
Bom! Bom! Bom! Tiga bom meledak di sekeliling mereka. Mereka yang berada di tengah-tengah ledakan itu begitu terkejut. Bagaimana tidak. Mereka terperangkap. Sebelumnya mereka tertawa dengan kegilaan yang dilakukan oleh pemuda itu. Namun kini mereka berteriak ketakutan.
Ketika hidup sudah diambang akhir. Manusia baru akan sadar bahwa kesempatan itu tak boleh disiakan.
Tolong! Teriakan seperti itu menggema tanpa henti. Kepanikan terjadi disana. Tidak ada yang berkonsentrasi atau memandu mereka untuk tidak panik. Karena semua orang berpikir ingin menyelamatkan diri mereka sendiri.
Satu lagi bom meledak dan menghancurkan atap hingga menghantam beberapa orang yang kocar-kacir berhamburan. Inilah yang Zai inginkan. Memecah mereka adalah sebuah keharusan. Meskipun dia bisa membunuh mereka dengan tingkat kultivasinya sekarang. Akan tetapi dia berpikir. Jika lawan langsung mati. Itu tidak akan menciptakan keseruan sama sekali.
Seperti yang kini dia lihat. Pasukan khusus itu berlompat, berlari. Bahkan ada yang keluar dari reruntuhan itu dengan cara ngesot.
Zai melemparkan sebuah segel penghalang dari teknik formasi yang sudah disempurnakan oleh sistem. Hingga semua orang itu tidak bisa kabur atau pun berpikir untuk hidup lebih lama. Sebab mereka kini terkurung. Ketika penghalang itu membentuk kubus mereka semua dikumpulkan kembali satu persatu. Hingga terkurung sempurna
"Ampuni aku! Tolong ampuni, aku masih ingin hidup!" Entah yang mana yang telah berkata. Tidak jelas suara itu asalnya. Namun yang pasti semua orang berteriak meminta tolong. Riuh suara menjadi satu.
Zai menangkupkan telapak tangannya. Dan hal yang mengejutkan terjadi. Kubus itu semakin mengecil dan terus mengecil menghampiri mereka dan semakin mengecil hingga mereka berdesakan tak bisa menghindar.
Cipratan darah berhambur disana sini. Ketika semua orang itu di peras oleh kubus. Seperti ayam yang digeprek dengan ulekan. Namun yang ini lebih parah lagi dari itu.
[Selamat tuan membunuh sembilan belas orang, tuan rumah mendapatkan 19000 Poin penukaran dan 5000 Poin peningkatan]
'Tampilkan status'
[Ting…]
[Tuan rumah: Zaidul Akbar]
[Level: Ranah Raja Langit tahap awal]
[Poin tukar: 1T2000 poin]
[Teknik: Teknik naga melahap matahari, Pemahaman 100%:
Jari dewa matahari, Pemahaman 100%:
__ADS_1
Segel Formasi, Pemahaman 80%]
[Senjata: Pedang Dewa Matahari: Pengendalian 80%]
[Poin Peningkatan: 20000/200000]
[Kotak hadiah: Kotak misteri (×) Kotak Gold (×) Kotak perak (×)
[Kondisi: Sehat]
[Misi: Menghancurkan Black Devil]
[Inventori : Semua keperluan tuan rumah]
'Sistem! Apakah ini tidak salah?' Tanya Zai dalam pikirannya yang terkejut melihat statusnya pada layar biru di depannya.
[Apa yang salah tuan Rumah?]
[Karena perubahan sistem. Semua skill yang dahulu didapat menghilang dan berganti dengan teknik baru. Hanya teknik naga melahap matahari yang melekat di tubuh. sebab teknik bela diri kuno yang pertama kali terpasang di tubuh tuan rumah]
'Oh begitu. Baiklah. Itu bukan masalah besar juga. Skill tidak terlalu penting juga. Sebab aku sudah menguasai beberapa teknik hebat.' Pikirnya.
Sekarang sepertinya aku harus mencari markas utama agar dapat menyelesaikan urusan dengan Black Devil ini dan mendapatkan perusahan terbesar diseluruh dunia. Jika saat itu tiba. Inc Group hanyalah kuku kecil yang sudah saatnya dipangkas.
Zai masuk kedalam Mobilnya dan melaju ke jalanan kota melewati jalan yang sebelumnya dilewati oleh Daniel.
Sepeninggal Zai. Satu orang keluar dari celah pintu dimana dia bersembunyi sebelumnya. Dia tidak ikut masuk kedalam. Dan itu adalah keberuntungannya. Jika dia masuk. Pasti dia akan mati juga seperti kawan-kawannya. Mati dalam keadaan tersiksa seluruhnya.
Dia segera kembali ke mobil dan bergegas pulang ke markas besar yang terletak di dekat rumah Brian.
Tiga puluh menit berlalu. Sebuah mobil begitu kencang dikemudikan. Satpam yang ingin menutup pagar terkejut dan terpaksa mendorongnya kembali. Agar mobil itu bisa masuk. Dia mengenali mobil itu adalah mobil pasukan milik Pak Brian. Tuan rumah. Namun yang tak dia pahami mengapa mobil itu hanya satu dan melaju cepat.
"Sepertinya tuan mendapat masalah! Tapi itu bukan urusanku. Jika gaji jalan aku bertahan jika gaji sendat aku pergi. Demi anak dan istri dirumah yang menunggu nafkah!"
__ADS_1
Ban mobil berdecit di halaman rumah yang cukup luas itu. Berhenti tepat di dekat pintu. Dia memang sengaja melakukannya agar mudah sekali membuka pintu dapat langsung masuk kedalam rumah. Tidak perlu berjalan jauh.
"Ketua!" Orang itu berteriak memanggil dengan tergesa-gesa.
Brian yang memang duduk dengan santai di depan televisi ditemani oleh dua wanita yang kini salah satunya duduk di pahanya Dia langsung menyahut dan mengangkat tangan.
"Mengapa kau datang sendiri?" Tanya Brian sambil merasakan daya sedot yang berada di antara pahanya oleh satu wanita lainnya. "Ugh" lenguhan keluar dari mulutnya.
"Semuanya mati tuan! Hanya aku yang tersisa dan markas cabang disana telah dihancurkan!" Sahut orang itu.
"Apa kau pikir aku bodoh Bill. Mana mungkin aku percaya? Berapa orang yang berada disana dan sembilan belas lainnya adalah pasukan khusus yang dibuat untuk menghancurkan lawan. Namun melawan satu orang tidak bisa. Apakah aku patut percaya dengan ini?" Teriaknya tanpa berdiri. Sebab wanita yang mengutak-atik senjatanya begitu pintar memperlakukan Tongkat itu.
Orang yang berada di belakang Bram hanya bisa menunduk. Takut iya! Tapi penasaran juga iya dengan apa yang dilakukan ketua Brian itu hingga terkadang ketika berbicara dia melenguh kenikmatan. Ingin mengintip tapi tidak berani melakukannya.
"Aku merekamnya ketua. Jadi ini memang nyata bukan film action atau laga"
"Kau turunlah ke laboratorium dan tanyakan kepada Pak Roland tentang serum kekuatan. Lalu kau harus menjadi uji cobanya langsung. Jika memang lawan sangat kuat seperti itu.
"Baik ketua!" Orang itu menghilangkan penasarannya dengan turun menggunakan lift menuju area bawah tanah yang ada laboratoriumnya.
Sedangkan Brian melanjutkan aksinya. Dengan lembut dia memperlakukan wanita, seolah dia orang yang berbeda dari sebelumnya yang terlihat sangar namun tetap tampan.
Dia memegang dua gundukan melon yang sangat matang lalu menyesapnya. Ada lenguhan panjang sebagai bukti bahwa hisapan itu begitu menyenangkan.
Sedangkan miliknya juga diperlakukan dengan baik oleh satu wanita yang masih menyukai dan menganggap tongkatnya itu sebagai permen lolipop.
……..
Zai sampai di kediamannya. Dia tidak mencari Daniel atau pun Anthony. Dia mencari Laila yang dia rindukan.
Zai membuka pintu rumah. Dan menemukan Laila yang menonton televisi dengan santainya. Kaki indahnya menyilang mengapit sesuatu dan menyembunyikan celah indah. Zai melompat dan mendarat sempurna di samping Laila. Lalu dia merebahkan kepalanya dan menikmati memandang Laila dari bawah. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dagu yang sedikit lancip itu.
"Kamu sangat cantik!" pujinya. Setelah itu memiringkan kepalanya ke arah perut Laila dan mencium harum wangi melati khas parfum wanita.
__ADS_1