Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Akhir


__ADS_3

Pertarungan di tempat itu kian memanas. Matahari sudah hendak tenggelam namun kilatan dan pijaran api yang membakar hutan di pulau itu terus menyala, berkobar, menari menyaksikan pertarungan ini. Jika ada lagi orang yang kebetulan berada di tempat itu dan berhasil membuat video untuk akun sosial media miliknya. Pasti akan langsung banyak yang like dan subscribe seperti contoh ketika melawan naga Jun Bai di masa lalu.


Ada dua orang yang sangat kebetulan sekali berada di tempat itu. Namun kini mereka sangat makmur dan menjadi kaya bahkan sekarang memiliki resto yang besar. Sedangkan yang satunya menjadi pengelola tempat wisata dan menikmati hasil sebagai seorang yang dikemukakan atas kebaikannya.


Itulah kebaikan. Sekecil apapun yang terlihat akan menjadi besar jika kita ikhlas.


Kembali ke medan tempur yang sudah porak-poranda. Kini keduanya terengah, sama-sama membuka jarak dalam pertarungan jarak dekat. Mengambil nafas untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada pembicaraan yang hanya akan sia-sia saja.


Tempat yang awalnya asri berubah menjadi medan api. Seperti gunung yang meletus, api menyebar disana sini. Kebakaran hutan menaikan asap yang membumbung tinggi.


Brian atau bisa juga disebut monster mata tiga kini meraung dengan mulutnya yang lebar setelah cukup banyak menyerap Qi alam yang berada di pulau itu.


Mata matanya mengeluarkan cahaya seperti laser ganas. Namun Zai melemparkan perisai. Tiga perisai lebih tepatnya untuk menghadang tiga laser yang dengan cepat mengarah kepadanya.


Setelah itu dia membeli Tank dengan senjata laser pula. Dia langsung melompat masuk ke dalam setelah Tank itu muncul di hadapannya.


Kini keduanya mengadu laser. Entah laser siapa yang terkuat?


Laila melayang diudara dan duduk santai menyaksikan pertarungan jarak jauh menggunakan laser sebagai senjata. Kekuatan moderen yang tak perlu menggunakan Qi. Melawan pengguna Qi. Jelas Zai diuntungkan. Meski kalah dalam tingkatan. Itulah yang kini masih membuatnya dapat bertahan walaupun sedikit banyaknya ada luka yang didapatkannya.


Namun lawan juga bukan tidak mendapatkan luka. Sesi laser berakhir.


Zai keluar dari Tank dan menendangnya hingga terbang ke arah Brian. Namun hal itu ditahan oleh kedua telapak tangan. Tetapi Zai sudah bersiap. Dia melemparkan Bom atom yang langsung meledak jika mengenai tanah.


Boom! Ledakan besar tercipta ditempat itu. Tapi sayang Brian masih bisa bertahan.


Zai menarik nafas yang dalam dan menyeka keringat yang bercampur darah di kepalanya.

__ADS_1


Brian menendang tank yang hanya tersisa besi karat tak berguna setelah ledakan itu. Perlahan dia berjalan organ tubuhnya pun kembali seperti semula. Padahal sebelah dari dadanya sebelumnya hilang akibat ledakan itu. Namun regenerasinya tergolong cukup cepat dan itu memulihkan kekuatannya pula.


Zai mengeluarkan RPG dan menembaknya hingga lubang besar tercipta di tubuh Brian dan langsung menumbangkannya. Namun sedetik kemudian dia bangkit kembali. Seperti memiliki ajian pancasona yang legendaris.


"Sistem, apakah kau masih belum bisa menemukan kelemahannya? Jika terus begini tidak akan ada akhirnya. Atau aku yang akan menjadi akhir cerita"


[Ting… jangan biarkan tubuhnya menyentuh tanah dalam beberapa menit setelah kematian. Maka dia tidak akan bangkit lagi. Tapi itu hanya analisa saja jangan dijadikan acuan] jawaban Sistem sangat tidak meyakinkan. Namun jika tidak dilakukan dan dicoba tidak ada yang tau. Sebab dia sudah banyak menguras poin tukar untuk membeli macam-macam benda dan senjata untuk menahan gempuran lawan.


Perbedaan tingkatan memang sangat terasa, entah mengapa ranah dari Brian tidak ditahan oleh peraturan dunia. Sedangkan dia ditekan hingga ranah bumi tahap awal saja. Seolah dia tidak disayangi surga.


Zai menerima saran dari sistem. Dia terus melambaikan tangannya. Dengan jubah dewa Api dia terbang dan melayang di udara. Lambaian tangannya berisi beberapa formasi yang berlapis. Dia ingin ketika monster itu mati darah ataupun dagingnya satu pun tidak akan menyentuh tanah. Sembari menghindar dari serangan yang dilakukan oleh Monster itu, Zai harus berserah mengorbankan tangannya agar semua Formasi tersambung di udara.


Argh! Teriakannya cukup nyaring. Laila berdiri dan langsung bergerak dari duduknya dan menangkap tubuh Zai yang terpelanting. Namun ada senyuman yang tertampil meski sakit di tangan kirinya yang hilang begitu menyiksa.


"Aktifkan!" Perintah Zai. Seketika udara menipis di sekitar Brian. Dan dia terperangkap dalam Formasi kubus segi empat yang terus mengecil seperti jinton.


Cling! Jinton itu semakin mengecil lalu menghilang di kehampaan.


Zai menunggu beberapa saat seraya menarik nafas perlahan dan mengalirkan Qi ke seluruh tubuhnya untuk meringankan sakit.


Lalu melambaikan tanganya. Sebutir pil penyembuh muncul. Segera dia mengayunkan ke mulut dan mengkonsumsinya.


Tiga tarikan nafas. Lukanya mengering. Namun tangannya tidak kembali. Itu menyedihkan, tetapi dia cukup puas dengan hasilnya.


[Ting… Selamat tuan telah membunuh Monster ranah raja Langit mendapatkan tubuh spesial]


[Ting… selamat tuan telah menghancurkan Geng mafia Black Devil, mendapatkan perusahaan terbesar di dunia]

__ADS_1


Setelah mendapatkan notifikasi. Zai barulah yakin bahwa monster itu telah dilenyapkan dari muka bumi.


"Bawa aku kembali ke kediaman Hendri!" Pinta Zai kepada Laila.


Laila mengangguk dan mengibaskan tangannya. Pintu spasial terbuka.


[Ting… konsumsi poin sebesar 50000 Poin tukar untuk membuka pintu Spasial di konfirmasi. Sekarang Poin tukar anda tidak mencukupi, demi keselamatan tuan rumah. Kurangnya poin akan dipinjamkan dan diharap bayar secepatnya]


Zai merasa sakit di dadanya ketika mendengar notifikasi itu. Namun dia harus kuat dan bertahan.


Segera mereka sampai diranjang. Laila membantu Zai untuk berbaring dan melepaskan semua pakaiannya.


Seminggu telah berlalu begitu saja. Dengan Zai yang masih terbaring diranjang. Meski dia sudah menelan Pil penyembuh. Namun luka dalamnya masih memerlukan waktu untuk sembuh. Bahkan tubuhnya yang kini kehilangan tangan kiri masih lemah.


Hanya Laila yang keluar masuk kamar dan mengambilkan makan. Tidak seorangpun yang diizinkannya untuk memasuki kamar itu, pengecualian untuk Hendri.


Zai bangun dan duduk di tepi ranjang yang menghadap ke cermin. Dia dapat melihat bahu kirinya yang kosong tanpa lengan.


"Apakah aku masih bisa memiliki tangan lagi?" Gumamnya.


Dia berdiri dan mencari pakaiannya. Lalu keluar dari kamar, Hendri yang ingin mengetuk pintu tidak jadi. Karena pintu sudah terbuka.


"Ada kabar baik tuan muda!" Seru Hendri seraya menatap lengan Zai yang tidak ada. Dia merasa sedih melihat tuannya seperti itu. Tapi tidak ingin menunjukan kesedihannya yang dalam.


"Kabar apa Hen?" Tanya Zai. Dia berjalan menuju ruang tamu.


Hendri memanggil pelayan untuk membuatkan minuman. Lalu dia mengikuti Zai. "Inc Group sekarang tertekan oleh perusahaan Stairway Entertainment" kata Hendri dengan gembira

__ADS_1


__ADS_2