
"Ingat lah, ini peringatan terakhir dari bos kami, Jika ada ancaman lain dari pihak kalian, Maka bersiap lah kami akan menghabisi hingga akar nya" Udin mengancam mereka dengan tatapan tajam nya dan dengan gaya menggorok leher.
Mereka yang kesakitan sungguh ketakutan, Karna jika itu terjadi maka habis seluruh keturunan.
"Kita tinggalkan tempat ini" Ucap Udin kepada anggota nya yang lain. Mereka pun masuk kedalam mobil dan dua mobil itu meninggalkan dua belas orang yang patah kaki dan satu orang yang pingsan karna tak tahan melihat adegan berbahaya tersebut. Mungkin nantinya otak nya akan terganggu..
"Kita akan kemana bos?" Tanya Udin yang berada di samping sopir.
"Cari tempat makan saja" Sahut nya..
Udin menatap Jalu sang sopir dan Jalu mengangguk tanda faham.
Rumah makan Padang Sederhana..
Dua buah mobil parkir di depan nya, Turun sebelas orang dan mereka mencari tempat duduk yang nyaman.
Pelayan mendatangi meja mereka. Udin sengaja memilih meja panjang agar memudahkan mereka untuk makan bersama.
"Pesanan nya apa pak" Tanya pelayan,
"Bos mau makan apa?" Tanya Udin yang berada di samping Zai.
"Daging Rendang saja, Minum es jeruk" Sahut nya lalu memainkan ponsel nya.
"Daging rendang jadi dua porsi dan minum nya es jeruk" Ucap Udin kepada pelayan tersebut.
"Yang lain nya mau pesan apa?" Tanya pelayan lagi yang masih memegang kertas dan pulpen.
"Ikan Kuwe bakar madu satu"
"Cumi pedas saus tiram satu"
"Jadi kan dua cumi pedas nya" Ucap orang di samping nya.
"Tongkol Jontor dua"
__ADS_1
"Udang pedas manis dua"
"Ati ampela kentang satu"
"Tenggiri asam pedas satu"
"Balado cumi asin satu,
"Minum nya Pak?" Tanya pelayan itu lagi.
"Sama kan saja semua nya" sahut orang yang duduk lebih dekat dengan pelayan itu.
"Baik, mohon bersabar pesanan anda akan segera di hidang kan" ucap nya ramah sambil tersenyum lalu meninggalkan sebelas pria itu.
"Din bagaimana persiapan untuk menyerang Tiger White?" Tanya Zai menghapus keheningan di antara mereka.
"Semua sudah siap bos, yang tertinggal hanya kita yang ada di sini dan Ketua Torax yang sedang memantau perkembangan di sana" Sahut Udin.
"Bagus aku suka cara kerja kalian, Kalian cepat dalam bertindak, siapa saja yang mempunyai keluhan datang kepadaku, Aku bersedia membantu dalam batas kewajaran" ucap Zai sambil menatap sepuluh orang yang ada di sekitar nya itu.
"Terima kasih Bos, semoga bos panjang umur" ucap mereka kompak.
Hampir sepuluh menit lagi berlalu tidak ada perbincangan di antara mereka semua.
Selesai makan Jalu berkata sambil menatap serius Bos nya "Bos jika nanti dalam penyerangan ini aku gugur, Aku ingin bos menyekolahkan anakku hingga dia lulus SMA. Sekarang dia masih SD" Jalu mengeluarkan isi hati nya, Dia senang ketika mendengar bos nya akan mendengarkan keluhan anggota nya. Itu adalah pemimpin yang peduli dengan anggota nya, Semoga bos nya ini tidak hanya iming iming janji yang menggebu yang tak seperti cangkang kosong yang tiada isi nya atau gong yang hanya nyaring bunyi nya.
"Akan ku pastikan kalian tidak ada yang akan mati" Ucap nya sambil tersenyum "kalian hanya bertugas menggertak saja. Jangan libat kan diri dalam pertarungan, agar tidak menjadi Korban" Kata nya lagi.
Semua orang yang ada disana menatap kagum dengan pemikiran bos nya, Dia yang memikirkan bagaimana anak buah nya itu lah seorang pemimpin yang bijaksana.
Zai mendial kontak Alisya setelah dering beberapa kali telopon pun tersambung "Kamu dimana? Apakah masih sama Aisya?" Tanya nya
Suara lembut di ujung telpon terdengar, "Masih di Apartemen mu, Seperti nya kami akan bermalam disini" Sahut nya.
"Baik lah, Nanti malam aku akan kesana" Ucap Zai.
__ADS_1
"Ngapain?" Tanya Alisya.
"Memakan kalian berdua lah" Ucap Zai lagi lalu dia menutup telpon nya.
Lalu dia menelpon lagi, Kali ini adalah Handoko setelah tersambung Zai langsung berkata "Jika bisa besok carikan gedung untuk membuat perusahaan di bidang keamanan, Aku ingin membawa Organisasi Macan Hitam ke tarap yang lebih baik"
"Baik bos..! Bos, obat nya sangat manjur, Sampai sampai istri saya kencing berapa kali" Ucap nya sambil tertawa kencang, Dia lupa aib tak boleh di bicarakan..
"Apa kamu tak malu mengatakan itu" Ucap Zai yang menggelengkan kepala nya lalu memutus kan telpon nya. Zai melihat Jam di tangan kanan nya. "Sudah pukul 18:30, Ayo berangkat. Din telpon Torax untuk langsung menunggu kita di depan jalan menuju Markas Tiger White." Ucap nya lalu masuk lagi ke salah satu mobil.
Udin mengurus pembayaran dengan Kartu ATM pyang di berikan oleh Zai.
Setelah mengelesaikan nya, dia pun masuk ke mobil dan menyuruh Jalu untuk berangkat menuju Markas Tiger White..
Sedangkan di dalam markas nya, Lebih tepat kamar nya, Ketua Tiger White, sedang santai di temani oleh wanita nya yang sangat menggoda. Tidak terlalu cantik juga tidak lah jelek tapi cukup menggoda dengan tubuh matang nya dan pakaian minim nya, Menonjol kan dua sisi yang sedap di pandang mata.
Dia keluar setelah melakukan perang dengan wanita itu, Dan mendapati seseorang yang sudah sering dia lihat, "Ada apa kamu kesini?" Tanya nya kepada Angga yang hampir setengah hari menunggu hanya untuk bertemu dengan Hendra, sang ketua Tiger White.
"Aku membawa pesan dari Ketua Anggoro, Dia meminta tolong untuk ketua Hendra membantu nya dalam mengatasi Torax Dan semua anggota Macan Hitam" Ucap nya Sopan sambil menatap Mahendra yang sedang minum bir itu.
Mahendra berjalan mendekat lalu duduk dan menyilangkan kaki nya lalu menegak habis bir kaleng yang ada di tangan nya dan meremas kaleng nya lalu membuang ketempat sampah.
"Apa dia tidak bisa mengatasi nya sendiri, Jadi meminta aku untuk turun tangan Hah!" Sambil tangan nya menggemprak meja.
Angga jelas terkejut, Meski pun dia tau tempramen Hendra memang begitu ada nya.
"Anggota kami sebagian di ambil oleh Macan Hitam, Jadi sekarang kami kekurangan orang untuk melawan Torax dan kelompok nya" Sahut Angga pelan.
Terlihat Mahendra berpikir layak nya pemikir ulung.
Braaak...! Pintu di dorong sangat keras, Dua orang itu langsung menatap ke arah pintu, Terlihat seseorang berdiri disana hampir kehabisan nafas nya.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Mahendra yang wajah nya merah karna marah, ini pertama kali nya ada orang yang melakukan itu pada pintu markas nya semenjak dia membangun Tiger White.
Orang itu terlihat mengontrol nafas nya terlebih dahulu sebelum menyampaikan sesuatu yang membuat nya berlari dari pintu markas depan ke pintu Markas dalam yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Torax Ada disini!" Sontak pernyataan itu mengejut kan Mahendra dan juga Angga yang tak menyangka, Baru saja di bahas tentang bagaimana akan mengatasi mereka, Rupa nya mereka yang menyerang lebih dulu.
"Aku penasaran, Apa yang membuat nya berani bertingkah padahal sudah tua!"