Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Kabar kematian


__ADS_3

Selapasnya si Kulit Hitam, Dia langsung pergi ke Area bawah tanah dan berencana bersembunyi disana. dia tak ingin membicarakan tentang kematian tragis yang dialami oleh Alvaro. Namun dia juga tak mungkin tidak mengatakannya. Biar bagaimanapun juga dia yang ditugaskan untuk mengawal Alvaro. Meskipun sebenarnya yang dikawal adalah orang yang lebih kuat darinya.


"Hei Hitam! Kenapa kau berjalan sendirian. mana yang lainnya? dan kenapa kau terlihat ketakutan?" seseorang bertanya dengan penasaran ketika si Hitam itu menyelinap sendirian ke kamar miliknya.


"Ak-ku! aku tidak apa-apa. aku tidak tau dengan yang lainnya" sahutnya langsung menutup pintu.


"Tidak biasanya Si Hitam ini seperti itu. Pasti ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya" Gumamnya seperti itu. Dia segera mengambil ponsel dan terlihat menelpon seseorang.


"Apa? Ada kejadian seperti itu, Kenapa kalian tidak lapor?" Dia segera memutuskan sambungan telpon dan langsung menyimpan ponselnya. Lalu, Diapun mendorong pintu kamar Si Hitam. Namun terkunci.


Dengan cepat dia mengayunkan kaki dan menendang pintu itu hingga terbuka.


"No! apa yang kau lakukan?" Tanya si Hitam.

__ADS_1


Parno tidak menjawab tapi langsung meraih kerah baju si Hitam. "Dimana Tuan Muda Alvaro?" Tanya dengan tatapan tajam


"Dia.." terlihat keraguan di wajah si Hitam untuk mengatakan yang sebenarnya.


Beng!! si Hitam mendapat pukulan di pelipisnya yang langsung membuat pelipisnya koyak dan berdarah. Rupanya pukulan itu tidak main-main.


"Dia mati!" Sahut si Hitam yang tak ingin lagi mendapatkan pukulan.


Beng!! "Bagaimana bisa, sedangkan kau masih hidup" Ucapnya orang itu memukul lagi di kepala si Hitam lalu menyeretnya.


Di ruangan tertentu yang didekor dengan baik seroramg lelaki paruh baya duduk santai. bersama dengan seorang yang cukup muda yang sedang berbicara kepadanya.


Saat itu dia sedang berkunjung ketempat itu untuk melihat keadaan. Karna sudah lama sekali baginya tidak melihat hal yang membuat namanya besar. dia adalah ayahnya Alvaro, Bram. Memiliki usia lima puluh tahun tidak mengubah gayanya angkuh yang dimilikinya. sisi kejam terlihat dimatanya meskipun dia terlihat tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangan area bawah tanah?" Tanya Bram kepada pemuda yang ada dihadapannya.


Pemuda itu adalah murid kesayangannya yang dia tugaskan untuk memimpin area bawah tanah. karna dia sudah ingin berhenti untuk menjadi penguasa. dan hanya menikmati masa ketenangan dan kedamaian atas segala pencapaian.


Suara ketukan mengganggu perbincangan mereka berdua. Segera berdiri Pemuda itu lalu membuka pintu. Dia tau ada suatu hal jika seseorang dengan cepat mengetuk pintu.


Ceklek Pintu terbuka. dua orang berada didepannya.


"Ada apa?" Tanya Anton dengan dingin. dia melirik ke arah si Hitam yang berada dilantai. "Dan kenapa dengan dia?" tambahnya bertanya.


"Dia tidak penting!" tunjuk Parno "Yang terpenting Tuan muda Alvaro Bos!"


"Ada apa dengan dia? cepat bicara yang jelas" desak Anton. Bram berdiri mendengar nama anaknya disebut.

__ADS_1


"Ada apa dengan anakku?" tanya Bram dengan melangkah ke arah mereka.


Parno merasakan dingin dihatinya. ada semacam tekanan yang membuatnya susah untuk bicara. Namun dia masih memiliki ide. "Dia yang tau dan apa yang terjadi dengan Tuan Muda Alvaro" Sahut Parno. Sambil menyeka keringat dingin yang ada didahinya.


__ADS_2