
Orang itu tidak berani duduk. dia malah menjatuhkan lututnya dihadapan Zai dan tidak berani bersuara.
Sebelumnya dia terkejut ketika melihat target yang tersenyum ke arahnya. Tapi bukan karna itu, Melainkan dia mengenal siapa target.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Kau sepertinya ditugaskan untuk membunuhku?" Tanya Zai.
"Aku baik saja tuan dan bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya berkat Pil yang tuan berikan kepadaku waktu itu. Maafkan aku! aku bahkan belum bisa membalas kebaikanmu, malah sekarang bertugas untuk membunuhmu" Ucap Alex si-Mata Hantu.
"Bagus lah jika kau lebih baik dari sebelumnya. Untungnya kau tidak melakukannya. Jika tidak mungkin kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Zai terhenti ketika pintu terbuka.
Hendri Gundul membawakan dua kopi yang cukup panas dengan makanan ringan. "Maaf tidak mengetuk pintu dulu, 'Bos. Hukum saja aku!" Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak perlu, Keluarlah dulu. aku masih ada urusan" ucap Zai kepada Hendri Gundul.
Segera dia meninggalkan tempat itu "Apa yang terjadi dengan orang itu. Mengapa dia berlutut dilantai" Tubuhnya bergidik memikirkan hal itu.
"Duduklah, Jangan biarkan aku mengulangi lagi untuk menyuruhmu duduk" Dia menyambung kembali ucapan yang sempat terhenti. setelah melihat Alex duduk disofa Zai lanjut berkata "Siapa yang menyuruhmu untuk menargetkanku?" Zai bertanya lagi
"Anton! Dia adalah anak angkat dari Penguasa bawah tanah. Dulu sebelum bertemu dengannya aku pernah dibantu beberapa kali, Dan sekarang dia meminta aku untuk membunuh seseorang yang ternyata adalah Tuan." Sahut Alex yang masih menunduk.
"Minumlah, Aku tidak akan marah kepadamu!" Sahutnya mendorong gelas berisi kopi panas. "Apakah dua cukup tinggi dengan dua anting ditelinga kanannya dan rambutnya agak miring ke kiri?"
"Ya! Apakah Tuan pernah bertemu dengannya?"
"Tadi malam! Dan aku membunuh enam orang yang mungkin saja bawahannya." Sahut Zai santai. Dia mulai bersandar setelah menyesap satu tegukan kopi panas.
Wajah Alex langsung berubah ketika mendengarnya. Hampir saja Kopi yang diseruput olehnya menyembur
"Jangan terkejut begitu. Sekarang kita membicarakan bisnis, Aku ingin kau memberikanku kepala Anton itu" Ucap Zai lagi sambil menaruh kedua sikunya dilutut dan menatap tajam Alex.
"Ba-baik tuan, Saya akan lakukan secepatnya" Kata Alex. Lalu berdiri dan mundur perlahan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Tahan Zai dengan mengangkat tangannya. "Kenapa buru-buru. Duduklah lagi!" pinta Zai. Alex dengan terpaksa duduk lagi. "Berceritalah sebentar, Bagaimana kamu bisa ke Jakarta dan mengenal orang-orang hebat?" Zai segera bertanya dengan penasaran
Alex mulai menceritakan pengalamannya dengan Zai hingga jam Makan siang tiba.
"Jangan lagi kau mengambil tugas dari orang lain, Kecuali diriku" ucapnya lalu memberikan uang dengan transfer "Baiklah... Laksanakan tugasmu dengan baik, Jika aku mendapati penghianatan! kau akan tau bagaimana nasibmu berakhir" ucap Zai. Dia seperti sosok lain yang sebelumnya ramah tamah dan halus dalam berbicara. Seperti dua orang yang berbeda dalam satu tubuh.
"Tentu Tuan!" sahut Alex membungkuk lalu benar-benar pergi tanpa berpaling.
Sedang Zai langsung keluar dari ruangannya.
Didepan Hotel dua wanita sedang menunggu jemputan. Dan ada beberapa orang yang mengawasi dari kejauhan. Mereka tentunya adalah suruhan Zai yang ditugaskan untuk menjaga dua wanita cantik itu.
Dari arah mereka satu buah Van meluncur dengan kecepatan yang sangat cepat lalu putar balik dan langsung berhenti didepan dua wanita cantik itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aisya dan Alisya.
Mereka berdua mundur dengan cepat ketika dari Mobil itu keluar dua orang dengan tubuh yang besar. mereka hendak berbalik kedalam lobi Hotel, namun tangan keduanya langsung ditahan lalu ditarik.
"Lepaskan!! Toloooong!" Keduanya lansung berteriak. Namun orang-orang tidak ada yang berani mendekat. Ketika keputusasaan melanda hati mereka.
Bugh Bugh Enam kali bunyi gedebuk langsung menyarang, tiga tinju masing-masing mereka dapatkan.
Dua orang itu terjengkang kebelakang dan tergulingm Meski tubuh mereka besar. Namun mereka hanya manusia biasa. Tidak seperti mereka yang sudah memiliki tenaha Extra berkat tuan muda mereka yaitu Zai.
Obat yang bukan hanya bisa meningkatkan kekuatan mereka. Tapi juga banyak manfaat yang mereka dapatkan. meski harus menjadi bawahan. Namun bosnya itu tidak pernah menuntut hal apapun.
Itulah yang membuat mereka sangat senang ketika diberi tugas, Walau tugas itu hanya mengawasi wanitanya Bos.
"Kalian berdua sangat berani untuk berniat menculik Wanita Bos kami" Ucap Bahri dengan tatapan tajam, Benar dia kalah tubuh. Tapi untuk melawan dia sangat yakin dengan kekuatannya..
Sedang yang didalm Mobil ada tiga orang yang turun dengan segera..
Kini lima lawan enam akan segera dimulai.
__ADS_1
Hiyaaaaat...!!
Aisya dengan panik langsung menghubungi Zai. Saat itu terik matahari begitu menyengat dan pertarungan masih terdengar ada teriakan dan ada orang yang terpelanting.
"Aku akan segera kesana" Ucap Zai. Dia begitu jelas mendengar nada panik itu dari Aisya. Dia menelpon Bahri setelahnya Namun tidak ada jawaban.
Segera dia menginjak pedal Gas dan berakselerasi dijalan kota yang cukup padat itu.
Kembali ke Pertarungan.
Perkelahian mereka ditonton oleh beberapa orang yang satu persatu mulai mengurung mereka. Lima Orang melawan Enam, Siapa yang akan menang?
Bahri tanpa henti mengayunkan tinjunya kearah wajah satu orang. meskipun orang itu terus menutupi wajahnya. Namun Bahri tetap meninju sambil tangan satunya menarik rambut orang itu yang kebetulan sangat panjang seperti wanita pada umumnya.
Kemudian dia menekan kepala orang itu beriringan dengan lututnya yang naik.
Braaak!! bunyi keras kepala bertemu dengan tempurung lutut yang langsung membuat orang itu pingsan.
Bahri mendorongnya Lalu membantu yang lainnya. Hingga perkelahian itu dapat mereka menangkan. Tidak berapa lama Zai datang dengan Mobilnya dan langsung berhenti diantara kerumunan orang itu. lalu dia menarik tangan Aisya dan juga Alisya.
Keduanya hendak berteriak karna tangan mereka ditarik. Namun ketika menatap siapa yang menarik. mereka pun dapat merasa lega.
"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Aisya.
"Biarkan saja, Nanti bisa diurus. Yang penting kalian berdua selamat" Sahutnya lalu membukakan pintu Mobil..
Di perjalanan...
"Untung ada yang nolongin. jika tidak, Entahlah!" Ucap Alisya. "Aku merasa tidak cocok berada dikota ini. Ai! kapan kita pulang ke banjarmasin?" Tanya Alisya
Aisya yang ditanya malah memandang Zai. "Sayang! Kapan kamu akan pulang ke Banjarmasin?"
__ADS_1
"Tidak seberapa lama lagi, Dan jika aku nanti pulang, aku akan menceritakan sebuah cerita. Tunggu saja" Sahut Zai tersenyum.