam dan membelainya
"Banyak rintangan dan halangan yang mesti ku hadapi karna tubuh ini bukan milikku sepenuhnya, Aku bisa mengijinkanmu berada disini" Sadam meraih tangan Halwa dan meletakkan nya didada "Tapi aku tak bisa menjanjikanmu selalu aman disisi" Bibirnya pun segera maju dan mengecup bibir mungil yang dimiliki Halwa.
Lidah mereka bertaut kembali dan ingin memulai lagi adegan panas membara tapi dibuyarkan oleh sesuatu.
Dering telpon dan getar yang mengganggu di atas meja samping tempat tidur menutup rasa mereka yang sempat terbuka kembali untuk mengulang sesi panas.
Tak mungkin Sadam tidak mengangkat, Karna yang tau telponnya hanya orang yang dianggapnya penting saja "Ya.. Hallo, Apakah kau sudah menemukannya?"
"Sudah, Pengiriman itu akan dilakukan sekitar dua hari lagi dan akan dikirimkan melewati jalur udara menuju filipina dan dari filipina akan berlayar ke taiwan" Silvia menarik nafas sebentar karna dia harus cepat menyampaikan laporannya sebelum diketahui oleh orang "Aku akan men-Sharelock" lalu dia memutuskan sambungan telpon dengan segera.
"Apakah itu dari Sivia?"
"Yaa.. Hemm aku harus segera bergerak, Maaf aku harus pergi sekarang, Karna ini adalah tugas dari atasanku, Sebagai pekerja yang rajin aku akan melaksanakan tugas" Sadam mengecup kening menaruh kartu ATM di tangan Halwa, Belanja lah sepuasnya yang kau mau, dan bahagiakan kedua orang tuamu"
Namun Halwa menggeleng "Aku akan menunggumu, dan akan belanja bersamamu" Dengan tersenyum dia memakaikann kancing pada baju Sadam dan melihat tubuh kekar yang sebelumnya menindihnya. "Berhati hatilah, Ada aku yang menunggu" katanya lagi
__ADS_1