
Dua orang itu dengan percaya diri dan keyakinan pasti. Karna kemampuan mereka sudah tidak bisa di ragukan lagi dalam menghabisi target, Entah siang atau pun malam hari. Mereka selalu berhasil sebelum nya.
Tapi mungkin hari ini adalah akhir keberuntungan mereka karna melawan MC, Kalau tidak kuburan. Yah mungkin saja rumah sakit sebagai tujuan.
Zai keluar dari mobil dengan cepat menyusul orang yang terkena tendangan nya. Dia menerjang lagi, Melompat lebih tinggi dengan tenaga yang di alirkan di tangan kiri nya.
Braaak...!! Pukulan keras itu menghantam dada orang itu membuat tubuh nya terpelanting dan terjerambab di tanah,
"Joko, Hei Cepat bangun" Teman nya yang menunggu di samping berteriak. Dia tak menduga teman nya gagal membunuh target. Dan malahan dia yang kini seperti mayat tak bergerak.
Dia panik dan berlari untuk segera membangun kan Teman nya. Tapi setelah membalik tubuh teman nya itu, Terlihat jejak ketidak percayaan di mata nya, teman nya yang biasa nya selalu memukul orang. Kini dia di pukul hingga pingsan. Hanya dengan satu pukulan, Sekuat apa pukulan itu, membayangkan nya tubuh Supri bergetar.
Lalu dia berpaling dan melihat sosok itu mendekat ke arah nya, Satu yang ada di kepala nya. Yaitu kata LARI yang terus di kirim melalui jaringan otak nya. Mata nya menatap tajam wajah target dengan perasaan malu karna gagal melakukan aksi nya.
Tapi satu yang harus di pertahan kan nya. Yaitu hidup nya. Dia sadar dia tak sekuat teman nya joko yang kini terbaring pingsan, Jika teman nya yang kuat saja di perlakukan seperti itu dengan satu pukulan. Bagaimana jika dia yang menerima pukulan itu,
Supri bangkit berdiri. Lalu memasang kuda kuda bela diri. Dia dulu sempat belajar silat meskipun hanya sabut hitam. Namun dia tak pernah menggunakan nya. Karna dalam setiap aksi nya dia hanya bekerja sebagai Joki dan Joko sebagai pengeksekusi.
Hiyaaat.... Supri berteriak melompat. Dengan memamfaat kan tanah yang keras dia melonjak kan tubuh nya setinggi setengah meter, Cukup tinggi untuk ukuran tubuh nya yang kuran dari 160cm.
Zai menarik kaki kanan nya sedikit. Setelah cukup perhitungan nya dia melayangkan kaki nya menendang tubuh supri yang sudah dekat dengan nya.
Bugh.!!
Ugh..! Terdengar lenguhan kesakitan dari mulut supri. Dia terpelanting tiga meter. Dengan memafaat kan situasi itu. Dia berlari sekencang kencang nya tanpa menoleh sambil memegangi perut nya yang sangat sakit.
Zai tidak mengejar nya, Dia membiarkan hanya karna dia ingin orang yang menyuruh mereka berdua tau, Target bukan lah orang yang mudah di hadapi, Yang terpenting bagi nya satu orang masih bisa di introgasi.
__ADS_1
Dia berbalik ke arah mobil nya dan menyuruh Lina untuk menelpon Ambulance dan menelpon Polisi juga.
Lina membalut luka di tangan Zai dengan perlahan, Sambil berderai air mata, terasa hati nya yang tersayat oleh pisau itu.
Polisi dan ambulance datang dari dua arah yang berbeda tapi dengan waktu yang hampir bersamaan.
Seorang polisi bernama Briptu Ramadhan mendatangi Zai yang duduk di atas kap depan Mobil nya dengan Lina yang menyelesaikan lilitan perban di tangan kanan nya.
"Selamat Sore Pak, Bisa kah saya meminta anda untuk membuat laporan kronologi nya di kantor kami dan menjadi saksi atas insiden ini" Ucap Polisi itu sambil tangan nya memberi hormat
"Sore juga pak, Tapi boleh kah jika saya mengantar wanita saya ini dulu kerumah nya, setelah itu saya akan ikut dengan bapak. Saya juga ingin tau siapa yang mengirim mereka untuk melakukan ini semua"
"Dia juga sebagai saksi, Jadi juga harus melapor Pak" ucap Polisi itu.
"Tapi dia baru pulang dari rumah sakit pak, Dia butuh istirahat, Setidak nya cukup saya saja yang melapor, bagaimana?"
"Jika bapak tidak keberatan" Sahut Zai lalu dia turun dari Kap Mobil dan masuk mengambil beberapa barang yang penting lalu dia membuka ponsel nya dan menghubungi Handoko, Untuk meminta nya mengurus nya.
Handoko terkejut mendengar informasi yang di berikan oleh Bos muda nya itu, Dia menyegerakan menelpon mobil derek untuk mengangkut mobil Zai yang sedang kecelakaan.
Sedang kan Joko yang pingsan kini di bawa kerumah sakit di dampingi oleh seorang polisi untuk menjaga nya. Karna dia adalah tersangka yang di tunggu kesembuhan nya...
Zai memberikan kado yang di bawa nya kepada Lina sebelum pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan, Setelah menyelesaikan laporan nya Zai keluar dari sana..
"Pak Han, Jemput aku di depan Poltabes" Ucap Zai di telpon lalu melihat sekitar, Setelah melihat ada nya kursi setengah panjang, Dia pun duduk disana sambil menikmati senja..
Beberapa menit berlalu, Terlihat mobil Yaris berwarna Hijau pucuk pisang stop di depan Zai yang lagi santai.
__ADS_1
Pintu sebelah kanan terbuka, Pak Handoko turun dan menyapa, "Maaf lama, Jalan macet Bos" Ucap nya lalu membukakan pintu untuk Bos Muda nya itu.
Zai duduk di depan di samping Handoko, "Apa kau sudah menyuruh orang untuk menyelidiki pelaku ini?" Tanya Zai
"Aku sudah menyuruh orang untuk melihat rekaman kamera di mobil, Juga sudah menyuruh orang untuk mengetahui siapa pemilik motor King itu, Mungkin sebentar lagi akan didapat hasil nya, Bos tenang saja, Aku akan menghancurkan orang yang ingin berniat buruk kepada mu" Ucap Handoko menerangkan.
"Bagus, Kau cepat tanggap Pak Han, Terima kasih, Alisya tidak tau kan kejadian ini?"
"Tidak, Dia tidak tau Bos, Bos tenang saja"
"Bagus, Aku sangat senang dengan pekerjaan mu, Ke pesona moderen saja"
"Baik Bos" Handoko sangat senang kinerja nya di puji langsung oleh Bos muda nya. Dia semakin percaya bahwa dengan berjalan di belakang orang ini, Dia akan sukses nanti nya...
Sedang kan di sisi yang berbeda di sebuah markas tertentu.
Supri berlari dengan kaki yang berdarah mendobrak pintu. Entah sudah berapa kali dia terjatuh dan tersungkur di tanah, dia merasa jika dia berhenti berlari dia akan mati.
Braak..! Pintu terbuka
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut, Kemudian menoleh untuk memastikan siapa yang berani membuka pintu dengan keras.
Supri langsung terkapar di depan pintu karna hampir kehabisan nafas sepanjang jalan berlari.
Dua orang berlari memeriksa, "Supri, Apa yang terjadi padamu? Mana Joko?" Tanya salah satu yang memeriksa.
"Dia di...." Ucapan nya terputus karna supri langsung pingsan.
__ADS_1