
Titik peluh membasahi kening. Punggung basah bahkan ingin terkencing. Takut? Jelas takut akan ancaman yang diberikan kepada beberapa tersangka yang sudah terbukti bersalah.
Zai menyuruh semua orang yang tidak bersangkutan untuk keluar. Karena kali ini dia akan menangani sendiri permasalahan yang sudah mengakar di perusahaan. Jika tidak dicabut akarnya maka akan terus tumbuh..
Ruangan ber ac tidak menjamin mendapat hawa dingin. Buktinya mereka tetap terus mengeluarkan keringat walau terus diseka.
Enam orang terbukti telah melakukan tindak kejahatan penggelapan uang perusahaan dengan bisnis fiktif dan juga telah menekan beberapa perusahaan dengan beberapa syarat yang dibuat dengan sengaja atas nama perusahaan dan hal itu bisa dianggap sebagai pencemaran nama buruk.
"Sekarang kalian tidak bisa lagi mengelak. Dengan bukti ini. Kalian semua akan ditahan di penjara dengan dua dakwaan. Pertama pencucian uang, kedua pencemaran nama baik dan semua aset yang kalian miliki akan diambil kembali oleh perusahaan" ucap Zai.
"Bos, tuan muda! Maafkan aku, aku tau aku salah. Tolong ampuni jangan penjarakan kami!" Owen berlutut dan bersujud dikaki Zai.
Begitu pula dengan lima orang lainnya. Mereka memohon ampun atas semuanya. Mungkin mereka rela harta diambil tapi tidak rela jika harus mendekam di penjara.
Zai tidak menggubris mereka. Dia menatap Demon dan berkata. "Kau urus semuanya. Jangan sampai mereka tidak mendapatkan ganjaran yang serupa sebelum dikirim ke penjara" ucap Zai. "Aku akan kembali ke ruanganku"
"Tidak tuan muda! Tolong!" Mereka masih memohon dengan ingin meraih Zai. Tapi Zai terus mengabaikan mereka.
Setelah pintu terbuka dan Zai keluar dari ruangan itu. Beberapa orang yang memiliki badan besar masuk kedalam ruangan. Setelahnya terdengar bunyi teriakan dan gedebuk hingga beberapa jam terlewatkan.
Zai masuk ke dalam ruangannya. Seorang wanita cantik datang menyusul. Dia telah diperintahkan oleh Demon untuk menjadi sekretarisnya Zai.
Sebelum pintu tertutup sempurna. Wanita itu langsung menahan dengan ujung sepatunya. "Permisi Pak!" Seru wanita itu.
Zai menoleh dan melihat sebuah keindahan. 'Mengapa ada begitu banyak keindahan di dunia ini?' Zai berpikir dalam hati.
Dengan tinggi yang proporsional. Wajah ayu blasteran. Cantik mempesona. Memang sangat cocok untuk menjadi seorang sekretaris kantor, pribadi ataupun ranjang.
__ADS_1
"Iya ada apa?" Zai bertanya setelah terdiam dua detik memandang dan menelisik wanita dihadapannya.
Wanita itu jelas merasa gugup ditatap oleh seorang Presdir. Dikatakan terpikat? Jelas dia terpikat. Mana ada wanita yang tidak tertarik dengan seorang yang sempurna dari segi apapun itu. Harta, tahta bahkan ketampanan nya sangat menggoda.
"Mengapa kamu diam?" Tanya Zai kembali.
"Maaf Pak Presdir, aku–"
"Apakah kamu sekretaris kantor atau pribadi?" Zai bertanya lagi.
"Kantor, Presdir!" Jawab wanita itu pelan
"Masuklah!" Pinta Zai. Mereka berjalan beriringan dan Zai duduk di kursi sedangkan wanita itu berdiri di sampingnya. Zai dapat merasakan semerbak wangi melati yang menggoda.
Dia menoleh dan langsung dapat melihat rok pendek yang tak bisa menutupi paha putih dan mulusnya yang berisi cukup padat. Ini membuktikan bahwa wanita itu sering olahraga.
Wanita itu pun duduk di seberang meja dan kini saling menatap antara keduanya.
Zai meletakan siku nya di meja lalu menyatukan kedua telapak tangan dan bertanya "siapa namamu?" Meski Zai sudah melihat dari Id Card, dia tetap bertanya.
"Ariana Pak!"
"Kamu masih single?"
Ariana terkejut mendengar pertanyaan itu. 'Apa maksud dia menanyakan hal ini? Apakah dia menyukaiku?' Ariana membatin lalu dia membetulkan kerah bajunya dan berkata "masih Pak. Apakah bapak mau menjadi pacar saya?" Ariana bertanya Blak-blakan. "Maaf Presdir saya hanya bercanda!" Tambahnya lagi setelah tidak melihat adanya perubahan pada raut wajah bosnya.
Dia memukul kecil mulutnya yang tak tau malu itu.
__ADS_1
"Haha. Kau cukup humoris juga. Ini hanya untuk menghilangkan kecanggungan saja antara kita. Aku suka orang yang banyak bicara tapi dalam konteks yang tepat. Artinya dia tidak suka mengada-ngada ataupun berdusta. Oh ya aku lupa mengenalkan diri. Namaku Zai! Sudah berapa lama kamu bekerja di kantor ini?" Zai bertanya, kemudian dia berdiri mengambil gelas dan peralatan untuk minum kopi.
"Biar saya saja yang bikin Pak!" Ucap Ariana.
"Kau bukan sekretaris pribadi. Jadi tidak perlu melakukan itu. Aku hanya ingin mengerjakan sesuatu saja. Tidak perlu merasa sulit. Kamu belum menjawab pertanyaanku sebelumnya!"
"Sudah sepuluh tahun Pak!" Sahut Ariana. Dia memberikan senyuman terbaik miliknya. Dengan lengkungan bibir yang membuat pipinya menggembung.
"Emm katanya kau juga wanita yang banyak menoreh prestasi untuk perusahaan ini. Sekarang aku bertanya kepadamu! Berapa kau ingin diberi gaji? Penawaran ini khusus untukmu dan berlaku cuma hari ini?"
"Apakah ini tidak salah Presdir?" Ariana sedikit takut jika ditanya masalah gaji, siapapun ingin gaji yang tinggi, lebih dan lebih lagi. Tidak akan ada yang menolak. Tapi yang membuatnya ragu dalam mengatakan. Apakah ada syarat lanjutan?
"Tidak salah!" Zai tersenyum lalu mengambil kertas dan menyerahkannya kepada Ariana "tulis berapapun gaji yang kamu inginkan. Dan aku akan mempertimbangkannya, tapi aku tidak memaksa. Ini hanya penawaran untuk orang yang terbaik"
Ariana mengambil kertas itu dan menulisnya lalu melipat kertas itu karena sedikit malu! "Sudah Presdir"
"Baiklah. Jangan menyesal karena menulis angkanya sangat rendah!" Kata Zai, segera dia mengambil kertas itu dan membukanya. Lalu mengambil ponsel dan mengirimkan sejumlah uang.
Terdengar ponsel Ariana berbunyi pelan. Namun dia tidak berani mengambil ponsel itu sebab di hadapan atasan tak boleh menggunakan ponsel sebagai bentuk sopan santun.
"Aku sudah mengirim angka yang kamu tulis di kertas ini. Dan setiap dua bulan sekali kamu akan mendapatkan itu sebagai bonus selama kamu bekerja diperusahaan ini dengan baik. Ingat ini hanya bonus. Bukan gaji yang sebenarnya. Gajimu tetap seperti biasa. Aku sudah mempertimbangkannya. Karena tugasmu mulai sekarang akan sangat banyak" ucap Zai
Segera tangan Ariana bergerak, rasa penasarannya membuatnya mengambil ponsel yang berada di atas meja. Lalu membukanya. Betapa tidak terbelalak matanya ketika melihat barisan angka yang asal dia tulis. Itu melebihi dua bulan gajinya. Yang artinya sebelumnya dia menulis kelipatan dari gajinya perbulan. Tapi sekarang itu adalah bonus dan akan dia dapatkan dalam tiap dua bulan. 'Betapa mulianya orang ini!' Batin Ariana.
Ariana tak bisa berkata apa lagi untuk meluapkan kesenangannya. Jika dia bisa memeluk. Mungkin akan dia peluk bosnya itu. Tapi tidak mungkin keberanian itu muncul begitu saja..
"Terima kasih banyak bos. Kau terlalu baik!" Ucap Ariana dengan haru ada bulir air mata yang menitik di pipinya...
__ADS_1