
Dua orang itu melihat dengan jelas seorang pemuda yang berada di bibir pantai sedang terlentang kelelahan dan memejamkan mata.
"Oh no, jangan sekarang,Ku mohon!" Ponselnya kehabisan daya dan tak bisa lagi menggunakan kamera. "Sial! Mengapa disaat seperti ini. Bro mana ponselmu?" Tanya sang kawan yang sudah tak sabar ingin mempublikasikan orang yang dianggap dewa itu..
Teman di sebelah mulai menjamah tubuhnya sendiri namun tidak mendapati ponselnya. Bahkan dia baru sadar tasnya tidak ada pada tubuhnya.
"Oh tidak" ucapnya menepuk kepalanya "Ponselku dalam tas. Sekarang tasnya hilang" sahut sang kawan.
"Ya nasib, memang bukan saatnya kita menjadi terkenal" orang itu menggeleng kepala
"Lebih baik kita mendekatinya, siapa tau dia butuh pertolongan, ingat Seperti di film! seseorang yang menemukan dewa, bisa menjadi kaya karena dewa itu setidaknya bisa mengubah nasib kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ayo bergegas!"
Mereka berdua dengan perlahan mendekat, karena masih ada jejak keraguan di hati mereka. Takutnya! Orang yang akan ditolong malah menyakiti mereka.
Zai masih terlentang dengan mata terpejam, dia mendengar ada langkah kaki yang mendekat, namun semua bagian tubuhnya sangat sakit hingga dia tidak bergerak sama sekali.
"Dia masih hidup Bro!" Kata sang teman yang mengulurkan ujung jarinya yang cukup panjang ke hidung pemuda itu.
"Syukurlah, kita bantu dia, Kita angkat ke tempat yang lebih tinggi. Ayo cepat!" Sang kawan memaksa.
"Apa kau tidak takut Mar, jika nanti dia menyakiti kita? Bahkan bisa membunuh kita, Naga saja mati di tangannya"
"Jika memang nasib kita buruk, sejak awal pertarungan mereka di pulau ini, kita akan mati! Tapi kita berdua sehat-sehat saja, itu artinya sang pengatur kehidupan ingin kita menolong pemuda ini. Entah dia berasal dari mana, yang terpenting dia sama seperti kita bentuknya. Meskipun soal kekuatan itu diluar nalar manusia" ucap Umar mengingatkan Fahri.
"Baiklah, kau sahabat terbaik yang tak pernah tidak menolong orang, semoga niat baikmu akan menjadi berkah" kata Fahri. Dia mulai mengangkat bagian bahu Pemuda itu, sedangkan orang yang bernama Umar pada bagian kaki. "Dia berat juga ya, untuk ukuran tubuh seperti ini" kata Fahri lagi yang mengeluarkan tenaga extra untuk mengangkat tubuh Zai.
__ADS_1
Mereka berdua hanyalah para pencari ikan di laut. Mereka berlayar menggunakan perahu kecil dengan peralatan sederhana dan mampir di pulau itu untuk istirahat. Namu suatu hal yang tak mengenakan terjadi. Namun hal itu juga sebagian membawa berkah, akun channelnya yang tak pernah dilirik oleh orang lain, sekarang banyak yang melihat hanya dengan satu video yang berdurasi tidak kurang dari tiga puluh menit. Dan jutaan kali penayangan serta ratusan ribu subscriber. Hal itu tidak pernah terduga sebelumnya.
"Disini saja, lebih nyaman" kata Umar yang menurunkan kaki Zai di rerumputan yang cukup tebal. Begitu pula dengan Fahri yang menaruh perlahan kepala pemuda itu. "Fahri, kau ambil air minum di perahu! siapa tau ketika dia sadar, dia haus"
"Baiklah, apa kau tidak takut aku tinggalkan bersama dia?"
"Aku berani!" Sahut Umar dengan mantap.
"Baiklah kalau kau memang yakin. Aku akan ke perahu dulu" Fahri segera mencari jalan menuju perahu miliknya yang ditambat pada satu pohon kecil.
Setelah Fahri pergi, Zai membuka matanya dan berkata "Terima kasih banyak atas kebaikan kalian berdua"
Umar terkejut dan langsung melompat mundur ketika sebuah suara terdengar di telinganya.
"Kau sudah sadar dewa?" Tanya Umar sedikit terbata.
"Aku dan temanku hanya ingin selamat saja, itu lebih baik. Dari pada memilih harta tapi mati" sahut Umar dengan pendirian yang kuat.
"Aku suka dengan karaktermu, jika aku bisa kembali ke kediamanku, aku akan memberikan hadiah yang besar kepadamu, tentu untuk kawanmu juga" kata Zai sambil tersenyum.
Umar melambaikan tangannya. "Itu tidak perlu" katanya.
Tidak berapa lama terlihat siluet manusia berjalan gontai dengan kepala menunduk. Tidak ada apapun yang dibawanya. Dengan lemah dia berkata tanpa melihat dua orang sedang berbincang "Perahu kita hancur Mar. Bagaimana kita pulang?" Ucap Fahri menunduk. Dia Pun duduk dan terkejut ketika menyadari bahwa yang duduk ada tiga. "Eh" kata itu keluar dari mulutnya dan terhenti.
"Berarti kita harus hidup disini. Hingga ada yang menemukaN kita di pulau ini" kata Umar dengan santainya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, kamu enak masih lajang. Sedangkan aku punya anak istri yang nyariin jika aku hilang, disangkanya nanti aku cari istri baru seperti bang toyib yang tak pulang-pulang" Fahri kesal dengan jawaban Umar yang tak memikirkan dirinya.
Tapi jika dipikirkan dengan baik, apa yang dikatakan Umar tidaklah salah, sebab mereka sekarang terdampar dan cukup jauh dari pemukiman.
"Jika boleh tau, kita sekarang berada di wilayah mana?" Zai bertanya menghapuskan ketegangan mereka berdua. Dimana Umar menertawakan Fahri yang memiliki ekspresi wajah yang lucu menurutnya.
"Kita berada di sumatra. Apa kau tau sumatra?" Umar menyahut dan bertanya
"Tentu aku tahu, aku berasal dari banjarmasin. Dan sekarang berdomisili di jakarta" sahut Zai
Dua orang itu saling pandang dan ada rasa tidak percaya di hati mereka ketika mendengar Zai mengatakan kota kelahiran serta tempat tinggalnya "jadi kau juga manusia bumi?" Giliran Fahri yang bertanya.
"Tentu, menurut kalian aku berasal dari mana?" Zai yang bertanya kini dan menatap keduanya yang masih melongo tidak percaya.
"Untuk pulang kalian tenang saja, aku bisa membawa kalian terbang, tapi tunggu kekuatanku pulih lebih dulu. Tapi ingat. Jangan kalian ceritakan pertemuan kita ini kepada siapapun. Karena ini rahasia besar. Yang jika orang lain tahu, kalian tidak akan bisa tidur untuk selamanya" kata Zai.
"Alamak, tak bisa tidur selamanya, lebih baik mati aku" kata Fahri.
Umar langsung mendorong kepala Fahri dan berkata. "Jangan ngasal kalau bicara"
Zai tertawa melihat kelakuan mereka. Setelah itu dia diam dan menarik energi alam dan mengisi ruang yang kosong di dalam tubuhnya, sekarang dia benar-benar mengerti tentang energi alam yang bukan hanya berupa kekuatan bertempur namun juga bisa dipakai untuk penyembuhan luka.
Bisa dikatakan saat ini tidak ada lagi lawan baginya.
'Aku seperti ingin pergi kedunia lain, menjelajahi alam semesta dan mencari sesuatu yang baru' batinnya berpikir cukup lama. Tapi setelah itu dia urungkan. Karena ada begitu banyak wanita yang akan dia tinggalkan.
__ADS_1
"Aku merasa bisa hidup seribu tahun. Tapi jika seperti ini, aku akan kehilangan orang terkasih satu persatu nanti, apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya.
Dua orang itu tertidur di samping Zai, sedang Zai menatap rembulan dan bintang..