
Dua tangan tak kan bersambut tanpa Di inginkan, Begitu pula cinta. tak mungkin bertahan jika tidak inginkan...
Bahagialah yang sudah mendapatkan pasangan, Jangan disiakan karna bisa diambil orang...
Banyak undangan kondangan hari ini, Mungkin hanya satu bab yang akan Up 🙏🙏🙏🙏
Empat orang itu tanpa sadar sudah di intai dan kedatangan mereka jelas sudah diketahui namun anggota Macan Hitam berpura-pura tidak mengetahuinya mereka mengurangi berlalu lalang disektar mereka dan sebagian sudah menunggu dibalik pintu yang sudah dikomfirmasi akan mereka buka.
"San, Cup, Dorong perlahan saja, Aku akan melindungi kalian jika ada yang menyerang" Bahri langsung bersiaga selesai berkata
Mereka berdua mengangguk dan mendorong pintu kecil untuk memasuki kediaman utama dari markas itu.
Dengan berguling Bahri dan juga bawi masuk kedalam karna Ucup dan Sani hanya membuka celah sedikit saja agar tidak ada suara yang tidak di inginkan.
Setelahnya mereka berdua pun masuk ketika Bahri memberi Kode Aman, Sani Dan Ucup langsung menutup pelan pintu itu lagi.
Mereka berempat masih tak sadar bahwa banyak pasang mata sudah memperhatikan mereka dan penderitaan akan menyambut.
Tak tak tak tak terlihat lampu neon yang berjajar segera menyala.
"Sial ternyata kita sudah ketahuan sejak awal dan ditunggu seperti domba yang digiring ke kandang harimau"
Tiga puluh orang maju secara perlahan dengan mengelilingi mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Baw? Tak mungkin kita menang melawan puluhan tangan sedangkan tangan kita berempat hanya delapan" Ucap Bahri,
ini bukan kapasitas kekuatan nya melawan puluhan orang, Jadi dia sedikit gentar.
"Tangkap mereka, Jangan biarkan penyusup ini kabur" Teriak Udin.
Seperti air laut yang memburu karang mereka langsung menyerang, Empat orang yang di kerumuni mencoba sekuat tenaga melawan, Tapi lawan juga bukan orang sembarangan.
Mungkin jika dulu anggota macan hitam tidak akan mampu melawan walau banyak orang, Tapi sekarang, Semenjak kedatangan Zai yang memberikan mereka kekuatan yang baru buat mereka, suatu hal yang membuka mata mereka tentang masih ada banyak kekuatan didunia yang belum terekspos banyak.
Pukulan mereka hampir sama kuatnya dengan lawan, Tapi karna mereka lebih banyak orang jelas itu menguntungkan.
Ugh... Aaaah... Terlihat Ucup telonjak karna dagunya mendapat pukulan, Belum tubuhnya jatuh ketanah, Tendangan dari belakang tepat mengena punggungnya.
Braaak..! Mungkin tulang belakangnya patah karna tendangan itu sangat keras. dan dia terhempas ke lantai dingin.
Sani juga sudah banyak mendapat pukulan, Meski masih bisa menangkis sebagian tangan dan kaki yang datang, Tapi tidak semua tertangkis. Wajah nya bengkak dan matanya tenggelam sebelah.
Sebuah kursi kayu melayang dan Braaak... Kepala Sani langsung berdarah dan dia terjatuh ketanah menyusul Ucup yang lebih dulu pingsan.
__ADS_1
Yang terkuat dari empat orang itu hanya Bawi dan Bahri, dua orang hingga tiga orang dapat mereka kirim terbang hingga tak bangun lagi.
Udin maju membantu dan dia melawan Bahri dengan pukulan yang kejam.
Beng..! Udara seakan terhempas ketika tinju mereka beradu.
Bahri langsung menarik sikunya dan kembali mengayunkan tangannya. Tapi masih bisa ditangkis oleh Udin.
Udin beputar dan melayangkan kakinya, Bahri menghindar dengan mencondongkan tubuhnya kebelakang sedikit lalu menendang Udin yang masih diudara,
Udin terpelanting kebelakang, Tapi dia masih bisa berdiri dan mengusap sebentar paha dalamnya yang tertendang.
"Mundurlah Din, Biar aku yang maju" Torax menyentuh bahu Udin lalu maju.
"Aku masih bisa bos" Sahutnya tak ingin menyerah.
"Ini bukan masalah masih kuat ata tidak, Kita masih banyak orang, Dan istirahat saja dulu, bantu aku jika aku sudah kewalahan" Pinta Torax lalu berlari dengan ayunan tinjunya.
Mereka pun beradu Tinju, Bahri termundur satu tapak kaki, Dia merasakan kekuatan yang cukup besar dari serangan orang yang terlihat tua itu.
"Kau lebih kuat darinya orang tua, Tapi sayang kau belum menguasai bela diri, Kau hanya memukul asal saja"
Torax memang mengakui hal itu adalah kebenaran, Dia selama ini hanya bertarung dengan kemampuan yang tak bisa dianggap sebagai ahli bela diri.
Bahri menggunakan sebuah gerakan bela diri lalu melompat ke arah Torax.
Torax bergerak kesamping untuk menghindari pukulan cepat yang dilesatkan oleh Bahri.
Sulit memang dia akui jika melawan dengan tangan kosong, Torax terus mundur sembari menghindari serangan yang terus datang bertubi-tubi.
Selagi Torax berpikir. Bahri sudah melayangkan Tendangan nya ke arah bahu Torax..
Braaak... Torax terjatuh ke lantai dan dia langsung meraih pipa besi yang bersandar di sudut ruangan itu. Entah itu sebuah keberuntungan tapi yang pasti bisa dimanfaatkan.
Kraaak...! Terdengar teriakan dari mulut Bahri ketika kakinya di pukul oleh pipa besi itu. dia terpaksa jatuh karna sakit yang tak tertahan.
"Terima ini" Ucap Torax dengan dua belah tangannya memegang Pipa besi dan menghentakkan nya kearah Bahri yang telentang.
Bahri dengan reflek menahan Pipa itu dengan tangan nya ketika Pipa itu mengarah ke kepalanya.
"Aaaaaaa....!" Teriakan kembali terdengar. Jelas itu teriakan Bahri.
"Aku memang tidak bisa bela diri, Tapi kau terlalu meremehkan petarung jalanan" Ucap Torax.
__ADS_1
Dia memukul kembali Bahri dengan brutal hingga menewaskannya ditempat.
Sedangkan Bawi juga sudah tidak berkutik karna banyak orang yang mengerumuninya.
Tidak perlu dua orang pasukan bayangan yang turun tangan, Karna anggota Macan Hitam sudah meningkat kekuatannya.
"Sudah cukup" Teriak Torax. "Ikat tiga orang itu, Buang orang ini kekandang macan" tambahnya lagi lalu melepaskan Pipa besi ditangannya dan terduduk menyapu peluh. juga memegang bahunya yang sepertinya terkilir.
Semua orang yang masih sehat mengikat tiga orang itu, Dan yang terluka beristirahat ada juga sebagian yang pingsan.
Torax segera menghubungi Zai.
"Ketua, Semua sudah dibereskan, Apakah Ketua akan ke markas ini?"
"Tunggu saja, Aku akan kesana sebentar lagi" Sahut Zai lalu mengecup kening Alisya yang tertidur lelap, Setelah itu dia berpakaian dan langsung keluar dari kamar.
Lima belas menit kemudian dia sampai didepan gerbang, Pintu gerbang segera terbuka. dan dia melajukan Mobilnya menuxju parkiran..
Dia bergegas keluar dari Mobil dan menuju tempat dimana penyusup itu ditahan.
..............
"Ketua.." Panggil semua orang ketika melihat Zai didepan pintu.
"Dimana orangnya?" Tanya Zai sambil berjalan.
"Disana Ketua" tunjuk Jumai.
Zai terus saja berjalan hingga melihat tiga orang yang terikat di tiang dari kejauhan.
"Salam Ketua" Sapa orang yang melihat Zai mendekat.
Zai melambaikan tangannya dan mengangguk.
"Mana Torax?" Tanya Zai kepada Amat setelah tidak melihat batang Hidungnya.
"Dia sedang terluka Ketua dan dibawa oleh Udin kerumah sakit dengan beberapa orang lainnya"
"Baiklah, Sadarkan mereka" Ucap Zai lagi.
Segera Amat mengambil seember air dan menyiramkannya ke wajah tiga orang itu.
"Mat, Menurut laporan ada empat, ini kenapa hanya tiga?"
__ADS_1
"Satunya mati ketua, Torax yang bunuh" Sahut amat dengan santai. karna dia tau tak mungkin bosnya marah hanya karna itu...