Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Lanjut


__ADS_3

Pertemuan beberapa kekuatan membuat tempat itu terselubungi hawa panas yang mematikan. bukan hanya panas dari teriknya matahari. tapi juga dari energi yang terpancar dari semua orang yang ada disana.


Push!! Puntung Rokok yang berubah menjadi api besar menghantam dada Gilber. Membuatnya termundur dua langkah dari api itu. Bukan karna kekuatan api yang mendorongnya, tapi karna dia memang mundur agar tidak terbakar.


Empat lawan enam berhadapan dengan saling menatap dan niat membunuh yang kental.


Sadam bergerak lagi. Dia tidak menentukan lawan. siapa yang dekat akan dia tendang.


Swush! ayunanan kakinya membuat deruan angin yang tersapu dengan bentuk kekuatan yang cukup mengerikan, jika itu mengenai tubuh. Bisa saja ada yang akan lumpuh.


Tendangan itu mengarah ke kaki sakti yang ada disebelah kiri dari empat orang yang berdiri. Namun sakti juga bergerak lincah. Dia berkelit kesamping melepaskan tendangan itu dan mengayunkan pedang pendeknya untuk memotong kaki Sadam.


Sadam melihat itu dengan jelas, dia menekuk lututnya kebelakang dan menunggu momen. ketika pedang itu lewat dia keluarkan lagi dan mengenai bagian perut Sakti.


Beng!! Sakti termundur dengan tangan yang memegangi perut.


Sedangkan Oda melemparkan kunai miliknya yang di kontrol dengan benang Qi. Jani mengayunkan tangannya dan muncul sebuah pedang yang cukup panjang, pedang itu langsung menebas kunai. tapi Kunai itu juga memiliki kualitas besi yang bagus hingga tak terpotong meskipun tetap terlihat ada bekas gesekan pedang yang berada di badan Kunai.


Oda menarik kunai miliknya dan melempar sureken ditangan sebelahnya kearah Jani yang menyongsongnya dengan pedang yang terhunus kedepan.


Sedangkan Gilbert kini diserang oleh Rey yang tidak memakai senjata. Dan Yao Yan menatap Hendri dengan penuh niat membunuh.


Sedangkan Ilham dan Jaya masuk lebih kedalam. tidak ada yang menghentikan mereka berdua. Sepertinya para bawahan itu tidak ada yang berani untuk menghentikan mereka.


Ilham melihat Speedboat dan langsung mengajak Jaya untuk naik dan mereka segera menyebrangi sungai.


Sampai ditepian. dia menambatkan speedboat itu dan melompat keluar. Mereka berdua mendaki sedikit.

__ADS_1


Door door! dua tembakan dilepaskan kearah mereka dari ketinggian bangunan.


Jaya dan Ilham seketika mundur dan berpisah sedikit menjauh.


"Sepertinya diatas sana" Tunjuk Jaya pada bangunan menara yang setinggi dua puluh meter itu. "Aku akan mengalihkan perhatiannya." kata Jaya lagi. dia langsung menghilang, bergerak sangat cepat seolah bayangan.


Door.. Dooor! dua tembakan dilepaskan lagi tapi masih tidak mengenai target.


"Sial!" umpat orang yang berada di atas menara itu. "Kemana yang satunya" gumam Ming Chun.


Baaaam!!


Jaya memukul Ming Chun dari belakang membuat tubuhnya langsung terpental dan terlempar keluar dari menara.


Namun dia masih bisa mengontrol tenaganya dan mendarat dengan sempurna, tapi tetap ada siring kecil yang tercipta dari bekas kakinya.


Beng! lagi-lagi Ming Chun terpental dan menghantam tembok.


Meski begitu dia tetap tidak mati. dia terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya. "Uhuk uhuk!"


"Brengsek kalian!" teriaknya, segera Ming Chun bangkit berdiri dengan menyeka sisa darah yang ada di sela bibirnya dan mengeluarkan sejumlah Qi yang terbalut dalam kepalan tangannya.


Jaya melompat dari ketinggian itu dan berdiri disamping Ilham dan mereka berdua sepakat untuk menyerang bersama. Agar cepat menyelesaikan.


Dua tinju segera menyongsong Ming Chu dengan sigap dia memasang kedua tinju itu dengan tangannya, Penuh percaya diri dengan kualitas yang dia miliki wajar saja dia berpikir seperti itu.


Tapi sayang, lawan adalah mantap kultivator dimasa lalu yang sudah merasakan pahit manis, asem kecut dunia. Untuk melawan Ming Chu hanya memerlukan sedikit usaha saja walau sendirian.

__ADS_1


Tapi mereka tetap memakai cara tercepat untuk menumbangkan lawan.


Sementara itu, Diluar sana. Kejadian sebelumnya masih belum berakhir. dimana Oda terpontang-panting menghadapi serangan pedang panjang milik Jani. dia tak pernah mengira akan adanya orang hebat yang tersembunyi. bahkan tidak terkenal sedikitpun dan lebih penting lagi mereka semua sangat muda. membuat pikirannya kalut dan gabut. Hingga kurangnya konsentrasi. Alhasil yang tidak memusakan dia dapati.


Aargh!!


Oda berteriak ketika tangannya tanggal dan terpisah dari tubuhnya. hingga kontrol senjata yang dimilikinya tidak lagi terhubung dan terjatuh dengan sendirinya. Jani mendekat, derit pedang yang dia tarik ditanah mengundang hawa kematian. tidak lama setelah itu Jani langsung mengayunkan pedangnya kekepala Oda dan membelahnya.


Otak terberai dan darah seketika menyembur bagai air mancur.


Ketiga temannya langsung terkesiap mendengar teriakan Oda dan melihat dengan mata mereka. Kepala yang terbelah.


Namun dalam pertarungan kita tidak boleh lengah, apapun yang terjadi. Kesempatan dimanfaatkan oleh Sadam, Rey dan Hendri untuk melumpuhkan secepatnya lawan mereka.


Braaak! tiga tendangan bersarang ditubuh ketiga orang itu dan mereka terpental secara bersamaan. seolah itu memang sudah diatur untuk mereka.


Gilbert mencoba berdiri. Namun sapuan kaki menghantam kepalanya lagi. Membuat kepalanya terdongak dan Rey menghadiahkan lagi tendangan berputar yang langsung menghantam dada Gilbert.


Gilbert terjengkang dan tak bisa lagi bernafas karna ada cekungan didadanya yang besar kemungkinan tulang dada patah beserta jantung yang hancur.


Yao Yan melihat lagi temannya yang mati. Dia menguatkan hati namun tidak bisa untuk melawan lagi "Inikah akhir hidupku" gumamnya, Dia mengambil kunai mulik Oda yang berada ditanah dan menusuk perutnya sendiri. Mungkin dia tidak ingin mati dengan dibunuh. jadi dia lebih memilih bunuh diri.


Hanya tersisa sakti yang menatap sekelilingnya kini dia seperti anak domba yang terkurung diantara empat harimau yang siapapun bisa memangsanya. "Aku masih ingin hidup, Lepaskan aku" Mohonnya dengan segala kerendahan diri. dia bersujud hanya untuk meminta pengampunan. Akan sangat sia-sia dia berjuang berlatih dan berkultivasi jika harus mati dalam keadaan seperti ini, Sedangkan umurnya tidak terlalu tua. Hanya berumur empat puluh tahun saja. tapi kematangan pikirnya dan pelatihan tenaga dalam di sebuah perguruan membantunya dan juga sumberdaya telah banyak dia habiskan hanya untuk mencapai tingkat ini, Bukan hanya tenaga tapi juga harta keluarga dia banyak keluarkan


"Semua tergantung pada Tuan Muda! ikat dia, biarkan tuan muda yang menentukan hasilnya" kata Sadam memerintahkan, dia pun menatap para bawahan yang masih ada disana dan berkata " salah satu dari kalian mengikat semu orang, jika tidak dilakukan maka akan aku ledakan semuanya"


Ketar-ketir hati mereka. segera ada yang berlari mencari tali dan dengan cepat mengikat kawanannya untuk bertahan hidup.

__ADS_1


__ADS_2