Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Pertarungan 2


__ADS_3

"Rupanya kalian memang memilih jalan yang tidak aku sukai" segera Zai mengangkat tangannya dan menusukkan tombak ke arah jantung Ming Chun, memang dia sudah hampir tidak berdaya lagi.


Dua orang yang melihaTnya tertegun. Tidak menduga Ming Chun lebih dulu mati.


Zai menatap keduanya yang kini mulai berdiri dengan tangan masing-masing memegangi dada mereka yang masih sakit. Mereka berdua mengambil nafas yang cukup banyak lalu menghembuskannya.


Setelah itu mereka berdua saling menatap dan Jing Long berkata "Shou Yang! Sepertinya hidup kita juga tidak akan lama lagi, terima kasih kau sudah menjadi sahabatku selama ini" ungkapnya dengan tulus.


"Aku juga senang memiliki sahabat sepertimu" Shou Yang menatap Jing Long sedikit tidak rela. Karena perpisaHan akan terjadi diantaRa mereka. Keinginan hidup abadi sudah tidak ada lagi.


Zai melihat mereka seperti itu, ada rasa kagum terhadap mereka. "Jika kalian ingin hidup! Masih ada cara. Ikutilah aku!" Kata Zai mencoba untuk merekrut keduanya. Orang yang setia sulit untuk dicari. Begitu pikirnya.


"Maaf, kami tidak akan berkhianat kepada pemimpin kami yang sudah menyelamatkan hidup kami, dulu! Kau tidak akan tahu hal itu" kata Jing Long menyahut. Dia melirik ke samping sekalian berkata lagi, "ayo kita berjuang sampai titik darah penghabisan!"


"Siap!" Shou Yang menyahut dan mengeratkan pedangnya. Dia mengalirkan lebih banyak Qi dan mulai berlari ke depan, menghunus senjata di tangannya.


Begitu pula dengan Jing Long. Mereka menyerang berdua. Dengan lompatan cukup tinggi.


Zai juga bersiap. "Tak perlu kalian mengorbankan nyawa, jika kalian mau mengikutiku" dia merentangkan tombak kedepan. Lalu bergerak zigzag.


Dentang! dentang!!


"Pedang pembunuh!" Teriak Shou Yang.


"Pedang eksekusi!" Jing Long juga berteriak.


Zai tidak ingin kalah suara. Dia juga berteriak "Tombak penghancur bumi!"


Tiga serangan segera bertemu dengan energi kiat beradu mencipta fluktuasi udara dan tekanan yang cukup tinggi menyapu seluruh bangunan yang ada disana. Zai mundur kebelakang.

__ADS_1


Sedang dua orang itu terpental. Namun seseorang menahan punggung keduanya. Mereka menoleh dan mendapati Jun Bai ada disana tersenyum menatap mereka.


"Terima kasih pemimpin!" Ucap keduanya. Namun hal yang tak terduga terjadi. Energi pada tubuh mereka segera tersedot dan keluar secara paksa melalui telapak tangan yang menempel di punggung. "A-apa ya-yang kau lakukan pemimpin" ucaP keduanya dengan darah yang perlahan menetes di sela bibir.


"Aku sangat berterima kasih karena kalian sudah sangaT setia kepadaku. Tapi ini demi mengembalikan kekuatanku ke puncak, jadi kalian berdua harusnya senang dapat hidup dan mati ditanganku" kata Jun Bai. Tubuh keduanya langsung mengering hingga tersisa menjadi abu. Hanya pakaian yang sebelumnya mereka pakai yang terjatuh ke tanah.


Jun Bai menatap Zai dengan harapan yang tinggi. "Aku tidak pernah menduga organisasi yang ku bangun untuk menguasai dunia ini dapat kau hancurkan begitu saja, jadilah pengikutku, aku akan memberikanmu kekuatan diatas normal dan kita bisa menguasai dunia ini, bahkan kita bisa mengarungi dunia lain bersama." Jun Bai mendekat. Berjalan dengan santai seperti tidak menganggap Zai sebagai ancaman.


'Sistem, apakah aku bisa menang?' Zai bertanya karena dia dapat merasakan tekanan yang ingin menekan tubuhnya, jika bukan kekuatan fisiknya sudah ditambahkan mungkin sekarang dia akan terkapar di tanah dengan tengkurap.


"Aku salut kepadamu yang bisa menahan tekanan dariku! Kalau begitu biar aku tambah lagi. Ini adalah kesenangan yang sudah sangat lama sekali tidak pernah ku rasakan, sejak aku berada didunia ini" kakinya terus melangkah, semakin dekat semakin berat pula tekanan yang dia berikan.


Argh!! Zai berteriak melepaskan potensi dalam dirinya. Dia melempar tombak di tangannya, setelah tekanan itu menghilang, Zai langsung bergerak dengan cepat menjauh dan memberikan tembakan beruntun. Dia tau itu tidak terlalu berguna. seraya menunggu kabar sistem. Apapun akan dia lakukan.


(Tuan rumah berhati-hati. Lawan sangat kuat, usahakan untuk tetap hidup) kata sistem dalam pikiran Zai.


Wush! Jun Bai muncul di sampingnya dan langsung menghujamkan pukulan.


Beng!


Zai terlempar dan menabrak dinding beton. Ini adalah kali pertamanya dia mendapat pukulan yang begitu sakit setelah dia mendapatkan sistem dalam dirinya. Tak pernah dia menduga akan mendapati lawan yang seperti ini.


Jika dia dulu sering berolahraga dan latihan fisik serta berlatih teknik beladiri kuno yang diberikan sistem. Mungkin tidak akan sesulit ini.


'Aku terlalu banyak membuang waktu. Bermain wanita dan hal sebagainya, penyesalan memang datang terlambat'


"Kau terlalu lemah, sayang sekali"


Beng!! Tubuh zai terpental ke atas langit dengan tendangan keras yang menghantam perutnya. 

__ADS_1


Jun Bai menghilang dari tempatnya dan muncul diatas menunggu kedatangan Zai.


Dia kemudian mengangkat kakinya lagi dan menendang punggung Zai dengan mudah. Zai tidak bisa mengendalikan tubuhnya hingga terhempas ke tanah dengan sangat keras.


Wash Bam! Argh..


Debu mengepul cukup tinggi ketija tubuh Zia terhempas ke tanah yang membuaT tanah retak. Ada begitu banyak tulangnya yang patah dan hancur. Zai hampir kehilangan kesadarannya.


'Maaf kan aku ibu, ayah! Maafkan aku semua calon istriku' air mata segera menetes karena perpisahan akan segera terjadi.


"Begini sajakah kekuatanmu? Cih! Sangat mengecewakanku, aku kira kau itu sangat hebat! Nyatanya ampas" Jun Bai meludah, "Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu, tapi tubuhmu lebih bagus dari semua anggota Organisasi, jika aku mengkonsumsi energimu, aku pasti akan dapat terbang dan kembali ke dunia asalku" katanya lalu mengayun telapak tangannya.


Zai dengan jelas melihat telapak tangan itu mengayun menuju kepalanya. Dapat dia rasakan kekuatan sedotan yang kuat.


Tapi sebuah serangan tak terduga datang dari arah belakang.


Wush Boom! Serangan itu telak mengenai Jun Bai


"Tuan muda!" Enam orang datang langsung memberikan serangan kepada Jun Bai, serangan itu mampu menerbangkan Jun Bai ke reruntuhan.


"Biarkan kami yang melawan" Saddam berdiri paling depan. Diikuti oleh Rey dan Ilham.


Sedang tiga lainnya membantu Zai untuk bangun. "Tulangku banyak yang patah. Biarkan aku sebentar seperti ini" kata Zai dia berdiam diri. 


Ketiganya pun membiarkan Zai seperti itu, namun mereka tetap menjaga dari tiap sisi. Takutnya ada serangan mendadak yang datang.


Jun Bai keluar dari reruntuhan dengan menggerakan kepalanya hingga terdengar bunyi kretak. "Ugh sangat nyaman sekali" katanya cukup nyaring, entah dengan maksud mengejek serangan itu atau tidak. Siapa yang tau?


Jun Bai menatap enam orang yang berdiri diantara sosok yang ingin dia serap tubuhnya. Matanya kian bersinar. "Aku dapat merasakan kalian semua bukan berasal dari dunia ini"

__ADS_1


__ADS_2