Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Menghukum


__ADS_3

Dirumah yang berdiri tegak dengan beberapa pilar sebagai penopangnya. dengan warna merah yang mendominasi dinding dan lantai Kramik berwarna putih mencolok.


Masuk lebih kedalam. Ada Hiasan yang cukup banyak. Lebih kedalam tepatnya pada Ruang Makan. Tiga orang sedang berbincang santai sambil menunggu Makanan selesai disajikan.


"Kami akan pulang hari ini Nek!" Ucap Aisya.


"Iya Nek. Aku juga masih ada pekerjaan yang masih perlu kehadiran aku, Sebagai Wakil Direktur" Timpal Alisya.


"Hemm Baiklah, Padahal Nenek masih ingin bersama dengan kalian..... Jika bisa kalian jadi cucu menantu Nenek saja!" Ucap Maimunah dengan bersemangat.


"Tentu Nek, Kami hanya menunggu Zai saja untuk melamar. Aku tidak akan mengejar ijazah lagi, Karna semua Uang Zai tidak akan habis biarpun aku ingin menghabiskannya" Kata Aisya sambil terkekeh.


"Ugh! Aku merasa capek bekerja jika kau berkata begitu Ai" tatap Alisya.


"Maka! berhenti saja. Toh uang Zai sangat banyak. Kau tau sendirikan Asetnya berapa?" Mereka pun langsung tergelak bersama.


Sedang Maimunah hanya menggelengkan kepalanya. dia memang tidak berhak untuk melarang Zai dalam menghamburkan uang, Karna dia hanyalah Nenek Angkat yang di berkati dengan keberuntungan.


Tap


Tap


Tap.


Langkah kaki terdengar dari arah Kamar Zai. Dia kekuar setelah mandi. dan langsung menarik kursi. berbarengan dengan hidangan yang tersaji semuanya.


"Ini Nenek buatkan kamu Gulai Ayam kesukaan, Yang banyak makan. Karna Nutrisimu perlu banyak jika ingin menikahi mereka berdua" Ucap Maimunah tersenyum sembari membubuhi piring Zai dengan Nasi. lalu mengambil Ayam Gulai dan menumpahkan kuahnya diatas nasi.

__ADS_1


Zai tersenyum dengan kehangatan yang diberikan oleh Orang Tua itu. Tidak salah dia memilih Maimunah sebagai Nenek Angkat yang akan selalu menjadi Neneknya. dia akan memberikan kehidupan Yang layak untuk itu. "Makasih Nek, Nenek juga makan yang banyak biar selalu sehat" Ucap Zai. Lalu mengalihkan pandangannya kepada dua orang yang kini berada disisinya. "Kenapa dengan kalian?"


"Aku hanya rindu Rumah jika melihat hal seperti ini" Ucap Alisya yang sudah lama tidak pulang kampung. Terakhir kali pulang juga bersama Zai.


"Iya, Aku juga sama" Ada bulir bening yang hendak menetes di pupil matanya.


Zai merangkul keduanya dan menyandarkan pada dadanya lalu berkata. "Jangan sedih. Kita akan berbahagia setelah ini" Ucapnya. mengelus telinga keduanya. "Jika tidak ada lagi yang ditunggu, Ayo kita makan!" Ajaknya menghilangkan Fokus ke lain hal.


Segera mereka menyantap makanan yang dihidangkan dengan lidah yang menari dimulut karna masakan yang lezat. (Lidah memang tidak bisa bohong) Selogan itu benar-benar bagus untuk meng-eksperesikan rasa.


"Aku akan keluar sebentar, Kalian berbincang lah lagi, Atau ajak Nenek jalan-jalan" Ucap Zai. Dia segera berdiri sembari meraih tangan Maimunah dan menciumnya lalu mencium dua pucuk kepala Aliysa sebagai yang pertama dan Aisya yang kedua.


Mereka berdua tidak mempermasalahkan urutan. Yang terpeting adalah sama adilnya perlakuan.


Zai keluar dari rumah, Karna dia sudah mendapat kabar dari Chat Bahri yang mengatakan dia menunggu didepan Rumah. Dia masuk kedalam Mobil yang sudah terparkir.


"Jalan!" Ucap Zai


Sepuluh menit berlalu, bukan karna jauhnya perjalanan. Namun karna Padatnya jalan yang dilewati mengharuskan Mobil untuk jalan pelan.


Di pinggiran Kota yang terdapat banyak pohon tua yang besar dengan akar yang muncul ke permukaan. disalah satu pohon terdapat Lima orang yang terikat dengan darah yang mengalir disela bibir, Dengan wajah yang hampir menyerupai kepala Babi, Bonyok karna pukulan.


Zai mendekat ke arah mereka dan berkata "Aku tau siapa yang menyuruh kalian! Tapi aku tidak ingin mengirim kalian balik kesana dengan keadaan bahagia. karna sebuah hukuman adalah Hal yang wajib aku lakukan sendiri jika ada yang berani menginginkan wanitaku" Zai menatap wajah mereka.


"Cuih... Jika kau berani lepaskan aku, aku akan membunuhmu dengan tinjuku" salah satunya meludah kearah Zai. Namun Zai mengelak dengan menggeser tubuhnya kesamping.


"Lepaskan dia sesuai permintaannya!" Ucap Zai.

__ADS_1


Bahri tanpa ragu mengeluarkan pisau dan memutus tali yang mengikat tangan orang itu.


Dia berdiri dengan tatapan kejam, Meski banyak sudah mendapat pukulan, Namun nyatanya dia lah yang paling sulit ditaklukan. Dia menatap tubub kecil Zai dan tertawa. "Aku akan bertaruh. Jika kau dapat mengalahkanku seorang diri. Aku akan mengikutimu, Tapi jika kau tidak bisa. maka biarkan aku pergi. Aku tidak peduli dengan mereka" Tunjuknya ke arah Empat orang yang masih terikat. Mendengar kalimat itu, Empat orang sangat murka. tapi mereka tidak bisa menyalahkannya. Mereka pun akan berpikiran yang sama jika disituasi seperti itu. Sayangnya kesempatan tidak datang kepada mereka.


"Baik... akan aku kabulkan, Jika kau bisa memukul. Maka kau akan ku lepaskan" Ucap Zai dengan percaya diri.


"Oke!!" terlihat wajah bersemangat yang ditunjukan oleh penantang itu. dia hanya tidak tau bahwa yang berurusan dengan Zai hanya akan mati. dan dia tidak berjar dari kematian Alvaro. "Bersiaplah untuk menerima tinjuku ini" Teriaknya. Sembari meniup kepalan tangan dan mengeratkannya hingga kuku menembus kulit.


Wush. Pergerakannya memang cepat dengan dua tinju yang saling bergantian maju. Namun, Tak satupun dari kedua tinjunya bersarang ke target.


Sepuluh menit berlalu. Zai hanya bergerak kesamping, Melompat kekanan dan mundur tanpa membalas.


"Jangan menghindar terus. ayo kita beradu pukulan" Teriak orang itu dengan penuh kekesalan. Karna sudah selama ini dia tidak juga bisa menyarangkan Pukulan. bagaimana tidak murka.


"Oke Baiklah jika kau mau." Ucap Zai. Dia mengayunkan tinjunya dengan energi Qi yang masuk kedalam kepalan tangannya seperti selubung udara. Meskipun itu tipis. Namun kekuatannya akan sangat luar biasa. orang lain tentu tidak akan memahami metode ini. Karna mereka tidak ada pengetahuan tentang hal itu.


Braaaak! Udara terhempas kesamping ketika Tinju mereka beradu.


Namun hal yang tak disangka oleh Empat orang yang terikat. Yang terpelanting adalah teman mereka. Bukan Pemuda kecil yang ditantang. Terlebih kekuatan yang dikeluarkannya. Tidak sebanding jika dipikirkan..


Tubuh orang itu terguling ditanah hingga menghantam Pohon.


Baaam!


Hal yang sama sekali tidak terduga 'Tanganku patah, bahkan tulang punggungku sepertinya remuk, Hanya dengan satu pukulan saja. Pedenya aku meremehkan tubuh kecil itu'


Dia mencoba bangkit namun tidak bisa. Sedang Zai terus melangkahkan kakinya ke arah orang itu. Dengan dominasi yang begitu terasa. Seperti langkah kakinya menggetarkan jiwa.

__ADS_1


Dia menatap rendah orang yang terbaring dengan nafas yang sudah tidak stabil itu. Zai mengangkat kakinya cukup tinggi "Aku tidak memerlukan pengikut yang telah menyentuh wanitaku" Ucapnya lalu menginjak kepala orang itu hingga pecah.


Entah bagaimana mungkin sebuah kaki menginjak kepala bisa memecahkan kepala tersebut. Namun hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin jika seseorang memiliki kekuatan yang istimewa.


__ADS_2