Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Black Devil 2


__ADS_3

Malam yang indah terlewatkan. Akhirnya Zai dapat merasakan keindahan bersama dengan Laila yang kini berada dalam pelukannya. Tak terbayangkan. Bahkan rasa ketat yang meremas melebihi dari wanita-wanita perawan yang pernah ditidurinya.


Tidak ada rasa lelah yang dirasakan. Zai seperti mendapat asupan nutrisi kala melakukan kultivasi dengan Laila. Entah Apa yang menjadikan hal seperti itu. Yang pasti keduanya begitu menikmati.


"Tidak salah aku memutuskan untuk berkultivasi ganda denganmu" kata Zai seraya membelai lembut pipi Laila.


Laila hanya tersenyum. Dia bangkit berjalan seperti wanita normal pada umumnya. Seharusnya ada rasa sakit yang masih tersisa sebab itu adalah yang pertama. Tapi mungkin tidak berlaku untuk Laila.


Zai begitu memperhatikan detail ketika Laila berjalan…


…….


Setelah menyelesaikan aktivitas panas. Zai memutuskan untuk membawa Laila menyambangi Markas besar Black Devil yang terletak jauh di ujung Kota New York. Dengan mengendarai Mobil yang diberikan oleh Hendri. Keduanya duduk tanpa ada sepatah kata yang keluar dari masing-masing. Entah karena apa?


Menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit. Zai dapat melihat pagar tinggi yang menutupi jarak pandang seseorang untuk melihat kediaman. Ada beberapa pohon yang memberikan kenaungan.


Zai memberikan Klakson dengan menekannya dua kali. Bersikap sopan adalah sebuah keharusan walaupun akan berkunjung ke tempat lawan. Seorang security membuka gerbang sedikit untuk melihat dan memastikan siapa yang datang. Walaupun dari cctv masih terlihat namun memastikan lebih dekat tentu lebih baik.


"Ada keperluan apa Pak?" Tanya security dengan sopan. Meskipun dia bekerja di rumah seorang mafia. Namun sifatnya tidak mengikuti gaya mafia.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah! Bisa kau bukakan gerbangnya?"


"Tunggu sebentar Ya Pak! Aku akan menghubungi orang yang didalam terlebih dahulu" kata security itu. Dia kembali ke posnya. Namun Zai tidak ingin bersabar. Dia menginjak pedal gas lebih dalam.


Vroom!! Raungan cukup keras diperdengarkan, kemudian mobil lepas landas.


Braak!! Zai menabrak pagar besi dan merobohkannya. Mobilnya pun melaju tanpa hambatan. Security itu berteriak berusaha menghentikan dengan pengejaran yang sia-sia.

__ADS_1


Namun dia segera berbalik ke posnya dan mengabari bahwa ada yang menerobos masuk kepada penjaga yang ada di dalam


Mobil yang dikendarai oleh Zai melaju dengan kecepatan yang sangat cepat. Beberapa orang yang coba menghentikan hal itu langsung ditabrak. Namun sebuah rudal kecil yang ditembakan ke arahnya dengan penguncian target. Berhasil menghentikan dengan meledakan Mobil itu.


Boom! Mobil itu terbalik dan terbakar.


"Mampus kau!" Ucap orang yang menembakan rudal itu. Seraya tertawa kemenangan.


Zai keluar dari mobil dengan menendang pintu. Begitu pula dengan Laila. Tidak ada yang terluka dari keduanya. Mereka berhasil selamat dari kejadian tragis itu.


Semua mata yang melihat hal itu tak mungkin dapat mengira. Bahwa orang yang ada di dalam mobil itu dapat hidup bahkan tidak terjadi masalah sedikitpun.


"Sial! Sepertinya mereka berdua bukan manusia, sebaiknya kita lari saja!' Salah satu bersuara dan bergegas pergi.


Zai tak perlu repot untuk mengejarnya. Yang terpenting baginya. Siapa yang ada di jalur lintasannya akan mati. Seperti halnya dua orang yang kini menghadangnya dan menembakinya. Dia juga membalas tembakan itu dengan kejam dan tanpa ampun. Dua pistol di tangannya berasap menandakan timah panas sudah keluar dari selongsongnya.


Setelah membunuh beberapa orang itu. Zai segera menarik tangan Laila dan masuk kedalam. Tidak menemukan satu orang pun di dalam kediaman. Zai bingung dengan hal itu. "Apakah kau tau kemana orang-orang?" Tanya Zai kepada Laila.


"Aku akan memindainya!" Jawab Laila. Dengan segera dia menyapukan pandangannya ke segala arah yang bisa menembus beberapa dinding.


"Mereka berada di bawah tanah dengan kedalaman lima puluh meter dari permukaan tanah" kata Laila seraya menunjuk lift yang berada dibalik dinding


Zai juga dapat memindai dengan mata emas. Namun dia tidak ingin menggunakannya sebab ada Laila disampingnya.


"Ayo kita buru!" Kata Zai yang segera menuju dinding itu dan menghantamnya hingga hancur. Mungkin ada cara lain untuk memasuki lift dimana ruang bawah tanah itu tersembunyi tanpa menghancurkan dinding. Namun Zai mencari jalan pintas. Dia memukul pintu Lift, membuatnya hancur seketika dan keduanya melompat turun mengikuti Lift rusak yang turun dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.


Boom!!

__ADS_1


Lift mendarat dengan kehancuran. Siapapun yang berada dibawahnya bahkan dekat dengannya akan terkena imbasnya.


Puluhan orang sudah bersiap dengan senjata rudal yang berada masing-masing ditangan mereka. Hampir tak dapat dipastikan hidup orang yang terkena tembakan itu.


"Tembak!" Terdengar aba-aba dari belakang yang memerintahkan mereka seirama melepaskan rudal itu dengan satu tujuan. Yaitu lift yang sudah hancur. Mereka mengira orang yang datang berada di dalam sana. Mereka salah besar..


Duar!!! Getaran itu sangat terasa. Entah mengapa mereka berani melakukan itu. Padahal sekarang mereka berada dalam tanah dengan kedalaman puluhan meter. Mungkin mereka memiliki cara untuk keluar.


"Lari!" Seorang mengomando. Mereka menuju jalan keluar yang sudah disiapkan jauh hari. Brian memang orang yang cukup kuat. Akan tetapi dia begitu sayang nyawa jadi selalu memiliki antisipasi.


Seperti laboratoriumnya ini juga memiliki jalan keluar. Dan dia sudah berlari jauh membawa peralatan dan serum yang telah disempurnakan dengan sebuah sel kekuatan yang berasal dari indonesia. Sel itu berkemungkinan adalah sel milik Zai yang dikembangkan namun seseorang yang harus mencobanya lebih dulu adalah Brian dan Anggotanya yang lain yang lebih dulu pergi untuk menerima suntikan sel kekuatan itu.


Zai sudah menduga akan mendapat tembakan beruntung. Dari lorong bekas lift itu keduanya turun setelah debu bekas ledakan itu menghilang terbawa angin yang masuk ketika ruang bawah tanah itu kini menjadi satu tumpukan tanah dan batu.


Zai memindai reruntuhan itu namun tidak menemukan satupun manusia yang mati. "Hm sepertinya ada jalan keluar." Kata Zai. Dia menghempaskan angin kencang dari tangannya. Reruntuhan itu terbelah dan membuat jalan untuk Zai dan Laila. Mereka mendarat sempurna tanpa kendala.


Kemudian keduanya mengikuti jalan keluar yang berada di salah satu lorong.


Di ujung lorong tidak ditemukan pintu keluar sebab mereka sudah menghancurkannya. Mereka jelas Berniat mengurung penyusup.


Namun bukan Zai jika hal itu sulit. Dia mengibaskan kembali tangannya dan sejumlah kekuatan pendorong muncul dari balik lengan bajunya.


Baaam! Tanah dan batu berhamburan. Cahaya langsung memasuki lorong itu yang berarti jalan mereka sekarang sudah berada di permukaan. Namun tidak ada yang keduanya dapati.


"Tuan muda! Sebelumnya di dalam lorong aku sekilas melihat ada laboratorium. Bisakah tuan memeriksanya?"


"Baiklah!"

__ADS_1


__ADS_2