
Kota Z di waktu malam terlihat begitu indah. Dengan gemerlap cahaya yang benderang menerangi setiap sisi jalan.
Sebagian orang yang menikmati pemandangan disana sudah pulang dan bersiap untuk hari selanjutnya. Mengambil uang membeli sebuah rumah yang besar di kota Z tersebut. Sebagian lagi masih bertahan disana.
"Aku akan kembali ke duniaku, sebab misi sudah berakhir. Aku akan berkunjung lagi nanti untuk memeriksa bagaimana kau memimpin rakyat. Jika ada hal yang tidak baik. Maka aku akan menggulingkannya" kata Zai seraya menepuk bahu Kang Hong. "Carikan aku beberapa orang yang bisa diandalkan dan kamu percayai untuk mengelola semua aset yang aku tinggalkan ini. Dan gajih mereka dengan harga tinggi. Aku serahkan kepadamu" tambahnya.
"Kau tenang saja. Terima kasih atas segalanya berkatmu. Aku bisa menduduki tahta ini tanpamu aku masih akan terpuruk hidup. Jadi hidupku ini seperti milikmu saja. Aku akan membuatkan brangkas besar untuk menyimpan semua uangmu. Dan kapanpun kau akan mengambilnya maka akan aku buka"
"Baiklah. Nona Qin! Jika dia macam-macam beri jentikan ditelinga" ucap Zai seraya tertawa dan melambaikan tangannya. Pintu spasial sudah terlihat karena dibuka oleh Laila. Keduanya pun memasuki pintu spasial itu dan menghilang seperti tidak pernah ada didunia itu.
Mereka tiba disebuah kamar besar. Zai langsung pergi ke kamar mandi. Seolah bangun dari tidur panjang. "Sepertinya kekuatanku tertahan oleh peraturan dunia. Walau begitu pengalaman dan niat membunuh masih dapat aku rasakan dan dipergunakan untuk menakuti lawan"
"Laila! Apa kamu tidak mandi?" Tanya Zai yang keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya.
"Aku akan mandi!" Segera dia melepaskan perlengkapan pakaiannya. Tidak ada sehelai benangpun yang melekat ditubuh Laila saat itu. Membuat jakun Zai naik turun. Ludah kering tertelan.
"Apa kau tak bisa melepaskannya didalam? Membuat aku tak bisa menahan tongkatku saja" ucap Zai yang melihat miliknya bangun dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh. "Padahal baru dimandiin. Seharusnya dia kedinginan, ini malah melihat pemandangan panas. Tapi hanya bisa memandang. Kasihannya dirimu" ucap Zai kepada tongkat pusaka miliknya seraya menggelengkan kepala mengusap dibalik handuk yang dipakainya.
Dia meredam hasrat dan mengambil pakaian di inventory miliknya. Lalu keluar kamar setelah menyelesaikan ritual di depan cermin.
__ADS_1
Ada begitu banyak yang berubah. Dari warna yang awalnya hanya didominasi putih saja. Kini terasa lebih hidup dengan beberapa warna. Semua tampak klasik.
Zai berjalan ke arah dapur. Disana belum ada pembantu. Menurutnya. Tapi ketika dia sudah sampai di dapur. Ada beberapa wanita sedang membuat sesuatu. Dia pun bertanya. "Apakah kalian pelayan disini?" Tanya Zai dengan sopan.
Lima orang wanita itu menoleh dan satu yang segera berbicara. "Benar tuan muda! Aku tiara kepala pelayan disini dan mereka semua bawahanku. Jadi apapun yang tuan muda inginkan kami akan coba buatkan. Tinggal bilang saja!" Ucapnya dengan nada yang lembut.
Tiara ini tidak terlalu tua. Juga tidak bisa dibilang muda. Dia wanita yang matang dengan umur yang berada di empat puluh tahun. Yang pastinya dia sangat berpengalaman dalam bidangnya. Sebab dia adalah seorang koki profesional di hotel berbintang lima yang ditawari Hendri dengan gaji tinggi sebagai kepala pelayan. melebih tempat dia sebelumnya bekerja menjadi Koki. Meskipun sedikit rendah dalam hal karir tapi gaji yang dia dapat hampir dua kali lipat jadi tak masalah buatnya.
"Buatkan aku makanan indonesia! Dua porsi saja. Setelah matang antarkan ke kamar!" Pintanya. Setelah itu dia kembali menuju kamarnya. Namun dia melihat ada Hendri yang berjalan ke arahnya. Dia pun bertanya "ada kabar apa Hen?" Tanya Zai.
"Hanya ingin memberikan laporan dari hasil pekerjaan rumah ini. Semua sudah beres. Aku mengambil lebih banyak pekerja untuk menyelesaikannya dalam satu hari" ucap Hendri.
Mereka berjalan menuju ruang tamu sembari berbincang santai. Hendri mengambil dua minuman kaleng di kulkas dekat ruang tamu. Memang sengaja kulkas ditaruh disana untuk memudahkan mengambil menuman dingin yang tersedia didalamnya. Satu dia berikan kepada Zai.
"Ooh perusahan besar yang memiliki hampir jutaan orang kariyawan itu? Siapa yang tidak tau tuan Muda. Ada apa memangnya?"
"Dia telah menggertak perusahaanku yang ada di indonesia. Tapi aku memiliki saham mereka sebesar dua puluh persen" Zai mengeluarkan surat yang ditanda tangani oleh Leonardo sebelum kematian pada cincin spasial dijari manisnya. Hendri mengambil surat itu dan membacanya.
"Apakah tuan ingin mengambil dana dari dua puluh persen ini? Jika iya, maka kita akan datang ke perusahaan pusat mereka! Atau tuan bisa menyerahkan semua ini kepadaku saja!?"
__ADS_1
"Nanti saja. Simpan ini sebagai kartu truf. Jika kita buka sekarang perusahaan yang kau bangun disini akan diberi mereka tekanan. Jadi kita akan berjalan perlahan. Ketika sudah hampir sejajar dengan perusahaan mereka. Maka kita sikat saja!
Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah. Membeli sebanyak-banyaknya saham miliki Inc Group. Kalau bisa kuasai tujuh puluh persen atau lebih"
"Tentu tuan. Dengan sumberdaya yang dimiliki oleh Pt Megah jaya abadi yang sudah memasuki seratus besar perusahaan besar secara global. Tuan tak perlu khawatir. Aku juga cukup banyak memiliki koneksi yang bisa diandalkan. Demi mencapai mereka. Aku akan memboroskan uang untuk pembelian tiap persen saham" kata Hendri.
"Baiklah kalau begitu. Satu lagi" kata Zai ketika Hendri berbalik dan akan pergi. Hendri berbalik kembali dan menunggu Zai berkata "cari tau tentang Black Devil!"
"Itu mudah tuan. Nanti akan aku kasih kabar secepatnya bila sudah mendapat informasinya"
Zai mengangguk puas dengan kinerja Hendri. Setelah itu dia benar-benar berbalik ke kamar dan menemukan Laila yang sudah selesai berdandan. "Kamu begitu mirip dengan artis korea!" Kata Zai memuji seraya tersenyum manis.
"Terima kasih atas pujiannya" kata Laila.
[Ting. Selamat: memuji sistem mendapatkan uang sejumlah 10000 USD]
"Haha aku mendapat uang! Mengapa aku tidak begitu senang. Apakah mungkin karena terlalu banyak uang? Membuatku tidak pandai mensyukuri pemberian" gumam Zai.
"Sepertinya begitu tuan Muda. Tuan harus memiliki hati yang besar. Orang yang kaya akan dihargai ketika dia mampu mengkayakan orang lain dengan kekayaannya. Apalagi dengan kedermawanannya membantu sesama manusia yang perlu. Apakah tuan ingat masa dimana tuan belum mendapatkan sistem? Tuan begitu menyedihkan! Jadi sekarang tuan harus menjadi orang baik ketika tidak ada kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Tuan harus menjadi pembeda dengan uang yang tak pernah kurang. Ingat tuan. Setiap tuan mendermakan uang. Maka akan bertambah uang yang tuan muda miliki" terang Laila seraya tersenyum manis.
__ADS_1
Zai mencubit pipi Laila. Dia sangat gemas melihatnya dan berkata "intinya. Jika memiliki kekayaan jangan pelit, Kan?"
"Tuan muda sudah sangat pintar"