
Sang dokter sungguh terkejut, Karna pasien nya ini seperti tidak pernah sakit, Padahal sudah berada hampir satu tahun di ranjang rumah sakit ini.
'Ini luar biasa, Semua nya sehat, detak jantung dan denyut nadi normal' Batin nya. Kemudian dia menatap Ferdinan, "Apa yang sebelum nya terjadi, Apakah ada sesuatu yang belum aku ketahui?" Tanya nya
"Memang nya kenapa dok, Apakah adik ku belum sembuh?" Ferdinan pun tidak sabaf bertanya.
"Dia sudah sembuh dan sehat, dia bisa pulang kapan saja, Tapi aku penasaran apa yang membuat nya bisa sembuh dengan mudah! Padahal rumah sakit sudah meneliti penyakit nya sangat lama dan belum menemukan obat nya" Ucap dokter itu.
Mendengar kalimat itu tentu Ferdinan sangat bahagia, Lalu dia menatap Zai dengan penuh pemujaan, "Sebelum nya Bos saya ini memberikan tusukan jarum pada kaki nya, dan hasil nya seperti ini dok!" Ucap Ferdinan yang menatap kembali dokter itu.
Dokter itu berjalan ke arah Zai lalu mengulurkan tangan nya, "Boleh kah aku tau kamu dokter dari mana?"
Zai menjabat tangan dokter itu dan menjawab pertanyaan nya "Aku bahkan tidak sekolah kedokteran" Sahut nya jujur.
Dokter itu mengerutkan kening nya, "Lantas kenapa kau yakin, menusuk kaki nya dengan jarum bisa membuat nya sembuh?"
"Aku pernah belajar pengobatan tradisional, Jadi aku memahami sedikit penyakit nya" Sahut Zai dengan berbohong sedikit guna untuk tidak di tanyakan lebih banyak.
Braaak.. Pintu terbuka, Terlihat wanita yang cukup dewasa melenggak dengan anggun nya memasuki kamar pasien itu.
Empat orang yang berada di dalam terkejut melihat kedatangan wanita itu, tapi satu orang tidak, Ya dia Zai tak mungkin terkejut melihat Juli datang keruangan itu. Meski dia tak tau ada urusan apa dia.
Dokter itu menyapa juli dengan Hormat, karna dia tau wanita yang ada di hadapan nya ini adalah Wakil Dirut di Rumah Sakit dia bekerja sekarang. "Salam Bu Dirut" Sapa nya
Juli mengangguk saja lalu mendekat ke arah Zai dan bertanya "Apakah kamu ada waktu?" Ucap nya.
"Tentu ada untuk Bu Dirut yang cantik, Tapi kenapa kau tau aku berada di sini?" Sahut Zai Sambil bertanya.
__ADS_1
"Itu hanyalah kebetulan yang pas saja, Mari ikuti aku" Pinta nya dengan sopan dan terlihat malu.
Zai mengangguk lalu menatap Ferdinan, "Aku tinggal dulu, Nanti jika kamu ingin pulang bawa saja mobil ku" Ucap nya lalu pergi dengan wanita cantik yang berjalan di depan nya. Dia menatap indah lenggokan pantat yang seakan beradu ketika berjalan. Sungguh membuat dahaga di tenggorokan hanya dapat menelan ludah untuk mengurangi kering kerontang.
Entah di sengaja atau tidak oleh Juli, Tapi yang pasti Zai cukup menikmati pertunjukan itu, Meski baru sebatas menikmati dalam pandangan..
Juli memimpin menuju ruangan nya, Entah apa yang dia ingin kan, Zai belum bisa membayangkan nya..
"Silah kan duduk" Ucap nya setelah mendorong pintu, setelah melihat Zai duduk dia pun langsung bertanya "Bisa kah aku minta tolong?" Tanya nya lembut sambil menuangkan teh dan menyerahkan nya.
"Jika bisa maka akan ku bantu!" Selesai menyahut dia menyesap teh yang tercium wangi melati. "Nikmat" Ucap nya lagi lalu meletak kan teh kembali di meja dan bersiap mendengarkan apa yang akan di ucap kan oleh Juliana.
"Sebenar nya aku malu mengatakan nya, Tapi aku tidak punya teman laki laki, Jadi aku hanya berharap Bos mau menolong ku!"
"Katakan saja yang sebenar nya" Pinta Zai yang tak ingin mendengar cerita yang berbelit belit
"Jadi kamu mau aku menjadi pacar bohongan kamu?" Tanya Zai yang sudah mengerti maksud dari ucapan Juli.
Juli mengangguk dan berkata "Iya" untuk memastikan tebakan Zai itu benar.
"Soal itu aku bisa membantu, Atur saja kapan di mulai asalkan jangan malam ini, Aku ada kesibukan" Ucap Zai yang mencium bau bau nikmat yang akan di dapat dengan menjadi pacar bohongan. 'Jangan kan bohongan, yang Real saja aku tak menolak' Batin nya
"Telpon saja nanti lagi jika kamu perlu sesuatu, Aku harus pergi karna ada banyak urusan yang belum terurus" Ucap Zai lagi yang ingin menghilang kan kecanggungan di antara mereka berdua..
"Baik pak Bos, Terima kasih sudah mau menolong ku, Besok malam akan di adakan Reuni SMA ku di KTV D.CLUB, Tolong jemput aku di rumah" Ucap nya malu malu mau.
Zai melambaikan tangan nya lalu keluar dari ruangan itu, Dia berjalan sambil menggunakan Ponsel nya Hingga tak melihat seseorang berjalan cepat ke arah nya dan mereka pun bertabrakan.
__ADS_1
"Aduh.." suara wanita yang terjatuh, Zai langsung mengulurkan tangan nya dan memasuk kan ponsel nya di saku celana.
"Maaf aku tidak sengaja" Ucap Zai
Wanita itu menyambut uluran tangan Zai dengan tangan kiri nya, Kemudian dia berdiri dan melihat siku kanan nya yang berdarah.
"Seperti nya aku tak bisa nyetir motor, gimana nih, Mana aku harus bergegas pulang lagi" Ucap nya pelan tapi itu di dengar oleh Zai.
"Aku akan bertanggung jawab, mana kunci motor nya, biar aku yang mengantarkan!" Mendengar wanita itu berkata seperti itu dia pun berinisiatif untuk mengantarkan, Meski dia merasa ada kejanggalan, Terjatuh nya pelan tapi darah yang ada banyak, tidak masuk akal sama sekali. Tapi dia tetap berpikir Positif,
Wanita itu mengambil kunci motor di saku belakang celana nya. Lalu menyerahkan nya kepada Zai dan menunjuk kan yang mana motor nya, Itu terpakir dekat dengan mereka.
Zai memasuk kan kunci ke lubang kunci motor metic NMAX dan wanita itu duduk di belakang.
Motor melaju sesuai arah yang di tunjuk kan oleh wanit itu, Tanpa curiga Zai melajukan motor nya hingga ke tempat sepi, mereka di cegat oleh sekelompok preman yang terdiri dari sepuluh orang yang bersenjatakan pemukul.
Lalu muncul dua orang yang cukup Familiyar. Zai menurun kan standar motor NMAX itu lalu berdiri dan berkata "Rupa nya dua orang yang ingin merasakan lagi pukulan ku, Mungkin jika kalian tidak bisa lagi berjalan baru kalian akan sadar bahwa salah memilih lawan" Ucap Zai yang masih tenang meski di hadapan mereka ada dua belas orang, Karna dia masih punya pistol di Inventory sistem nya dan juga mempunyai Sembilan Jarum Pembangkit yang bisa di gabung kan dengan teknik bela diri.
Wanita yang ada di atas motor pun turun dan mendatangi Firman yang langsung merangkul nya.
"Haha haha, Kau cukup sombong jadi manusia, Di hadapan kematian kau bahkan tidak gentar, Aku kagum kepada mu" Ucap Andre yang tertawa bahagia karna akan menikmati menginjak nginjak manusia yang telah mengambil pujaan hati nya itu.
Zai mendengus melihat wanita itu berlari ke arah Firman dan kejanggalan itu terjawab sudah. "Hoho rupa nya kau sudah merencanakan ini semu, Meski kamu membawa banyak orang kali ini, tapi itu tidak bisa menentukan siapa yang akan mati" Ucap Zai mengeluarkan Jarum perak di balik telapak tangan nya.
"Maju...!" Perintah Andere kepada sepuluh orang itu.
"Aku saja yang maju, aku tak ingin di katakan menindas yang lemah jika harus melawan satu orang dengan sepuluh orang" Ucap salah satu dari sepuluh orang itu. Dia maju dan melayang kan tinju nya, Dia yakin hanya dengan satu serangan tunggal nya ini, Lawan akan terbantai..
__ADS_1