Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Kehadiran Jendral perang


__ADS_3

"Aku tidak apa-apa ibu, hanya sedikit lemas dan Qi di tubuhku habis"


"Ayo ikut ibu! Biar pamanmu yang menyelesaikannya" kata permaisuri. Kesedihan tersirat di wajahnya. Tak sampai dia membayangkan bahwa anaknya akan kalah melawan anak tirinya yang notabenenya diunggulkan sama sekali dalam segi apapun. Kekuatan, kekuasaan atau pengaruh. Hanya modal baik saja. Tapi apa? Kenyataan memang pahit namun harus diterima.


Kang Lei mengikuti langkah kaki permaisuri yang memapahnya menjauh dari arena seraya menatap Kang Hong yang masih duduk namun tak bisa berbuat apa-apa. Sebab pengaruh racun pelumpuh juga mengenainya. Tapi dia masih kuat, setidaknya tidak pingsan seperti halnya para penonton.


Zai melompat ke arena. Dia berjalan dengan santai diantara Jendral perang dan juga Kang Zhiyun yang masih bersitegang kata. Tidak ada hal yang menyulitkannya. Bahkan jendral perang sendiri membiarkannya saja lewat.


Setelah sampai ditempat Kang Hong. Zai memberikan sebutir pil yang dibelinya dengan harga murah di shop sistem.


Segera Kang Hong menelannya dan mencoba menarik Qi kedalam tubuhnya. Zai langsung berbalik dan lewat kembali di antara keduanya yang kini terdiam melihat aksinya. Kemudian dia kembali ketempat duduk sebelumnya.


"Lanjutkan!" Kata Zai. Seolah sebelumnya dia mengklik tanda jeda dan sekarang dia mengklik tanda play dengan meminta mereka lanjut menyelesaikan masalahnya. Dan jadi penonton bersama dengan Laila yang juga duduk dengan santai menyilangkan kakinya.


Diam! Semua orang diam mendengar perintahnya.


"Kau siapa berani memerintah Jendral perang?!" Teriak salah satu tentara.

__ADS_1


Zai hanya melambaikan tangannya dan kepala orang itu pecah seketika.


Diam! Sekali lagi orang-orang yang terjaga terdiam melihat kekuatan itu. Hanya dengan lambaian tangannya. Seorang yang berada di ranah bumi tahap awal meledak.


"Kekuatan ini!?" Jendral perang merasakan getir dalam hatinya.


Hanya Kaisar Kang Zhiyun yang tidak terkejut. Sebab dia sudah merasakan sendiri pukulan berat yang bisa dikeluarkan pemuda itu.


"Aku disini sebagai penonton. Lanjutkan jika kalian ingin terus membahas tahta. Akan tetapi, jangan sakiti saudaraku Kang Hong dan biarkan dia yang menjadi kaisar selanjutnya. Sisanya itu terserah kalian" kata Zai cukup arogan. Misinya memang seperti itu dan dia tidak terlalu peduli dengan hal lainnya.


Dia terbatuk darah dua kali. Tubuh tuanya tidak sanggup lagi.


Ada senyuman dibalik wajah jendral Perang. Namun ketika dia mengingat ucapan pemuda yang menonton itu. Dia merasa sulit. Bahkan pemuda itu tidak terpengaruh sama sekali dengan racun pelumpuh saraf yang berterbarang diudara. Dia sendiri harus minum penangkalnya lebih dulu agar tidak terkontaminasi racun tersebut. Tapi pemuda ini tidak terpengaruh sama sekali. "Apakah dia mengkonsumsi pil yang sama seperti yang diberikannya kepada pangeran Kang Hong. Tapi apa hal itu sempat disadari. Sedangkan Kaisar sendiri tidak menyadarinya" Gumam Jendral perang itu.


Kang Hong berdiri setelah sembuh dari pengaruh racun pelumpuh saraf dan berjalan ke hadapan Jendral perang itu lalu berkata "untuk apa lagi hal ini jendral. Bukankah aku sudah memenangkannya. Bahkan seperti perkataan pangeran Kang Lei. Pemimpin harus orang yang kuat. Jadi apakah aku masih tidak memiliki kualifikasi?" Kang Hong bertanya kesal.


"Hmm, memang benar kau memenangkannya. Tapi aku tetap tidak terima dipimpin olehmu. Aku ingin Kang Lei atau Kang Jun yang jadi Kaisar selanjutnya bukan dirimu yang hanya berasal dari rahim selir biasa dan dari kalangan biasa itu" Jendral perang berkata cukup kasar dan itu jelas menyakiti hati siapapun yang mendengarnya. Jika berada diposisi Kang Hong saat ini.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Kang Hong. Dia tidak akan mentolerir lagi. Meskipun dia tidak mungkin bisa mengalahkan jendral perang yang sudah berada di ranah raja bumi tahap menengah. Namun dia percaya bahwa saudara sumpahnya itu tidak akan membiarkannya mati atau celaka.


"Aku ingin kau menyerahkan tahta itu dengan sukarela. Atau jika tidak kau akan menanggung akibat yang berat!" Ancamnya.


"Jangan terlalu sombong jendral! Hanya dengan beberapa orang ini. Kau tidak akan bisa menghukumku. Kau mungkin merasa orang yang paling kuat disini setelah ayahku lumpuh. Tapi apa kau tidak ingat dengan dua orang yang menjadi penonton disana. Dia adalah saudaraku. Aku yakin dia tidak akan membiarkanmu untuk melukaiku" kata Kang Hong penuh percaya diri. Dia patut percaya diri seperti itu, sebab dia tahu Misi yang dikatakan Zai adalah untuk membantu putra mahkota naik tahta. Setelah menjalani kemenangan dia sangat yakin bahwa dialah sang putra mahkota itu sebenarnya.


"Hemm. Mengandalkan orang lain juga, cih!" Jendral perang berdecak kesal. Sedikit banyaknya dia sudah melihat kekuatan pemuda itu. Akan tetapi ada suatu hal yang lebih menyulitkannya. Wanita bercadar di samping pemuda itu menampilkan aura yang cukup menekan dia yang sudah berada di ranah raja bumi tahap menengah.


"Kita sama saja. Aku dan pangeran yang lainnya juga mengandalkan orang lain sebagai pendukung, apakah salah jendral? Sebagai calon kaisar yang sah. Aku akan mencabut kekuasaan mu dan juga statusmu dan karna telah berniat merusak apa yang sudah disepakati bahkan melumpuhkan kaisar. Maka kau akan dihukum cambuk seratus kali setiap hari selama hidupmu" kata Kang Hong cukup kejam. Karena dia sudah sangat murka. Dia lalu menatap Zai. "Apakah ada obat untuk menyembuhkan ayahku?" Tanyanya kepada Zai.


Zai melambaikan tanganya dan sebutir pil terlempar ke arah Kang Hong. Akan tetapi serangan tiba-tiba datang kepadanya. Dikarenakan dia tidak siap dengan hal itu dia terkena pukulan dan terpelanting jauh menghantam tembok batu. Jendral perang menyambut pil itu dan boom! Telapak tangannya langsung terbakar akibat ledakan kecil digenggamannya.


Untungnya Zai hanya memberikan bom yang jika meledak hanya berskala kecil. Sebab dia takut salah perhitungan. Kalau-kalau jendral perang tidak menyerang maka tangan Kang Hong yang menjadi korban. Beruntungnya Jendral itu yang bergerak. Namun sialnya Kang Hong harus menerima pengorbanan siasat Zai. Dia sedikit ingin memberi pelajaran. Agar Kang Hong tidak menyombongkan diri terlalu jauh lagi.


"Sial!" Jendral perang berteriak dengan umpatannya. Lalu dia menatap kurang lebih tiga ratus orang tentara yang dia bawa. Setidaknya mereka rata-rata berada di ranah bumi tahap awal. "Serang dia sekaligus! Aku yakin dia akan mati" teriaknya memerintah pasukannya


"Baik jendral!" Sahut dua ratus sembilan puluh sembilan orang yang ada, lebih tepatnya dia membawa pasukan kepercayaannya tiga ratus. Namun satu orang telah dibunuh oleh pemuda yang tidak lain bernama Zaidul Akbar

__ADS_1


__ADS_2