
Pagi hari selanjutnya.
"Bagaimana dengan yang aku perintahkan?" Tanya Zai di sambungan telpon.
"Kami sudah mengirim dua orang untuk menyusup ke Red Devil tapi masih belum ada kabar, Entah mengapa, kontak mereka juga sepertinya hilang karna tak bisa dihubungi"
"Mungkin mereka sudah ditangkap oleh mereka, Kita akan berkunjung kesana Nanti malam, Takutnya teman teman akan di habisi jika kita tidak memberi mereka salam"
"Aku juga menghawatirkan hal yang sama karna sudah tiga hari setelah aku menyuruh mereka." Sahut Torax
"Bersiaplah kalian, Aku akan segera mengabari" Ucapnya lalu memutuskan sambungan telpon dan melempar Ponselnya kemudian dia mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
"Tempat ini selalu bersih, Mungkin Gadis itu yang membersihkannya jika aku tidak ada" Gumamnya lalu membuka shower dan mulai membasahi tubuhnya dengan air untuk merenungkan kehidupannya yang kini sangat jauh berbeda.
Dia terkenang masa lalu yang sering dipukuli membuatnya kesal setengah mati, Teringat sekarang sering mempermainkan hati, Membuatnya senyum senyum sendiri. "Hidup memang seperti naik gunung dan turun gunung,, dulu aku berada turunan hingga sering kena siksa dan hina, Sekarang aku berada di atas gunung bisa melihat orang orang kecil dan menyiksa, Tapi apakah hidup yang seperti ini yang di inginkan oleh setiap manusia"
__ADS_1
Zai melajukan mobilnya kembali menuju perusahaan yang memang tidak terlalu jauh jaraknya
Tak terasa jarak yang ditempuh sudah terlewat begitu saja, Kini Zai sudah berada di Parkir khusus Presdir yang biasa ditempati oleh Sadewa sebagai Presdir sebelumnya.
Zai Masuk melalu pintu depan karna dia ingin melihat sebagian kariyawannya, Bagaimana mereka bekerja dan juga bersikap. karna sebagian mungkin masih ada yang tidak tau siapa dirinya.
"Pagi Presdir" Sapa sebagian orang yang sudah mengetahui siapa Zai sebenarnya, Yang kala itu hadir di tempat kejadian perkara menyaksikan pertunjukan Billy yang dipecat karna menuduh Presdir yang macam macam.
"Tampan sekali ya Presdir kita ini, aku tak kan menyesal memiliki satu malam bersamanya"
"Kau benar, Tapi apa mungkin dia melirik ke kita ini, pasti seleranya tinggi" Sahut temannya disebelah yang tak yakin.
"Au, Kamu apa apain sih Din main tepuk pantatku saja" Tatap Bella tajam. "Tentu, Siapa juga yang menolak, Sudah tampan kaya lagi, Ugh serasa mendapat durian runtuh" Imbuhnya sembari membayangkan malam yang indah.
"Hahaha kau menghayalkan, udahlah, Nanti kita coba bergantian untuk merayunya" ucap Dina lagi. lalu dia pergi meninggalkan Bella yang berdiri dekat pintu...
__ADS_1
"Yun, Keruangan ku, Aku ingin mengetahui laporan keuangan!" Pintanya lewat telpon.
Yunita bergegas merapikan pakaiannya dan mengambil kaca dan juga sisir tak lupa bedak tipis untuk menambahkan kesan di hadapan Presdirnya yang tampan.
Tok tok Tok..! Ketukan pintu terdengar
"Masuklah...!" Ucap Zai tanpa melihat karna dia sudah tau siapa yang datang.
"Selamat pagi Pak" Sapa Yunita dengan sedikit membungkuk menampilkan belahan yang sedikit terbuka. Entah disengaja atau tidak, Tapi itu jelas terlihat ada dua melon segar yang cukup besar terbungkus rapi.
"Duduklah..!" Zai menunduk kan lagi wajahnya setelah melihat sebentar, Karna dia tak ingin matanya mengotori keindahan. dan dia berusaha menjaga pandangan nya agar tak menambah orang jatuh cinta padanya. 'Itulah resiko jadi orang tampan' Batinnya.
'Kenapa Presdir cuma menunduk, Apa aku terlihat jelek?' batin Yunita pun bertanya tanya hal apa gerangan.
"Ini laporan yang bapak minta tadi" Yunita fokus kembali ke pekerjaannya dan dia menyodorkan File yang lumayan tebal.
__ADS_1
"Bacakan saja, Aku tidak ingin membacanya sendiri hal yang merepotkan seperti itu" Ucap Zai sambil membuka panel sistem yang ada di hadapannya.
'Sistem, Aku ingin tau berapa aset yang ku miliki sekarang?'