
Kelap-kelip cahaya lampu kecil menghiasi cafe itu. Lima orang mengitari meja bundar yang dipenuhi dengan minuman serta makanan ringan. Amanda dengan langkah kaki panjangnya segera mendekat.
"Mengapa wajahmu tidak senang seperti?" Salah seorang bertanya diantara lima orang itu.
"Udah ah. jangan membahas itu dulu. minumanku sudah dipesan?" Tanya Amanda, Dia segera duduk di tempat yang memang sudah di siapkan untuknya.
"Sesuai pesananmu Nona besar kita yang cantik!Sudah sangat lama kita tidak bertemu. aku sangat senang kau menghubungi kami untuk berkumpul" Ucap Ceni.
"Aku juga merindukan kalian, Makanya ketika aku pulang, aku mengabari. Bagaimana keadaan kalian sekarang? apakah ada perkembangan?" Amanda kembali bertanya setelah menyedot minumannya dari sedotan yang berada pada gelas.
Lima orang saling berpandangan dan satu orang mewakili. "Kami semua baik-baik saja. Tapi karna dirimu tidak ada. kami semua seperti bintang redup" Sahut Lia yang mewakili
"Emmm" Amanda mengangguk lalu ia menatap Ceni. "Ceh! bagaimana dengan usahamu?" tanyanya kepada Ceni yang bermata sipit yang berada tepat disebelahnya.
"Cukup baik" Sahut Ceni "Tapi masih belum sebaik kamu dalam melakukan banyak hal" Tambahnya lagi.
"Oke... Malam ini kita bersenang-senang saja" Ucapnya tersenyum memandang lima teman baiknya semasa SMA itu. "Kalian pesan. biar aku yang traktir" Ucapnya lagi..
"Kau memang Ratunya malam ini!!" Puji yang lainnya.
.............
Pagi yang sibuk kembali datang, Bising suara kendaraan tidak terkendalikan. Hiruk pikuk manusia segera terdengarkan. Arah hidup belum dijelaskan, Namun kehidupan akan tetap berjalan. Walau, Tanpa penjelasan. Seperti langkah Zai yang belum dapat dipastikan kemana takdir akan membawanya. Apakah ke masa depan yang gemilang? atau ke arah kehancuran. Akan tetapi, Dia memantapkan hati menyongsong asa yang akan dia gapai. menjadi bintang atau menjadi sampah yang berserakan, Itu adalah kuasa tuhan.
"Selamat pagi sayang!" Ucap Zai kepada Juli yang sedang berolah raga di teras rumah untuk menjaga kebugarannya. tidak seperti Zai yang malas dalam olah raga.
Juli tentu menghentikan aktifitasnya dan melompat kearah Zai dengan rentangan tangan yang terbuka.
__ADS_1
Pap! Zai menangkap tubuh langsing itu dan langsung menaruh tangannya pada bokong sintal Juli dan meremas sebentar.
"Kamu masih ringan seperti gadis" Ucap Zai memuji. yang dipuji tersenyum memerah wajahnya. "Sudah cepat mandi, Hari ini kita akan membeli Rumah 'kan?"
"Kamu pasti merasa aku beratkan? jadi memintaku untuk mandi, Bilang aja" Kata Juli dengan menahan senyumnya.
"Bahkan jika seharian kita seperti ini, Aku tidak akan merasa keberatan. apalagi yang menempel ini sungguh terasa. coba rasakan apakah adik kecilku bergerak" Ucap Zai. Dia sedikit berkilah namun soal adik kecilnya yang bangun itu memang benar. coba bayangkan! bagaimana mungkin tidak bangun? jika yang menggoda birahi menjeplak di perut.
Juli terkekeh lalu segera turun perlahan. dia menggoda Zai lagi dengan menempelkan dadanya ketika turun. darah yang dingin segera mendidih. Tapi Zai berusaha menahannya. dia tidak ingin dikatakan memiliki otak dibagian bawah.
Segera dia masuk kedalam dan menarik Zai. Zai ditinggal diruang tamu yang tidak terlalu luas itu. sedangkan Juli segera masuk kedalam kamar dan mandi.
.............
Dua buah Mobil beriringan melaju dengan tidak terlalu cepat. Hingga sampai pada perumahan elit yang cukup banyak barisan rumah mewahnya. Mobil mereka memasuki kawasan itu lalu menuju kantor pemasaran.
Semua sales segera bergerak satu persatu dari mereka membawakan browser dan menunggu pengendara Bugatti itu memasuki kantor mereka..
Orlando dengan bangga melangkahkan kakinya. ada jejak kesombongan dihatinya. dia sangat senang akan hal itu. Dia tidak pernah menajadi pusat perhatian orang-orang meskipun dia terlahir dari keluarga kaya. karna memang dia tidak menonjol seperti yang lainnya. dari segi apapun itu, Makanya dia dianggap anak cacat yang hanya tau menghabiskan uang keluarga. Padahal dia sudah berusaha. hanya saja otaknya tidak sesuai dengan keinginan hatinya. dan hatinya terlalu lembut hingga mudah ditipu oleh orang-orang.
"Selamat pagi Pak" Sales saling berebut untuk mendapatkan pelanggan ini. bagi mereka, Mereka akan mendapatkan banyak bonus dari penjulan. Entah Cash atau credite mereka tidak peduli hal itu.
"Pagi juga. Aku ingin melihat-lihat dulu" ucap Orlando dengan suara sedikit berat.
Juli sedikit tertawa ketika melihat kelakuan ayahnya. sedang Kirana menepak jidatnya. dan Zai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan calon mertuanya itu. tapi dia tidak mempermasalahkannya.
"Ikuti saya Pak, Ayo!" Ajak salah satu Sales. tapi sales yang lain juga mengikuti sembari menawarkan. ada sebagian yang mendatangi Rianti dan bertanya Model seperti apa yang diinginkan. Namun Rianti mengatakan "Biarkan dia yang memilih" tunjuk Rianti kepada Orlando. semua keputusan dia serahkan kepada suaminya. karna dia tidak ingin ambil pusing.
__ADS_1
Zai berjalan ke arah sofa, dia menarik tangan Juli dan duduk bersama. sedangkan Kirana berjalan-jalan sendiri. dia ingin melihat Rumah-rumah elit disekitaran sana.
"Sayang! inilah bukti, Jika uang itu sangat berpengaruh" Ucap Zai melihat mereka yang masih mengerumuni Orlando dan Rianti. Segera Rendy diturunkan oleh Rianti dan mengeluarkannya dari kerumunan "Beri aku jalan. Cucuku sedang kepanasan" Ucapnya.
Rendy berlari dengan kaki kecilnya kearah ibunya yang kini sedang dipangku oleh Zai.
"Mama! Apakah ini ayah baru buat aku?" Tanyanya dengan gaya Has anak kecil berbicara yang sedikit terbelit
"Sini duduk!" Zai mengulurkan tangannya. agar Rendy bisa naik kepangkuannya. dengan pesona yang dimiliki oleh Zai. Rendy merasa nyaman dan tidak menolak.
Rendy meraih tangan Zai dan melompat ketika Zai mengayunkan tangannya keatas. dia mendarat sempurna dipaha kiri Zai.
"Mama! Mengapa mama juga duduk disana? Kan kasian Ayah!" Tatapnya sambil bertanya.
Juli merasa malu ditegur oleh Anaknya, Terpaksa dia turun dari tempat kenyamanannya. Zai terkekeh melihatnya.
"Menantu sama mertua sangat berbeda Ya? Satu orang kaya, Satunya lagi biasa saja" ada dua orang yang menatap kecantikan Juli dan salah satunya berkata dengan mencibir ketika mendengar Anak kecil itu bertanya kepada Mamanya tentang ayah baru.
"Kau benar! Bisa-bisanya orang sekaya itu, pemilik Mobik Bugatti Chiron yang sangat mahal harganya, bisa menerima menantu yang hanya mengendarai Mobil Ayla" sahut sang kawan.
"Kau benar juga! Jika aku memiliki seorang anak yang cantik seperti itu, Aku akan menikahkannya dengan orang yang lebih kaya"
"Woy, Apa yang kalian diskusikan?" Seseorang datang dari belakang mengejutkan mereka berdua.
"Coba kau lihat. lekaki yang tua itu adalah orang yang mengendarai Mobil Bugatti. sedang lelaki disana adalah pemilik Mobil Ayla" salah satu menyahut
"Apa hubungannya?" Tanya orang yang baru datang
__ADS_1
"Hubungannya adalah yang disana mertua, Yang disitu menantu"