
Zai menyelesaikan urusan dengan Inc Group dan mengambil alih perusahaan itu, mengubahnya menjadi anak perusahaan dari international Group yang sekarang diresmikan menjadi Z Group.
Di halaman Inc Group, Zai bersama dengan Laila dihadang oleh seseorang yang tidak terima perusahaan yang dibangunnya dari Nol sekarang berpindah tangan. Dia memanggil cukup banyak orang untuk mendemo.
Zai tidak jadi masuk kedalam Mobil begitu pula dengan Laila. Zai bersandar pada Kap mobil dengan tangan yang terlipat di dada menatap gerombolan orang itu dengan jijik.
"Apakah aku harus memanggil pihak berwajib untuk memulangkan kalian untuk berpamitan dengan keluarga, atau kalian sendiri yang pulang tanpa keributan?" Zai berkata memberikan pilihan kepada gerombolan orang itu, dia tahu mereka hanya dibayar melakukan ini dan tidak benar-benar bersalah serta tahu apa duduk perkaranya.
Mendengar penuturan pemuda yang kini duduk santai itu, semua orang yang ada disana berangsur-angsur mundur dan menghilang satu persatu hingga hanya tersisa satu.
Kemudian Zai menatap satu orang yang berada tepat di hadapannya kini. Dia adalah lelaki paruh baya pemilik asal perusahaan Inc Group. Tiger Wu menatap rendah Zai, meskipun lawan berkuasa sekarang dengan mengandalkan semua saham. Tapi tetap perusahaan itu adalah miliknya dan tidak akan pernah orang lain bisa untuk memilikinya.
__ADS_1
"Aku sarankan kau untuk mengakhiri hal yang sia-sia ini, ini adalah akibat buah dari keserakahanmu sendiri. Jika kau tidak mengganggu perusahaan milikku, mana ada niat aku mengganggu perusahaanmu. Berlapang dadalah!" Ucap Zai tanpa menurunkan tatapannya.
"Cih, anak kemarin sore bertingkah seolah penguasa sebenarnya, tunggu saja pembalasan ku, ini tidak akan mudah!" Ucap Tiger Wu, dia mundur karena orang yang dibawanya pergi semua meninggalkan dia 'sial! Sudah ku bayar mahal malah pergi' dia mengumpat murka namun tidak menunjukan perubahan pada wajahnya.
Zai hanya tersenyum mendengarnya. Lalu dia menghubungi Hendri untuk membereskan orang itu, bibit dendam akan menumbuhkan pohon yang suatu hari bisa menjadi penghalang air mengalir.
"Ayo kita pulang!" Kata Zai mengajak Laila.
Menjelang malam, mobil bugatti yang dikendarai memasuki pekarangan rumah. Dan keduanya keluar dari mobil lalu memasuki rumah.
"Menggunakan jet pribadi bisa tuan tentukan kapan keberangkatannya"
__ADS_1
"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja, bangunkan Selly, mungkin dia masih kelelahan" kata Zai. Dia duduk menunggu di sofa ruang tamu.
Tidak ada barang yang perlu dibawa olehnya, jadi dia tidak berkemas.
"Hei bangun pelakor!" Laila mengguncang tangan Selly untuk membangunkannya.
Selly menggeliat membuka mulut dan juga ketiaknya. "Sesama pelakor jangan saling sebut!" Sahut Selly, dia semakin berani dengan Laila, lalu perlahan bangkit, duduk dan berjalan ke kamar mandi.
"Kita akan ke indonesia malam ini juga, Zai sudah bersiap menunggu di bawah, jika tidak ingin ketinggalan pesawat. Maka cepat mandi dan jangan berlama-lama"
"Oke!" Selly menjawab sambil membentuk tanda dengan jarinya. Dia langsung masuk kedalam kamar mandi dan gerak cepat mengguyur tubuhnya yang letih. Meskipun cukup lama tidur, tapi tubuhnya seperti samsak pasir yang dihempaskan ke tanah. Dari sakit menjadi nyaman dan berakhir dengan remuk seluruh tulang rasanya, sambil mandi dia mengingat momen itu. Membuatnya senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
'Betapa gilanya aku saat itu!' Selly membatin.
Hanya lima menit dia mandi dan langsung keluar lalu berganti pakaian yang memang dibawanya. Dia hanya membawa dua set pakaian saja, karena itu memang permintaan dari Zai. Baginya akan merepotkan jika kemana-mana harus menarik koper...